Memilih Pemimpin: Mana yang Lebih Penting, Identitas atau Kualitas?
Oleh: Vina Ramadani (2430110041), Muhammad Afif Muhyiddin (2430120002), Abdul Latif Nashiruddin (2430120004), Clara Ayuning Mutia (2430120005), Siti Nur Fadilah (2430120009), Nadia Chusna Kamalin (2430120013), Zidni Isnainil Hilmawati (2430120014), Ahmad Roysurrofiq (2430120015)
Memilih Pemimpin: Apakah Identitas atau Kualitas yang Lebih Penting? Dalam memilih pemimpin di masyarakat Muslim, sering muncul pertanyaan: apakah yang paling penting itu, identitas keagamaan atau kualitas dan kemampuan pemimpin? Kedua hal ini sering dianggap bertentangan, tapi sebenarnya bisa berjalan beriringan sesuai situasi dan kondisi. Dalam tradisi Islam klasik, identitas keislaman pemimpin sangat ditekankan karena konteksnya berbeda dengan zaman sekarang, di mana peran pemimpin lebih fokus pada kualitas dan manfaat untuk masyarakat. Di masa lalu, pemimpin harus Muslim karena perannya bukan cuma sebagai kepala negara, tapi juga sebagai pelindung syariat dan pemimpin agama. Para ulama seperti al- Mawardi dan Ibn Taymiyyah menegaskan perlunya pemimpin Muslim demi menjaga agama dan kestabilan sosial berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an, misalnya QS al-Mā’idah: 51
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”
Ayat ini menerangkan tentang soal loyalitas umat di tengah situasi politik sulit waktu itu.Tetapi sekarang, di era negara modern yang kekuasaannya dibatasi konstitusi dan lembaga pemerintahan, para ulama modern seperti Yusuf al-Qaradawi dan Wahbah al-Zuhayli menekankan pentingnya memilih pemimpin berdasar maqasid al-syariah, yaitu tujuan-tujuan utama syariat Islam. Keadilan, amanah, dan kemampuan menjaga kemaslahatan masyarakat jauh lebih diutamakan. Misalnya, ayat QS an-Nisā’: 58
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا ٥٨
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ayat ini mengingatkan kita untuk memilih orang yang adil dan layak memegang amanah, tidak terbatas pada Muslim saja. Bahkan Allah memerintahkan agar kita berlaku adil secara umum, seperti halnya tertulis dalam QS al-Mā’idah: 8
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ٨
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Konteks modern juga menuntut pemimpin yang jujur dan tidak korupsi, sesuai perintah Allah agar amanah diserahkan kepada yang tepat (QS an-Nisā’: 58). Jadi, jika pemimpin Muslim justru tidak amanah dan tidak kompeten, itu bertentangan dengan syariat. Maka, kualitas menjadi faktor utama yang harus dipertimbangkan.Intinya, pertentangan antara identitas dan kualitas tidak hitam-putih. Dulu, identitas erat kaitannya dengan kualitas karena fungsi kepemimpinan terkait langsung agama. Saat ini, identitas masih penting sebagai bagian identitas budaya, tapi bukan satu-satunya faktor. Yang paling penting adalah keseimbangan antara representasi umat dan kemampuan memimpin dengan adil dan efektif.Al-Qur’an pun mengizinkan kita berbuat baik dan adil pada orang non-Muslim yang tidak memerangi kita, seperti dalam QS al-Mumtahanah: 8
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ٨
Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Ayat ini menjadi dasar untuk mempertimbangkan memilih pemimpin non-Muslim jika dia terbukti adil dan membawa kebaikan. Dalam praktik, jika ada calon pemimpin Muslim yang juga berkualitas, itu kondisi terbaik. Namun, jika calon Muslim tidak amanah dan ada calon non-Muslim yang jujur dan kompeten, memilih yang terbaik dari segi kualitas adalah pilihan yang lebih sesuai syariat. Pilihan seperti ini adalah bentuk ijtihad yang perlu memperhatikan kondisi negara dan kepentingan umat. Pada akhirnya, Islam mengajarkan kita memilih pemimpin berdasarkan siapa yang paling mampu membawa keadilan, menjaga amanah, serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Identitas bisa jadi nilai tambah, tetapi kualitas yang menentukan apakah pemimpin itu bisa menjalankan tugasnya sesuai ajaran agama.






