Kisah Syeh Ronggo Kusumo dan Babat Desa Ngemplak Kidul

Kisah Syeh Ronggo Kusumo dan Babat Desa Ngemplak Kidul

PatiNews.Com – Margoyoso,

Setiap tanggal 10 Sapar warga Desa Ngemplak Kidul menggelar Haul Syeikh Ronggo Kusumo. Tokoh Mbah Ronggo Kusumo sendiri bukan hanya dikenal sebagai tokoh Syiar Agama Islam. Melainkan juga dikenal sebagai cikal-bakal berdirinya Desa Ngemplak dan sekitarnya.

Salah satu warga di sekitar Makam Mbah Ronggo, Imam Muhlis Aly, S.Pd.I memaparkan, berdasarkan cerita tutur masyarakat setempat, Mbah Ronggo dikenal sebagai tokoh syiar Agama Islam penolong fakir miskin.

“Beliau seorang Ningrat dari Tuban yang merupakan cikal-bakal keberadaan perkampungan yang kini dikenal dengan nama Ngemplak,” ungkapnya.

Cerita Bapak Imam ini bermula dari papan nama yang tertera pada dinding makam Mbah Ronggo Kusumo. Papan nama yang kini bertuliskan Syeikh Ronggo Kusumo tersebut, sebelumnya bertuliskan Raden Ronggo Kusumo.

Warga Ngemplak Kidul itu mengaku cerita sejarah Mbah Ronggo didapat sang ayah semasa dirinya kecil. Selain itu, dirinya, juga ‎sempat membaca sebuah buku yang berisi tentang sejarah Syeikh Ahmad Mutamakkin, Kajen yang juga menyinggung tentang keberadaan Mbah Ronggo.

“Sesuai yang saya ketahui, dari cerita bapak atau di buku karangan M Sanusi sekira tahun 1980an‎, Mbah Ronggo Kusumo lahir di Desa Mruwut, Bejagung, Tuban, diperkirakan pada 1660,” ujarnya.

Ronggo Kusumo, kata Bapak Imam merupakan putra dari Adipati Tuban, Si Ageng Mruwut. Ki Ageng Mruwut sendiri merupakan putra dari Pangeran Tatir atau Sayid Ali yang merupakan putra dari Pangeran Kusumo Negoro. Kusumo Negoro merupakan putra dari Pangeran Hadi Negoro atau Pangeran Benowo yang merupakan anak dari Sultan Hadi Wijaya atau Joko Tingkir.

Mbah Ronggo dikenal sebagai tokoh yang dikenal sebagai penolong fakir miskin. Semasa di Tuban, hal itu dilakukan dengan cara mengambilkan hak para fakir miskin dari harta benda milik para pedagang kaya. Tindakan Mbah Ronggo tersebut, mengundang murka dari pemerintahan Kraton Kartasura yang kemudian mengutus pasukan untuk menangkap Mbah Ronggo.

“Karena merasa bertindak benar, Mbah Ronggo menghadapi para pasukan itu. Namun pada suatu waktu, Mbah Ronggo menyadari bahwa hal itu tidak baik untuk dirinya dan bisa membahayakan lingkungannya,” ungkap Mukhlis.

Terus diburu oleh prajurit kraton, Mbah Ronggo akhirnya melakukan perjalanan ke arah barat. Tepatnya di daerah Dawe, Kabupaten Kudus. Di sana, cara menolong fakir miskin tidak lagi sama seperti ketika di Tuban. Melainkan lebih kepada pengajaran ilmu untuk mengetuk hati para orang kaya agar bershodaqoh kepada fakir miskin di lingkungannya.

Warga fakir miskin merasa tertolong dan para orang kaya menjadi mengerti ilmu shodaqoh. Di daerah Dawe, Kudus itulah Mbah Ronggo akhirnya dijuluki sebagai Pangeran Cendana.

Dijuluki Pangeran Cendono karena sifat ‘welas asih’ pada orang-orang lemah

Di daerah Cendana beliau Ronggo Kusumo terkenal dengan sebutan Pangeran Cendana ( Cendono ) karena ‘welas asih’ kasih sayang beliau kepada orang-orang lemah baik lemah ekonominya maupun agamanya. Maka atas dasar inilah banyak masyarakat di daerah Dawe Kudus merasa Syeh Ronggo Kusumo ( Pangeran Cendono ) sebagai figur yang dihormati sekaligus dekat merakyat.

Syeh Ronggo Kusumo tiba di Kajen dan Ngemplak

Namun Sang Pangeran Cendono itu harus melanjutkan perjalanan mengajarkan agama islam ke tempat lain. Dalam hal ini saya saat remaja ( sekitar tahun 1991 ) pernah di ceritakan oleh Bapak saya Ali Murtadlo dan cerita Bapak hampir sama dengan apa yang saya baca di buku berjudul kurang lebihnya Sejarah perjuangan Waliyullah Syeh Ahmad Mutamakin Kajen dan murid-murid beliau termasuk Waliyullah Syeh Ronggo kusumo karya M.Sanusi seperti yang saya sebutkan diatas. Yakni bagaimana Syeh Ronggo kusumo tiba di daerah Kajen dan Ngemplak Kidul. Yang saya ketahui di buku itu dan cerita Bapak saya bahwa Mbah Ronggo Kusumo tiba di Ngemplak ada dua versi. Pertama Mbah Ronggo Kusumo langsung berjalan menuju Kajen. Tidak lain yang di tuju adalah pamannya sendiri yakni Mbah Ahmad Mutamakin. Versi kedua Mbah Ronggo Kusumo sebelum mengenal lebih jauh sempet ada peristiwa ‘ adu tanding kesaktian ilmu kanuragan ‘. Tapi ditengah-tengah adu tanding kesaktian itu, tiba-tiba sang paman Mbah Mutamakin menghentikan dengan alasan mengetahui bahwa yang dihadapinya ini adalah masih tumggal seperguruan. Maka Mbah Mutamakin mengatakan bahwa Ronggo Kusumo ternyata masih keponakannya sendiri. Lalu diajaklah Ronggo Kusumo di Kajen untuk dijadikan santrinya.

Syeh Ronggo Kusumo menebang alas hingga terlihat ‘amplak-amplak’ Ngemplak

Singkat cerita setelah di rasa cukup ilmu Ronggo Kusumo, Mbah Mutamakin menyuruh Ronggo kusumo menebang ‘alas’ disebelah barat Kajen. Konon cerita para orang tua, penebangan ( pembabatan ) alas / hutan hanya memakan waktu sehari ( Wallahu a’lam). Setelah dirasa cukup alas terlihat ‘amplak-amplak’ ( bahasa jawa: terang benderang ). Maka Mbah Ronggo Kusumo menamai dengan nama Desa NGEMPLAK. Dan di tempat awal ini banyak kembang/bunga harum maka di namai Ngemplak Kembang Arum ( dukuh ).

Kemudian Mbah Ronggo berjalan ke arah barat dan melakukan pembabatan alas. Maka didaerah ini di namakan Ngemplak Mbabatan ( dukuh mbabatan ) Lalu Mbah Ronggo Kusumo ke arah selatan dan di situ melihat banyak empu/enpon-empon yang ‘kerep’ / rapat-rapat, maka di namakan Ngemplak Kerep ( dukuh kerep ). Tidak berhenti disini Mbah Ronggo Kusumo ke arah timur dan melihat pemandangan luas sawah-sawah. Maka di daerah ini dinamai Ngemplak Sawahan ( dukuh sawahan ).

Dibangunnya Masjid Jami’ Ronggo Kusumo

Setelah melakukan ‘babat alas’ Mbah Ronggo dengan di temani Mbah Mutamakin membuat masjid jami’ sebagai sarana tempat ibadah dan dakwah islam. Atas pertimbangan dekat dengan Masjid Kajen, Masjid Jami ‘ ( sekarang Masjid Jami’ Syeh Ronggo Kusumo ) bangunannya pinggir Desa Ngemplak persisnya di jalan Ronggokusumo agak ke dalam jalur Pertigaan Ngemplak Kidul menuju Pasar Bulumanis. Ini sengaja memang, menurut keterangan sesepuh salah satunya dari Ta’mir Masjid Jami’ agar dahulu saat adzan Masjid Kajen di perdengarkan, jamaah Masjid Jami’ di Ngemplak kedengaran. Sampai saat ini pun saat adzan jumat khususnya, muadzin masjid Ngemplak tetap menunggu muadzin masjid kajen berkumandang. Dan kebetulan saya juga sebagai salah satu muadzin masjid jami’ Ngemplak Kidul terus sepertu itu.

Mbah Ronggo dikenal sebagai sosok penyebar islam rahmatan lil alamin dan ahli sosial ekonomi

Didalam mendajwahkan islam Mbah Ronggo Kusumo dikenal sebagai sosok yang santun, ramah, penyayang, lemah lembut pada orang-orang lemah dan fakir miskin, sosok yang alim, sejuk dan rahmatan lil alamin. Intinya Mbah Ronggo adalah ‘Embah’ panutan warga Ngemplak dan sekitarnya. Seorang tokoh yang ahli sosial ekonomi karena Mbah Ronggo berdakwah pada orang-orang kaya untuk menyantuni fakir miskin. Menurut cerita para orang tua dulu sebenarnya Mbah Ronggo Kusumo tak hanya berdakwah di Ngemplak saja namun juga di daerah-daetah sekitarnya. Seperti Desa Sidomukti, Tanjungreko, Soneyan dan sebagainya.

Beberapa peninggalan

Ada beberapa peninggalan beliau seperti ‘belik’ kolam wudlu beliau di sekitar makamnya, tongkat khotbah beliau, mustoko masjid beliau dan beberapa varang peninggalan lainnya yang penulis terbatas mengetahuinya.

Haul beliau diperingati setiap tanggal 10 Shofar. Banyak agenda seperti.tahlil, tahtiman dan khataman Alqur’an baik bil ghaib maupun binnadhor, lelang selambu maqam, manakiban, burdah sholawatan dan sebagainya.

Pemerintah Desa biasanya saat-saat bulan Shofar/ Sapar ini menyelenggarakan berbagai acara seperti kirab karnaval marching band, kesenian menyusuri jalanan. Tiap RT hampir semua menampilkan kesenian Juga ada pengajian, sholawatan, wayang dan sebagainya. Dengan tajuk Gebyar 10 Sapar bersih desa masyarakat Ngemplak Kidul bersama-sama merayakannya.

Diharapkan acara-acara haul 10 Shofar Waliyullah Syeh Ronggo Kusumo tidak hanya di ikuti namun lebih pentng meneladani kebaikan dan perjuangan beliau.Bagaimana kita meneruskan jejak amal baik beliau dalam kehidupan sehari-hari. Juga acara-acara dari Pemerintah Desa semestinya menjadi sarana persatuan, kerukunan dan kebersamaan warga. Semoga.

Penulis
Imam Muhlis Aly, S.Pd.I
Pendidik di Madrasah Darun Najah

Foto-foto Makam Mbah Ronggo kusumo Ngemplak Kidul dan Petilasan beliau di Cendono Dawe Kudus.

patinews.com

redaksi@patinews.com

Share
Published by
patinews.com

Recent Posts

Mahasiswa KKNT UPGRIS Gelar Webinar Bijak Berikan Gawai pada Anak

EDUKA, PATINEWS.COM Kuliah Kerja Nyata atau yang sering disebut dengan KKN merupakan sebuah program yang…

15 September 2020

Digelar Virtual, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Pati Peroleh Materi Wasbang

PATI, PATINEWS.COM Dalam rangka memupuk kecintaan kepada Negara dan Bangsa, tidak henti-hentinya Kodim 0718/Pati memberikan…

15 September 2020

Banser Pengawal Ulama’ Kyai, Habib dan NKRI

Penulis : Imam Muhlis Ali, S.Pd I* Sudah kesekian kali beberapa penceramah agama, pesohor, pejabat…

15 September 2020

Rapat Paripurna DPRD Pati, Bahas Penyertaan Modal Perumda

Rapat Paripurna DPRD Pati, Bahas Penyertaan Modal Perumda PATI, PATINEWS.COM Guna memaksimalkan Badan Usaha Milik…

15 September 2020

Siswa MI Darun Najah Ngemplak Kidul, Raih Medali Emas Karate America Championship 2020

Siswa MI Darun Najah Ngemplak Kidul, Raih Medali Emas Karate America Championship 2020 MARGOYOSO, PATINEWS.COM…

15 September 2020

Sosialisasi Jam Malam, Ini Yang Dilakukan Muspika Tlogowungu

TLOGOWUNGU, PATINEWS.COM, Muspika Tlogowungu beserta anggota Koramil 13/Tlg,  Polsek Tlogowungu dan Satpol PP  Kecamatan Tlogowungu …

15 September 2020