Hari ini, 25 Juni 2021, saat tulisan ini dibuat, kondisi pandemi tercatat sebagai kondisi terburuk dalam penularan covid-19 sejak diumumkannya kasus pertama di Indonesia, Maret 2020, tahun lalu.
Tambahan kasus harian secara nasional pada 24 Juni kemarin yang mencapai 20.500 lebih, merupakan rekor tertinggi.
Di Jawa Tengah terdapat 20 kabupaten/kota berstatus zona merah. Kecamatan Dukuhseti juga berstatus zona merah, dengan tingkat kematian harian terkait covid-19 tertinggi. Beberapa dusun di kecamatan ini dinyatakan lockdown.
Rumah sakit mengalami overload dan menolak pasien, termasuk pasien suspect covid. Akibat hal itu, orang-orang yang hasil tesnya positif menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Informasi yang disampaikam oleh perangkat desa Bakalan, saat ini terdapat sedikitnya 7 keluarga yang menjalani isolasi mandiri.
Berkaitan dengan isolasi mandiri yang dilakukan oleh warga Bakalan tersebut, Masjid Jami’ AL ILHAM, melalui salah satu unit operasional yayasannya yaitu JPZIS (Jaringan Pengelola Zakat Infak Sadaqah) Al Ilham menjalankan proram mensuplai kebutuhan makan harian kepada mereka, tiga kali sehari, sejumlah anggota keluarga, selama masa isolasi. Adakalanya makanan harian tersebut dibelikan dari warung dan adakalanya dimasak oleh petugas.
Terkait program suplai ini beberapa hal perlu disampaikan :
1. Sumber dana berasal dari hasil penghimpunan koin (kotak infak) JPZIS AL ILHAM yang disebarkan di rumah-rumah warga. Dana yang dihimpun melalui koin ini memang tidak ditasarrufkan untuk sarana prasarana masjid, tapi dikelola dengan prinsip ‘dari warga untuk warga’. Masjid hanya menjadi organisasi dan markas gerakan penghimpunan koin.
Sesuai dengan pedoman kerjanya –yang merupakan pedoman kerja induk organisasinya, yaitu Lazisnu– sasaran pentasarufan hasil koin adalah ke bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kebencanaan.
Dengan mensuplai makan harian kepada keluarga isolasi mandiri akibat pandemi, artinya pentasarufan dilaksanakan dalam bidang kesehatan, dan sekaligus kebencanaan.
2. Person yang menyediakan dan mengirim makanan ke rumah siolasi dipastikan dalam kondisi sehat dan tanggap serta menerapkan protokol. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan yang terjadi pada penyedia, kurir, pada makanan, dan keluarga isolasi.
3. Keluarga isolasi dipastikan patuh menjalani isolasi mandiri. Oleh karena itu sebelum mensuplai makanan JPZIS lebih dulu menghubungi yang bersangkutan untuk melakukan klarifikasi. Klarifikasi tidak semata-mata memastikan kepatuhan isolasi, tetapi juga ‘kesiapan’ yang bersangkutan untuk menerima bantuan, mengingat kadangkala ada warga yang merasa sungkan jika dibantu. Dan terkait hal terakhir ini, suplai makanan diusahakan berjalan secara senyap, tidak demonstratif.
4. Menu makanan yang dikirim dirancang agar variatif dan memenuhi unsur 4 sehat 5 sempurna. Hal ini penting mengingat dalam kondisi sakit pada umumnya orang berkurang selera makannya dan membutuhkan asupan yang lebih sehat.
Oleh karena itu pula JPZIS AL ILHAM juga mepengkapi suplai makan tersebut dengan madu kepada mereka, sebagai suplemen penambah daya imun tubuh.
5. Update informasi status suspect dan siapa yang menjalani isolasi mandiri dikordinasikan dengan pemerintahan dan bidan desa.
Program mensuplai makanan harian kepada keluarga isolasi mandiri ini dilaksanakan menyusul kegiatan-kegiatan sebelumnya dalam tanggap pandemi, yaitu melakukan kampanye protokol kesehatan melalui spanduk banner, membagikan secara gratis masker, hand sanitizer, mengadakan termogun, alat penyemprot disinfektan, melakukan penyemprotan (terutama kepada masjid dan mushalla se-Bakalan), dan melayani jasa penyomprotan gratis bagi warga yang menghendaki.
Kegiatan-kegiatan di atas yang seluruhnya merupakan aspek pencegahan dan penanggulangan dampak sebagai bagian dari kerja kemanusiaan dan dilakukan oleh para relawan masjid.
Masjid, khususnya unit JPZIS, tidak memiliki sumberdaya manajerial dan sumberdaya manusia untuk melangkah lebih jauh, misalnya dalam aspek aspek medis maupun perawatan suspect.
Namun dengan yang sudah, terus dan akan dilakukan itu semua, masjid Al Ilham insyallah sealu dalam kondisi siap siaga.
Karena itu berbagai kegiatan responsi terhadap kebutuhan warga yang bisa direalisir, kita sebut dalam platform MASJID SIAGA.
Masjid Jami Al Ilham memiliki visi menjadi masjid Pencerah, Pemberdaya, dan Perekat Umat. Slogannya Rumah Tuhan untuk Kemakmuran.
Paradigma dakwahnya “Membawa Masjid ke Umat”, menyempurnakan sekaligus mengoreksi paradigma tradisional yang telah berjalan, yakni “Membawa Umat ke Masjid”.
Selama ini paradigma tradisional di atas seringkali memunculkan kekecewaan bahkan apatis pada diri para pelayan rumah Tuhan, karena merasa telah dengan susah payah dan melalui beragam program mereka mengajak umat ke masjid, namun responnya masih jauh dari harapan. Modernisasi program dan kegiatan kadangpun sudah ditempuh, hasilnya juga masih belum maksimal. Atau jika sesekali banyak umat datang ke masjid, itu lebih didorong oleh adanya keuntungan ‘materi’, ‘politis’ atau tujuan ‘wisata’. Saat masjid kembali senyap para takmir menyimpulkan bahwa umat kembali ‘melupakan’ masjid, dan mereka merasa gagal memakmurkan masjid.
Paradigma “Membawa Masjid ke Umat” tentu saja bukan berarti membawa fisik bangunan masjid karena itu hal yang mustahil.
Yang dimaksud “Membawa Masjid ke Umat” adalah membawa program-program masjid agar bersentuhan langsung dengan kehidupan umat. Dan sangat mungkin reaisasi kegiatan-kegiatan dari program tersebut tidak dilakukan di lingkungan fisik masjid, sekalipun sangat maklum bahwa lingkungan masjid merupakan tempat mulai untuk ‘memproduksi’ pahala sebanyak-banyaknya.
Menghadirkan masjid di tengah-tengah masyarakat melalui program-programnya merupakan pikiran dan tindakan yang realistis. Setidaknya hal itu didasarkan pada 2 hal :
1. Kondisi jaman beserta manusia di dalamnya sudah sangat berubah. Demikian juga fungsi ideal dari eksistensi masjid. Budaya dan teknologi juga telah merubah perilaku keagamaan umat, termasuk dalam hal melihat fungsi masjid. Secara faktual sebagian besar fungsi paripurna masjid-masjid masa lalu di dunia Islam juga sudah diperankan oleh entitas dan lembaga lain secara lebih baik.
Misalnya bidang pendidikan, kesehatan, peradilan, ekonomi dan keamanan pertahanan. Mengembalikan fungsi masjid secara lengkap seperti pada masa keemasannya dulu di tengah persepsi umat kepada masjid seperti sekarang ini adalah suatu bentuk utopia, harapan yang tak mungkin kesampaian.
2. Dalam hadis yang sangat populer tentang 7 (kelompok) manusia yang akan dilindungi Allah di Hari Kiamat disebutkan bahwa salah satu dari mereka adalah orang yang hatinya tertambat di masjid.
Para pensyarah hadits menguraikan bahwa orang yang seperti ini akan selalu mengingat masjid dan merasa gelisah jika lama tidak mengunjunginya.
Kiranya memang Rasulullah sengaja menggunakan diksi ‘yang hatinya’, bukan ‘yang tubuhnya’ atau ‘yang fisiknya’, karena diksi terakhir ini akan merepotkan umat beliau untuk menunaikannya.
Oleh karena itu sebenarnya paradigma “Membawa Masjid ke Umat” sepenuhnya sejalan dengan pernyataan Nabi “Hati Yang Tertambat di Masjid”.
Karena program-program masjid bisa dirasakan langsung oleh umat tentu pada saatnya akan membuat hati mereka ingat dan tertambat di masjid, dan tentu sewaktu-waktu akan dengan ringan kaki berkunjung ke masjid yang selalu dirindukan.
Kurang lebih begitulah paltform Masjid Siaga.
(*/Muhammad Helmy Rosyadi)







