Oleh : Lutfil Hadi
Ramadhan 1441 H ini dijalani umat Islam di Indonesia pada umumnya, kabupaten Kudus kecamatan undaan pada khususnya, dengan suasana yang muram. Semua ini merupakan akibat dari pandemi Covid-19 yang melanda berbagai wilayah di indonesia, tak terkecuali di wilayah undaan. Bahkan masjid tempat peribadatan bagi umat Islam, pun sempat ditutup untuk umum guna mencegah persebaran Corona.
Hal itu dilakukakan lantaran banyak masyarakat desa yang resah karena di Kecamatan Undaan sendiri ada yang positif Covid-19. Melihat desa kutuk, Kecamatan Undaan, kabupaten Kudus, menerapkan pembatasan sosial secara ketat terhadap aktivitas warganya. Kebijakan yang disebut sebagai lockdown ini diambil usai salah satu warganya positif terpapar virus corona. Pasien yang dinyatakan positif oleh Dinkes diketahui seorang laki-laki berinisial RY dan saat itu dirawat di rumah sakit Mardi Rahayu Kudus. Setelah dirawat beberapa hari, malam tadi (30/04) sekitar pukul 21.00 WIB pasien akhirnya meninggal. Berdasarkan temuan ini, masyarakat Undaan, khususnya Pemerintah desa Kutuk serta Satgas desa menambah kesiagaan dengan memberlakukan penjagaan ketat pada wilayah tersebut. Bahkan di depan gapura masuk desa telah diberi spanduk bertuliskan lockdown. Namun demikian, pemberlakuan status lockdown tersebut tidak serta-merta mematikan aktifitas sosial kemasyarakatan di desa Kutuk. Terlihat sebagian warga masih bisa beraktifitas namun tetap dalam pemantauan, dan penjagaan ketat.
Kebijakan pembatasan dan pengawasan aktivitas warga disesuaikan dengan protokol kesehatan. Langkah ketat penerapan social dan physical distancing tersebut bentuk ketegasan pemerintah desa, agar warga melaksanakan aktivitas sesuai imbauan pemerintah dan mengacu protokol kesehatan. Tak hanya di Desa Kutuk, langkah sama juga diterapkan di desa lain di wilayah Kecamatan Undaan. ” Desa Kutuk, Wonosoco dan Medini”.
Hal yang sama di sampaikan oleh Kepala Desa Wonosoco, Setyo Budi “Pemerintah desa bersama Satgas Covid-19 dan Karang Taruna Desa Wonosoco, akhirnya sepakat untuk membatasi aktivitas pendatang yang tak berkepentingan, ”Menurutnya, sebelumnya sudah dilakukan penutupan tempat wisata di desanya. Namun masih banyak orang yang menerobos dan keluar masuk desa.“Masih banyak orang bersepeda ke Wonosoco. Untuk itu kami buat posko di depan, jadi yang tidak berkepentingan ya tidak boleh masuk,” ucapnya. Selain itu, meskipun ada yang berkepentingan dan diperbolehkan masuk pihaknya juga membatasi waktu berkunjungnya.
“Kami beri waktu antara 10 hingga 30 menit tergantung kepentingannya,” terangnya. Sementara menurut Tony Kuswoyo, Ketua Satgas Covid-19 Desa Wonosoco, dari pagi tadi sudah ada sekitar 70 orang yang diberhentinkan.“Hanya 11 orang yang kami izinkan masuk, ada yang menengok bayi, ada juga yang berkepentingan dengan kepala desa,” jelasnya. Sedangkan, untuk yang bertugas menjaga ada dari tim Satgas Covid-19 dan relawan dari Karang Taruna Desa Wonosoco.“Dari pagi sampai malam ada penjaga, ada minimal dua sampai empat orang yang berjaga,” ujarnya. Dari Pihak satgas juga rutin melakukan penyemprotan disinfektan ke sejumlah titik. Warga desa itu juga disebutnya telah disiplin menjalankan protokol kesehatan.
Hal yang sama di berlakukan pembatasan sosial dan phisycal distancing berikutnya di desa medini, menurut dari Mbah Zuhdi Arif, yang berusia 52 tahun salah satu relawan Covid-19 yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual tahu keliling berdasarkan tindakan kepeduliannya mengenai genjatan wabah yang menjangkit siapa saja tanpa melihat ntah itu dari kalangan atas atau bawah yakni wabah covid -19/ corona layak untuk diapresiasi. Betapa tidak, meskipun omset penjualan tahu akhir-akhir ini terus-terusan menurun akibat terdampak pandemi Covid-19 yang mewabah.
Namun semangat pengabdiaannya terhadap masyarakat di lingkungannya lanyak diacungi jempol. Beliau salah satu warga desa Medini yang berdomisili di RT.06/RW.III dan sekaligus sebagai Ketua RW.III Desa Medini Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus. Terkonfirmasi dan terbukti dilingkungannya.
Sosok mbah Zuhdi dengan penampilan dan gaya bicara yang khos itu ternyata mampu menginispirasi yang muda di Gerakan Solidaritas Pencegahan Covid-19 untuk membantu masyarakat dalam upaya pencegahan pandemi Covid-19 di wilayah RWnya. Kemanfaatan gerakan kemandirian ini, dalam rangka mewujudkan program Pemerintah Desa Medini, yakni terciptanya lingkungan masyarakat Desa Medini yang tanggap dan sadar akan Pandemi Covid-19 dengan memperkuat solidaritas dan gotong-royong antar masyarakat.
“Aksi solidaritas ini salah satunya dengan membagi-bagikan masker secara gratis untuk masyarakat RW.III Desa Medini didampingi oleh Babinsa dan Bhabinkantibmas Desa Medini sekaligus memberikan arahan kepada masyarakat khususnya para pekerja yang baru pulang dari luar kota untuk senantiasa mengisolasi diri secara mandiri di rumah masing-masing sesuai dengan protokoler kesehatan Covid-19, atau jika memungkinkan ODP dikirim ke Posko Karantina tingkat Kabupaten Kudus yang pembiayaannya ditanggung oleh Pemeritah Kabupaten,” kata Hasyim salah satu tokoh masyarakat di RW. III yang juga ikut menginisiasi kegiatan Gerakan Solidaritas Pencegahan Covid-19 melalui keterangannya kepada wartawan Radar Kudus, Rabu, 15 April 2020.
Selain Hasyim, Tokoh masyarakat lainnya seperti Kamil Asy’ari, Ahmad Suwarjo, Nur Kholis, Gus. Zaim, dan Gus Bowo memberikan keterangan secara langsung pada saat kegiatan pembagian masker secara gratis di kampung gang 11 Medini, di hari yang sama Rabu, 15 April 2020. Pukul 10.00 WIB. Kegiatan pembagian masker ini sebagai tindaklanjut dari program Pemerintah Desa Medini yang juga telah membagikan masker secara gratis di RW.I dengan sumber anggaran dari Dana Desa, pada hari Selasa 14 April 2020. Keterangan lebih lanjut, ada tiga program dalam Gerakan Solidaritas Pencegahan Covid-19 di RW.III Desa Medini ini. Pertama, aksi penyemprotan disinfektan di lingkungan RW.III, dengan frekuensi waktu setiap 1 minggu sekali tepatnya setiap hari Jumu’ah.
Program Gerakan Solidaritas Pencegahan Covid-19 yang kedua adalah aksi pembagian masker gratis kepada masyarakat RW. III Desa Medini. Dalam program ini Zuhdi Arif memberi tauladan kepada warganya dengan cara mendonasikan keuntungan penjualan tahu selama satu bulan untuk pembelian masker secara mandiri untuk warganya, sehingga keteladanan ini direspon positif oleh sebagian tokoh masayarakat dengan secara sukarela juga ikut memberikan donasi guna mensukseskan program pembagian masker secara gratis dan penyemprotan disinfektan untuk memutus mata rantai penularan pandemi Covid-19 di Desa Medini. Harapannya kedepan ada aksi donasi publik gotong royong bersama masyarakat di Desa Medini.” kata Gus Zaim.
Ketiga, Program donasi publik gotong royong bersama masyarakat. Sebagaima yang dilakukan Pemerintah Desa Medini, Posko Covid 19 RW.III Desa Medini yang berada di rumah Ketua RW.III ( RT.06/RW.III) juga berusaha memobilisasi dukungan kesehatan dengan mempersilakan publik yang ingin berdonasi baik berupa uang maupun alat kesehatan seperti masker, hand sanitizer, dan lainnya, untuk diberikan kepada masyarakat Medini terutama pada kelompok rentan Covid-19 seperti para pemudik beserta keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Sementara ODP di Wilayah RW.III menurut data yang ada sejumlah 35 orang.
Beberapa organisasi yang tergabung dalam kegiatan ini di antaranya adalah Pengurus RT se-Wilayah RW.III, Karang Taruna “Pari Kesit” Desa Medini, dan Ormas Sosial Keagamaan lainnya. Adapun pelaksanaan dari ketiga program Gerakan Solidaritas Pencegahan Covid-19 tentunya sesuai dengan arahan dan bimbingan dari Pemerintah Desa Medini Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus. Melawan Covid-19 haruslah dengan kesadaran kolektif dari semua lapisan masyarakat.
Apresiasi yang membanggakan terhadap desa Medini adalah terciptanya komunikasi intens dari berbagai pihak dalam upaya menyatukan langkah preventif melawan Covid-19, hal ini kiranya dapat menjadi bukti nyata gayung bersambut terhadap tingkat kepedulian Pemerintah Desa Medini yang komitmen selalu hadir di tengah-tengah masyarakat dan mampu merespon positip terhadap semua bentuk aspirasi masyarakat dalam membangun kerjasama untuk menciptakan kesadaran kolektif agar selalu tanggap dan siaga menghadapi perkembangan pandemi covid-19 di wilayah masing-masing.
Dapat kita petik hikmahnya di bulan ramadhan anjuran dalam pencegahan Covid-19 tercermin dalam ibadah puasa. Kita diminta untuk menahan diri dari keluar rumah kecuali untuk urusan yang tidak diperlukan. Kita perlu menahan diri untuk mengurangi konsumsi di luar hal-hal yang diperlukan karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi akan berakhir. Kita diminta untuk bersikap hidup bersih dan sehat karena puasa juga mengajarkan pola hidup sehat.
Puasa selama ini telah diidentikkan dengan makan-makan enak ketika berbuka. Menu makanan selama sebulan penuh dibuat lebih istimewa dibandingkan dengan hari-hari di luar puasa. Tak heran, harga barang-barang konsumsi menjadi naik dan volume sampah meningkat. Sementara di sisi lain, produktivitas menurun. Puasa telah menjadi waktu yang para produsen mempromosikan berbagai produk dan jasa. Kita menyadari puasa akan segera tiba ketika di TV mulai muncul iklan sirup beberapa bulan sebelumnya. Ketika kehebohan pemesanan tiket kereta api sudah dimulai dua bulan sebelumnya. Ketika mall dan pusat-pusat perbelanjaan mulai merias dirinya untuk menyambut kedatangan konsumen.
Situasi ini tentu berkebalikan dengan substansi puasa untuk menahan diri dan berempati terhadap orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Puasa telah dirayakan dengan meningkatkan konsumsi dan dengan berleha-leha. Untuk memuaskan berbagai keinginan yang tak terbatas tersebut, kita mengeksploitasi alam tanpa perhitungan. Hutan ditebang, bumi dikeduk, laut dicemari. Semua hal ini menyebabkan keseimbangan alamiah alam menjadi terganggu. Kelompok kaya membentuk klaster-klaster tersendiri untuk menjaga gaya hidup mewahnya, sementara kelompok miskin menjadi korban karena ketidakseimbangan alam ini. Sampai akhirnya, muncul sebuah penyakit yang tak mempedulikan kelas sosial.
Tak pandang bulu apakah negara kaya atau miskin. Ini adalah sebuah pesan yang patut kita renungkan. Puasa kali ini mengajak kita untuk mengingat kembali bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita kembali menyadari ketidakberdayaan sebagai manusia dengan adanya ancaman penyakit dan kematian yang bisa datang kapan saja. Mengingatkan kembali bahwa ternyata kita telah mengeksploitasi alam tanpa batas demi keinginan-keinginan yang tidak penting sementara lingkungan menjadi rusak.
Refleksi ini sudah seharusnya digunakan untuk menata visi hidup baru yang lebih substansial bagi kita sebagai individu dan untuk para membuat kebijakan seperti pemerintah supaya lebih bersikap adil dalam mengelola kekayaan negara dan lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam dengan pendekatan kelestarian lingkungan. Sesungguhnya, perilaku kita menentukan takdir yang kita jalani. Ada banyak hal yang kita sebagai manusia bisa mengendalikannya untuk menuju takdir yang kita inginkan.
Kita menjalani peran sesuai dengan kapasitas kemanusiaan kita, tidak dengan menyerahkan semuanya kepada tuhan dengan alasan beribadah kepadanya. Ketika kita menjaga jarak sosial (social distancing), maka telah mengurangi risiko tertular dan menularkan Covid-19 kepada orang lain. Ini juga merupakan bagian dari kita menentukan takdir yang akan kita jalani. Covid-19 juga telah mengingatkan kembali pentingnya kerja sama karena sesungguhnya manusia adalah makhluk sosial. Belakangan ini kita mengagung-agungkan individualisme sebagai sumber kemajuan peradaban manusia.
Bertindak semau sendiri demi kepentingan dirinya sendiri kita menjadi ancaman bagi banyak orang lainnya. Dalam situasi seperti ini, para muzakki berkewajiban segera membayarkan zakat, dan menambahkannya dengan infak serta sedekah. Saat ini banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan bekerja sama, maka beban menjadi lebih ringan. Ramadhan ini, saatnya kita melakukan refleksi secara lebih mendalam, lebih komprehensif, dan lebih substantif terhadap perjalanan kita sebagai pribadi atau terhadap perkembangan peradaban manusia yang selama ini dimotivasi oleh hedonisme dan konsumerisme. Saatnya kita kembali mencari jati diri kemanusiaan kita yang mungkin telah terlupakan karena kesibukan pekerjaan yang sedemikian menuntut atau karena hal-hal yang sesungguhnya tak penting seperti gim dan media sosial yang kini menjadi keseharian kita.
Tinggal di rumah sebenarnya merupakan kesempatan langka yang sebelumnya selalu kita dambakan. Inilah saat untuk merefleksikan hubungan kita dengan Allah. Inilah saat kita untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita. Dan Ramadhan merupakan bulan terbaik untuk menjalaninya. Jangan sampai kesempatan emas ini berlalu sia-sia.







