Menjadi Gejala Baru Covid-19, Apa Itu Delirium?

Oleh : Isniatul Halimah (Mahasiswi PIAUD IPMAFA) Anggota KKN MDR Nandika IPMAFA

Menjadi Gejala Baru Covid-19, Apa Itu Delirium?

Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu.

Infeksi coronavirus disebabkan oleh virus corona itu sendiri. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virus lain pada umumnya, seperti:
1. Percikan air liur pengidap (bantuk dan bersin).
2. Menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi.
3. Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona.

Oleh karena itu agar terhindar dari virus ini, kita harus tetap mematuhi protokol kesehatan dengan mengenakan masker, jaga jarak, rajin cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Seperti yang kita ketahui bahwa masing-masing orang memiliki respons yang berbeda terhadap COVID-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus ini akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa perlu dirawat di rumah sakit.

Gejala yang paling umum:
– demam
– batuk kering
– kelelahan

Gejala yang sedikit tidak umum:
– rasa tidak nyaman dan nyeri
– nyeri tenggorokan
– diare
– konjungtivitis (mata merah)
– sakit kepala
– hilangnya indera perasa atau penciuman
– ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki

Selain gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, sebuah studi yang dipublikasikan pada awal November 2020 menyatakan bahwa delirium menjadi salah satu gejala yang muncul pada penderita Covid-19. Studi itu dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Oberta de Catalunya (UOC). Gejala ini terjadi khususnya pada kelompok lanjut usia (lansia). Di media sosial, perbincangan soal delirium ini pun ramai dalam beberapa hari terakhir.

Lantas, Apa Itu Delirium?

Delirium adalah perubahan yang terjadi secara tiba-tiba pada fungsi mental seseorang. Gangguan ini menyebabkan perubahan cara berpikir dan perilaku serta tingkat kesadarannya. Delirium juga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir, mengingat, dan pola tidur seseorang.
Delirium dapat terjadi akibat penuaan, keracunan alkohol, konsumsi obat-obatan tertentu, dan kondisi medis yang mendasari.

Mengutip dari MayoClinic, terdapat 3 jenis Delirium yakni:

1. Delirium Hiperaktif
Jenis ini merupakan merupakan yang paling mudah dikenali, yang ditandai dengan kegelisahan (mondar-mandir), agitasi, perubahan suasana hati yang cepat atau halusinasi, dan penolakan untuk bekerja sama.

2. Delirium Hipoaktif
Untuk jenis ini, biasanya diketahui dengan sikap yang tidak seaktif biasanya atau berkurangnya aktivitas motorik, kelesuan, rasa kantuk yang tidak normal, atau tampak linglung pada seseorang.

3. Delirium Campuran
Untuk jenis delirium campuran memiliki tanda dan gejala yang sama antara delirium hiperaktif dan hipoaktif. Seseorang dapat dengan cepat beralih dari keadaan delirium hiperaktif ke hipoaktif.

Adapun penyebab Delirium ini dapat terjadi pada pasien Covid-19 adalah akibat dari efek obat-obat tertentu atau toksisitas obat, keracunan alkohol atau obat, kondisi medis seperti (stroke, serangan jantung, penyakit paru-paru), penyakit parah atau kronis, malnutrisi atau dehidrasi, kurang tidur dan tekanan emosional yang parah.

Tetap Patuhi Protokol Kesehatan !
Salam Sehat – Smart !
Semoga Bermanfaat 😊

 

 

 

Exit mobile version