Pentingnya Menjadi Muslim Kaffah

Pentingnya Menjadi Muslim Kaffah

oleh: Sri Retno Ningrum (Pegiat Literasi)

Sudah hambir 2 (dua) tahun pandemi Covid-19 melanda negeri ini. Rakyatpun tidak bisa melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Mereka harus memakai masker ketika keluar rumah agar terhindar dari paparan virus Covid-19. Selain itu, pandemi Covid-19 berdampak pada aktivitas ekonomi, pendidikan, pariwisata, sosial, dan sebagainya. Virus tersebut juga mengakibatkan banyak korban meninggal. Ini tentu menimbulkan kesedihan bagi kita semua. Kitapun patut bertanya, kapan pandemi Covid-19 berakhir?

Pandemi Covid-19 merupakan sebuah teguran bagi kita karena selama ini banyak aturan-aturan Allah SWT yang kita langgar. Akan tetapi dengan adanya musibah ini tidak membuat kaum muslim di negeri ini untuk melakukan taubat nasuha serta menjalankan kehidupan sesuai perintah dan larangan Allah SWT, sehingga Allah juga mengirimkan varian baru Covid-19 bernama Omicron. Omicron disinyalir dapat cepat menyebarkan virus, bahkan Menteri Kesehatan, Budi Guradi Sadikin mengumumkan varian Covid-19 Omicron sudah masuk ke Indonesia pada tanggal 16 Desember 2021 lalu.

Di sisi yang lain, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung cukup lama di negeri ini tidak membuat pemerintah untuk fokus menangani pandemi ini, namun penguasa malah lebih condong disibukkan dengan proyek moderasi beragama. Bahkan baru-baru ini, Kemenag (Kementerian Agama) menghimbau kepada satuan kerja di bawahnya untuk memajang spanduk ucapan Natal dan Tahun Baru 2022. Ini tentu menjadi bukti bahwa makin masifnya kebijakan pro moderasi beragama. Tak hanya itu, moderasi beragama juga digencarkan di sektor pendidikan. Hal ini terlihat dalam visi pendidikan Indonesia 2035 yakni membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup, unggul, terus berkembang dan berakhlak mulia dengan cara menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila. Walhasil, dalam tiga dekade visi pendidikan Indonesia menghilangkan kata agama kemudian diganti dengan moderasi agama yang sejalan dengan pemikiran liberal dan sekuler. Maka dari situ akan lahirlah generasi yang tidak mengenal agama. Miris!

Perlu diketahui bahwa, moderasi beragama adalah proyek Barat (kafir penjajah). Mereka tidak menginginkan kaum muslim untuk taat kepada sang pencipta yakni Allah SWT secara totalitas atau kaffah. Mereka pun sadar bahwa untuk mengajak kaum muslim kepada kekafiran adalah hal yang tidak mudah apalagi di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Sehingga Barat (kafir penjajah) membiarkan kaum muslim tetap pada agamanya, namun mereka harus memiliki pemikiran liberal.

Sungguh, kaum muslim tidak boleh terjebak oleh strategi Barat (kafir penjajah) yang disebarkan melalui antek-anteknya yang notabene adalah penguasa. Maka penting bagi kita untuk menyadarkan para penguasa bahwasanya dengan moderasi beragama, kaum muslim akan menjadi muslim moderat. Padahal Allah meminta kita untuk memeluk Islam secara kaffah atau menyeluruh sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 208:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.”

Lebih dari itu, ketika kaum muslim mau tunduk pada aturan Allah SWT secara totalitas, niscaya keberkahan hidup akan dirasakan umat termasuk Allah SWT akan mencabut ‘bala tentaranya’ sehingga kaum muslim bebas dari ancaman virus tersebut dan dapat beraktivitas seperti sediakala. Wallahu’alam Bisshowab.

Exit mobile version