Maraknya Bunuh Diri Remaja: Bukti Kegagalan Pendidikan Berbasis Kapitalisme

Oleh: Sri Retno Ningrum (Pegiat Literasi)

Seorang pelajar ditemukan tewas bunuh diri akibat overdosis alkohol dan beberapa obat yang diberikan oleh psikiater kepadanya. Hal tersebut dilatarbelakangi karena dirinya pernah bernazar akan memberikan santunan untuk anak yatim jika diterima di perguruan tinggi favoritnya, namun sebaliknya akan bunuh diri jika gagal masuk di universitas tersebut (www.hops.id 13/7/2022).

Sebelumnya pernah terjadi kasus serupa, seperti: remaja berusia 20 tahun ditemukan tewas menggantung diri di pintu kamar mandi kontrakannya, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada tanggal 6 Juli 2022. Polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban (Sindonews 6/7/2022). Ada pula kasus bunuh diri yang sempat heboh diberitakan karena bunuh diri di dekat makam ayahnya dengan korban bernama Novia Widya Sari. Kemudian kasus bunuh diri menimpa remaja putri di Kabupaten Belu. Korban berinisial IB (17 tahun) ditemukan sahabatnya berinisial JL sedang gantung diri pada jam 10.00 WITA (mediakupang 4/7/2022).

Fenomena bunuh diri remaja yang terjadi sekarang ini, apabila diamati nekad dilakukan para korban karena beberapa alasan, yakni seperti: stress dengan pelajaran sekolah, diputus pacar, gagal meraih cita-cita, kekurangan ekonomi, korban pelecehan seksual, perceraian orang tua, dan sebagainya. Harapan hidup seakan-akan tidak ada lagi artinya ketika masalah datang. Sedikit-sedikit ketika berhadapan dengan masalah langsung bunuh diri tanpa berusaha mencari solusi.

Generasi adalah penerus kepemimpinan bagi bangsa ini. Ditangan merekalah nasib bangsa ini, apakah menjadi negara yang kokoh dan maju atau sebaliknya, yakni menjadi negara terbelakang sehingga mudah dijajah oleh negara lain. Maka, keberadaan generasi yang berkualitas dan tangguh sangat diidamkan sebuah negara. Akan tetapi, semua itu akan mustahil diraih jika mental generasi lemah.

Hal tersebut terjadi tentu tidak lepas dari diterapkannya sistem kapitalisme. Sistem ini memiliki sebuah asas sekuler yang meminggirkan peran agama dalam kehidupan. Sehingga ketika seseorang mendapatkan masalah, maka bunuh diri adalah solusi. Tanpa lagi memikirkan hisap di akhirat kelak. Inilah bukti kegagalan kapitalisme dalam mencetak generasi. Padahal bunuh diri dalam pandangan Islam adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT di surah An-Nisa ayat 29:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan yang sesamamu dengan jangan yang batil, kecuali dengan jalan yang perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
Disisi yang lain, kurikulum yang ada dalam sistem kapitalis-sekuler berorientasi pada materi. Orientasi terbesar dalam sistem kapitalisme adalah mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya untuk memuaskan kebutuhan jasadiyah dan gelar yang tinggi. Walhasil ketika hal itu tidak terpenuhi muncullah depresi. Di sisi yang lain pula, pendidikan dalam sistem kapitalisme berbiaya mahal. Kalaupun ada pendidikan yang berkualitas, maka rakyat harus membayar dengan biaya yang mahal. Adapun bagi mereka yang tidak memiliki uang, maka kualitas pendidikan yang rendah terpaksa dipilihnya.

Hal tersebut tentu berkebalikan dengan keunggulan sistem Islam. Ketika sistem Islam pernah tegak di bumi ini mampu mencetak generasi yang bersyahsiyah Islam, fiqih fiddin dan menguasai ilmu kehidupan, selain itu tidak pernah ada keinginan generasi pada waktu mendapatkan masalah untuk bunuh diri, karena kuatnya akidah Islam yang menempel dalam diri individu muslim. Sistem pendidikan Islam juga memiliki kurikulum berbasis akidah Islam. Sehingga senantiasa menjadikan hukum syarak sebagai standar dalam mendidik generasi.

Keberhasilan sistem pendidikan Islam dalam peradaban Islam telah mampu mencetak ilmuwan-ilmuwan handal. Pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Farab dan masih banyak lagi. Khalifah Abbasiyah ketujuh yang mengantarkan dunia Islam pada puncak pencapaian peradaban bernama Al-Hikmah. Al Ma’mun menempatkan posisi para ilmuwan di posisi yang terhormat, baik para filosof, ahli bahasa, dokter, ahli fisika, matematika, astronom, ahli hukum serta sarjana yang menguasai ilmu lainnya digaji dengan bayaran yang sangat tinggi. Tidak hanya itu, sistem Islam juga akan menjamin pendidikan rakyat dengan gratis dari hasil pengelolaan kepemilikian umum maupun negara, seperti: gas, minyak bumi, hasil hutan, emas, tembaga, hasil laut, dan sebagainya. Adapula pemasukan negara berasal dari zakat, fa’i, ghanimah, anfal, kharaj dan jizyah. Semuanya itu dimasukkan dalam baitul mal. Dengan banyaknya pemasukan dari negara, maka akan mampu menjamin kebutuhan rakyat termasuk pendidikan.

Sungguh, sistem Islamlah yang mampu mengantarkan seluruh rakyat, baik muslim maupun non muslim pada kesejahteraan dan keberkahan hidup. Sehingga tidak akan lagi ditemukan kasus bunuh diri dalam kepemimpinan Islam. Tidakkah kita menginginkannya? Wallahu’alam Bisshowab.

Exit mobile version