Normal Baru bukan Kembali Normal
Penulis : Aini Mashlihatis Syafi’ah (mahasiswi IPMAFA)
Sudah Sembilan bulan lamanya, masyarakat Indonesia di hadapkan dengan Pandemi Covid-19 yang telah merubah banyak aspek dalam kehidupan bermasyarakat, salah satunya adalah kebiasaan masyarakat tentang sanitasi diri mulai dari cuci tangan memakai sabun sampai memakai masker.
Dalam hal ini masyarakat di hadapkan kebiasaan baru yang sebelumnya masyarakat Indonesia sangat acuh, NEW NORMAL di sebutnya, New Normal bermakna perubahan budaya hidup yang di canangkan pemerintah agar masyarakat dapat terbiasa dengan tatanan kehidupan normal yang baru untuk mengurangi dan menekan penyebaran virus Corona.
Perubahan ini masyarakat di tuntut untuk rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker saat berpergian, dan selalu menjaga jarak fisik saat berinteraksi dengan orang lain dengan harapan kasus Covid 19 yang ada di Indonesia bisa turun.
Namun dalam kenyataannya dengan New Normal ini justru angka positif covid di Indonesia semakin meroket tajam, sebenarnya apa yang salah dengan New Normal ini? Atau ada yang salah dengan persepsi masyarakat tentang ini?.
Masyarakat justru Kembali ke kehidupan normal sebelum pandemi ini muncul, beraktifitas tanpa memerhatikan protokol Kesehatan yang sudah di sosialisikan oleh pemerintah melalui Gugus Tugas Penanggulangan Covid 19 dan juga Kementerian Kesehatan.
New normal bukan berarti mengesampingkan protokol Kesehatan, justru masyarakat diminta untuk selektif dengan tetap menerapkan protokol Kesehatan dalam setiap aktifitas di luar rumah dan tempat yang terindikasi memiliki peluang besar dalam penyebaran covid 19 seperti di pasar atau pusat perbelanjaan, kantor, kendaraan umum dan di tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan kerumunan.
New normal bukan Kembali Normal, jadi masyarakat harus selalu menerapkan protokol Kesehatan secara ketat dan juga selalu mengingatkan pada yang lain untuk selalu berkomitmen melawan dan mencegah penyebaran Virus Covid 19.
(*).







