Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, ada sebanyak 500 ribu lebih orang Indonesia yang menderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada tahun 2020. Tentu bukan angka yang sedikit bukan?
Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 dan. Rusaknya sel tersebut membuat sistem kekebalan tubuh seseorang pun ikut menjadi rusak. Tentunya penyakit ini berbahaya sekali, terutama masih belum ditemukannya obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara total.
Jika Anda baru saja melakukan kontak secara langusung dengan penderita HIV, Anda bisa chat dokter gratis untuk melakukan konsultasi. Tentunya untuk memastikan apakah Anda berpotensi tertular HIV atau tidak.
Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang penyakit HIV mulai dari penyebab hingga cara mencegahnya. Simak artikel berikut sampai akhir.
Pengertian HIV
HIV merupakan kependekan dari Human Immunodeficiency Virus. Penyakit ini menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang yang menderitanya. Secara spesifik, virus ini menyerang sel CD4.
Sel CD4 memiliki peranan penting dalam melawan infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Saat sel ini melemah, sistem imun tubuh seseorang tentunya akan menurun secara drastis. Hal ini menyebabkan penderita HIV akan mudah terserang berbagai infeksi baik dari virus, bakteri, jamur, dan patogen lainnya yang dapat merugikan tubuh.
Walaupun HIV dan AIDS sering disamakan, keduanya berbeda. Namun, masih saling berhubungan. AIDS sendiri merupakan kumpulan gejala yang timbul saat infeksi HIV sudah mencapai stadium yang sangat parah.
Jika penderita HIV tidak mendapatkan perawatan yang baik, maka besar kemungkinan orang tersebut akan terkena AIDS.
Penyebab HIV
Selain disebabkan oleh virus Human Immunodeficiency Virus, seseorang bisa terkena HIV jika melakukan kontak langsung dengan penderita. Ya, penyakit ini memang dapat menular dengan sangat cepat.
Namun perlu diperhatikan bahwa penularan HIV ini tidak semerta-merta disebabkan karena bersetuhan secara langsung dengan penderita. Penularan HIV sendiri terjadi melalui perantara cairan tubuh yang dikeluarkan oleh penderita.
Berikut beberapa cairan tubuh yang dapat menjadi perantara penularan HIV:
- Air mani
- Darah
- Cairan anus (rektal)
- Cairan vagina
- Cairan pra-ejakulasi
- ASI
Untuk cairan ASI, akan terjadi penularan jika ASI berkontak langsung dengan jaringan lunak, luka terbuka di selaput lendir, maupun luka terbuka di kulit terluar.
Maka dengan begitu, anggapan bahwa HIV dapat menular lewat kontak langsung seperti bersentuhan, berpelukan, bergandengan, batuk maupun bersin, tidak dibenarkan. Selain itu, Anda juga tidak akan tertular bahkan jika harus berbagi sprei dan peralatan makan.
Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang dapat menyebabkan Anda tertular HIV:
- Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
HIV dapat tertular melalui jarum suntik yang tidak steril. Terutama bila disuntikkan langsung ke pembuluh darah. Berikut beberapa kegiatan menggunakan jarum suntik yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV:
- Menggunakan jarum suntik secara bergantian, terutama dengan penderita HIV
- Peralatan tato dan tindik yang tidak steril
- Hubungan seksual
Melalui pernyataan sebelumnya, cairan genital dapat menjadi perantara dari penularan HIV ini. Sehingga, orang yang melakukan hubungan seks tanpa menggunakan pengaman dan sering bergonta-ganti pasangan memiliki risiko besar tertular HIV.
Namun, perlu diperhatikan bahwa penularan terjadi jika terdapat luka terbuka pada organ seksual, mulut, maupun kulit orang sehat. Remaja perempuan biasanya rentan tertular HIV karena selaput vagina yang tipis dan mudah lecet.
Selain itu, melakukan seks anal juga lebih rentan tertular. Pasalnya, jaringan anus tidak mempunyai lapisan yang dapat melindungi dari gesekan. Sehingga, akan lebih rentan sobek dan luka.
- Memiliki penyakit menular seksual
Dikataka bahwa saat seseorang memiliki penyakit menular seksual seperti klamidia atau gonore, HIV akan lebih mudah masuk. Ini dikarenakan sistem tubuh seorang penderita PMS sedang lemah.
- Ibu hamil
Seorang wanita yang menderita HIV/AIDS dapat menularkan HIV kepada bayinya saat mengandung. Bahkan virus ini dapat ditularkan saat menyusui.
Gejala HIV
Pada tahap awal, biasanya penyakit ini tidak menimbulkan gejala dengan wujud yang cukup jelas. Bahkan gejala bisa saja tidak timbul selama beberapa tahun. Umumnya, gejala HIV akan timbul sekitar 2 sampai 15 tahun.
Gejala awal yang timbul pun seringkali dianggap sebagai gejala penyakit lainnya. Berikut gejala awal dari HIV:
- Sakit kepala
- Demam
- Nyeri otot
- Kehilangan berat badan secara bertahap
- Terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di tenggorokan, ketiak, dan pangkal paha
Virus HIV akan menyerang tubuh seseorang dengan perlahan dan bertahap. Nantinya, tubuh akan lebih rentan terkena infeksi saat sistem imun penderitanya sudah sangat menurun. Bahkan bisa saja HIV berubah menjadi AIDS. Berikut gelaja AIDS yang harus diperhatikan:
- Batuk kering yang tak kunjung sembuh
- Radang pinggul kronis
- Infeksi jamur pada vagina yang parah dan berulang
- Sariawan yang disertai dengan lapisan putih yang tebal pada lidah ataupun mulut
- Mudah mengalami memar
- Mengalami diare yang cukup sering
- Mati rasa atau nyeri pada kaki atau tangan
- Perubahan kondisi mental
- Infeksi parah dan sering mengalami kelelahan ekstrem tanpa diketahui pasti penyebabnya
Masih banyak lagi gejala lainnya yang mungkin timbul akibat HIV. Sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter bila baru saja berhubungan dengan penderita HIV.
Cara mengatasi HIV
Sampai saat ini, belum ditemukan obat yang dapat menuntaskan virus ini secara permanen. Biasanya penderita HIV akan diberikan pengobatan yang dapat meredakan gejala-gejala yang timbul akibat HIV.
Terapi antiretoviral (ARV) biasanya dilakukan oleh para penderita HIV untuk meningkatkan sistem imun dalam tubuh. Walaupun tidak dapat membasmi virus ini secara tuntas, namun penderita HIV dapat bertahan hidup lebih lama.
Selain dengan melakukan terapi ARV, penderita HIV juga disarankan untuk menjalani hidup sehat seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan beristirahat yang cukup. Selain itu, direkomendasikan juga untuk melakukan vaksin yang dapat mencegah infeksi radang paru, flu, dan infeksi lainnya.
Itulah penjelasan mengenai HIV yang perlu Anda ketahui. Lakukan konsultasi dengan dokter apabila Anda pernah melakukan kontak dengan penderita HIV.
