
Indonesia dengan segala keindahannya, salah satunya pemandangan yang luar biasa yang disayangkan jika hanya melihat dari kejauhan tanpa di eksplore dan dinikmati. Gunung Semeru beserta keindahannya hanyalah segelintir dari contoh nyatanya. Gunung Semeru sendiri sangat populer bagi kalangan pendaki dan pecinta alam secara khusus, bahkan membuat mereka yang belum pernah menaklukkannya sangat ingin untuk mencapai puncaknya.
Menaklukkan Gunung Semeru bisa dikatakan merupakan impian setiap pendaki dan pecinta alam di Indonesia. Kepopuleran Gunung Semeru tak lepas dari keindahan alam yang ditawarkannya. Gunung tertinggi di Pulau Jawa, tertinggi ketiga sebagai gunung berapi di Indonesia ini, memiliki Puncak Mahameru sebagai puncak tertingginya dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Gunung Semeru termasuk dalam peta wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Dan yang mungkin paling dikenal mengenai Gunung Semeru sendiri adalah, paling tidak menurutku, salah satu dari sekian banyak gunung di Indonesia yang paling susah ditaklukkan.
Pendakian akan selalu terkenang jika diceritakan dan dituliskan. Dari banyak pengalaman yang telah aku dapatkan selama traveling ke banyak tempat, pendakian ke Gunung Semeru memiliki cerita sendiri yang menurutku akan sangat susah dilupakan. Gunung berapi aktif ini menantang kami untuk menaklukkannya, dan bulan Desember 2019 lalu, aku dan rombongan pun merasa terpanggil untuk menjawab tantangannya.
Meeting point ditetapkan di rumah salah satu rombongan kita, lokasi yang jauh membuat kita untuk bersiap siap melakukan perjalanan panjang, kala itu rombongan kami memiliki 4 orang anggota. Tanggal 19 Desember 2019 berkumpul di rumah saya dan kami memulai perjalansan. Dari Demak jawa tengah kami memulai perjalanan dengan naik sepeda motor menuju kota Malang jawa timur. Sekitar 10 jam perjalanan dari jam 7 pagi, kami tiba di kota malang jawa timur sekitar pukul 10 malam. Kemudian kami satu rombongan beristirahat di rumah saudara saya yang ada di kota malang sampai menunggu pagi tiba.
Pagi telah tiba, akhirnya kami satu rombongan bergegas menyiapkan segala perlengkapan yang sudah kami bawa dari rumah, tak lupa kami juga sarapan terlebih dahulu sambil menikmati suasana kota malang yang sangat asri. Perjalanan kami mulai, kala itu kami memilih Jalur Ranu Pani Tumpang sebagai jalur utama kami untuk menaklukkan Gunung Semeru, jadi kami menuju Tumpang di Kabupaten Malang.
Sepeda motor yang kami kendarai dari rumah tak lupa kami priksa agar pada saat melakukan perjalanan ke ranu pane tidak ada kendala, tanjakan demi tanjakan kami lewati dengan susah payah, konsentrasi tinggi sangat di perlukan saat mengendarai kendaraan bermotor, apalagi fisik kita semua sudah di kuras habis pada saat perjalanan dari demak menuju kota malang. Tak lupa kami beristirahat untuk memulihkan stamina kita supaya kuat melanjukan perjalanan sampai di basecamp ranu pani. Di tengah perjalanan kami berhenti di sebuat toko untuk membeli segala perlengkapan dari mulai konsumsi, obat obatan, sampai makanan ringan, karena kami harus mempersiapkan dengan matang untuk bekal selama pendakian di gunung semeru. Setelah membeli perbekalann kamipun melanjutkan perjalanan ke basecamp ranu pani, kala itu kami tiba di Ranu Pani sekitar pukul 6 sore, sementara jalur pendakian ditutup mulai jam 4 sore dan dibuka keesokan harinya pukul 7 pagi setiap harinya. Karena terlambat pada hari itu, kami memutuskan untuk menginap di basecamp Jalur Ranu Pani yang kebetulan kebetulan gubuk di sana dan bisa dihuni oleh sekitar 3 rombongan atau maksimal 20-an orang. Beralaskan sleeping sebagai peralatan wajib, kami pun menghabiskan malam di basecamp. Esok paginya kami sudah standby di Pos Perizininan sekitar pukul 6 pagi.
Tentu kami mendapat briefing mengenai situasi dan tips pendakian guna lebih mempersiapkan mental agar lebih siap selama pendakian. Rombongan kami juga mendapatkan pemeriksaan peralatan. Perlu diketahui, salah satu syarat utama dalam pendakian ke Gunung Semeru merupakan peralatan dan fisik; untuk peralatan sendiri setiap anggota harus memiliki 1 buah sleeping bag. Bagi yang tidak membawa bisa menyewanya di berbagai tempat penyewaan/toko outdoor gears sekitar dengan harga Rp 20.000,- sehari khusus sleeping bag.
Pos Perizinan sendiri buka pukul 7 pagi. Jadi selama briefing sebelum mendaki Gunung Semeru, kami juga punya kesempatan untuk stretching dan sarapan. Sekitar pukul 9.30 pagi kami memulai pendakian. Starting point pendakian kami adalah Ranu Pani, Tumpang, melewati perkebunan warga dengan jalan beraspal di sepanjangnya hingga gerbang akhir di kaki Gunung Semeru sekitar 500 meter ke depan. Ketika gerbang akhir kami lewati, jalanan yang sebelumnya beraspal berganti menjadi paving block. Adrenalin kami mulai terpacu ketika itu. Dengan santai tanpa terburu-buru sedikit pun kami menikmati waktu selama pendakian.
Kondisi jalanan dari Ranu Pane menuju Landengan Dowo masih berbentuk paving, jadi menurutku masih sedikit mudah. Jarak totalnya dari Ranu Pane Menuju Landengan Dowo adalah 3,5 KM atau rata-rata memakan waktu 1,5 hingga 2 jam untuk pendakian santai. Di sini kita masih bisa melihat perkebunan warga di sepanjang perjalanan. Dari Landengan Dowo menuju Watu Rejeng, pendakian sudah mulai memasuki hutan. Butuh waktu yang sama untuk tiba di Watu Rejeng. Meski sudah mulai merasakan suasana hutan, jalurnya masih bisa dikategorikan sebagai jalur mudah.
Di sini suhu dingin sudah mulai terasa meski belum akan membuat kita menggigil. Tak lupa untuk menyebutkannya, di sepanjang jalur ini kita juga akan melewati ‘Jembatan Cinta’, sebuah jembatan kecil di atas sebuah kali/sungai. Setelah total mendaki Gunung Semeru selama kurang-lebih 4 jam, atau 2 jam dari Watu Rejeng, rombongan kami tiba di Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo sendiri sudah sangat populer keindahannya, bahkan di luar negeri. Banyak sesama pendaki kala itu yang hanya mendaki Gunung Semeru untuk berkunjung ke Ranu Kumbolo, tidak sampai ke Puncak Mahameru.
Karena Ranu Kumbolo sendiri merupakan tempat yang sangat direkomendasikan untuk mendirikan tenda, kami pun memutuskan untuk bermalam di Ranu Kumbolo sambil tentunya menikmati keindahannya. Di Ranu Kumbolo terdapat sebuah danau alami yang sangat indah. Meski airnya sangat jernih, pengelola Taman Nasional Gunung Semeru tidak memperbolehkan siapapun untuk mandi di sana agar tidak mencemari airnya, terlepas dari dinginnya suhu tentunya.
Di tengah suasana teduh dan indahnya pemandangan sekitar, kami mendirikan tenda di tengah puluhan tenda pendaki lainnya. Keindahan di sekitar danau Ranu Kumbolo membuat siapapun akan takjub. Inilah yang terjadi pada kami semua ketika itu. Bagiku, sepasca meninggalkan Ranu Kumbolo dan melanjutkan pendakian menuju Puncak Mahameru, perjalanan yang sebenarnya justru dimulai ketika meninggalkan Ranu Kumbolo. Alasannya; trek pendakian jauh lebih susah, suhu menjadi lebih ekstrim, spot-spot inti atau populer mulai dilewati, dan Puncak Mahameru sudah mulai terlihat.
Menuju Oro Ombo dari Ranu Kumbolo, setiap pendaki tentu harus melewati sebuah tanjakan yang terkenal dengan julukan ‘Tanjakan Cinta’. Sebutannya sendiri memang catchy dan unik. Selain karena menguras tenaga ketika melewatinya tentunya, penamaan Tanjakan Cinta sendiri berdasar pada sebuah mitos. Menurut teman pendaki rombongan lain kepadaku, penamaan ini dilakukan karena konon katanya; jika melewati Tanjakan Cinta sambil membayangkan orang yang kita cintai tanpa menoleh ke belakang, kelak ia akan menjadi pasangan hidup kita.
Sayangnya ketika melewatinya dan mengetahui mitosnya, aku sudah sempat menoleh ke belakang. Sekitar 40 menit perjalanan dari Ranu Kumbolo – Jembatan Cinta – Oro Ombo dengan jarak total 1 Km, kita diberi kesempatan menikmati keindahan tumbuhan Lavender. Oro Ombo atau Oro-Oro Ombo sendiri merupakan sebuah lahan luas berisikan tumbuhan Lavender yang tingginya setinggi manusia dewasa. Jalur setapak yang dilewati pendaki menjadi pembelah lahan tersebut. Meski indah, namun aku sarankan untuk hati-hati dalam melangkah karena banyak sekali ‘ranjau’ atau bekas hajat manusia yang mungkin akan luput dari pandangan ketika melewatinya.
Mungkin karena tempatnya tertutup, Oro Ombo ini sering dijadikan tempat favorit untuk buang hajat. Ketika kita sampai di Oro Ombo, berarti kita secara resmi telah berada di ketinggian 2.460mdpl. Dari Oro Ombo menuju Cemoro Kandang akan memakan waktu sekitar 30-45 menit pendakian santai. Jalur pendakiannya pun menawarkan ‘bonus’ berupa jalur datar. Dari Cemoro Kandang menuju Jambangan tidak jauh beda waktu yang akan dibutuhkan dari sebelumnya. Banyak tumbuhan indah bisa ditemui di Pos Jambangan ini, salah satunya tentu saja Edelweiss.
Dari Jambangan, kami memasang target untuk bisa tiba di Kalimati lebih awal agar memiliki kesempatan untuk mendirikan tenda demi bermalam sekali lagi. Memang lahannya luas sehingga bisa menampung banyak rombongan, namun ketika itu rombongan yang mendaki Gunung Semeru sangat banyak, jadi tentunya kami berantisipasi. Tiba sekitar 30 menit, kami langsung mendirikan tenda di tengah puluhan tenda yang sedikit mengapit kami. Hal buruknya, ruang gerak kami menjadi sedikit terganggu. Dan hal baiknya, angin kurang leluasa untuk menampar kami selama bermalam. Ketinggian sudah mencapai 2.700mdpl ketika kita berada di Kalimati.
Setelah bermalam, kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian pada malam hari sekitar pukul 11 demi kesempatan untuk menikmati Sunrise dari Puncak Mahameru. Meski tempat yang dianjurkan untuk bermalam adalah Arcopodo, kami menghemat waktu sebaik-baiknya agar kesempatan ini tak kami lewatkan.
Tak sesuai dari rencana awal, berangkat dari jam 11 malam dari Kalimati, kami harus menunda perjalanan karena terjadi badai. Kami harus menunggu badai reda selama sekitar 8 jam. Menahan dingin? Tentu saja. Bahkan satu per satu korban hipotermia mulai berjatuhan kala itu. Demi menaklukkan Puncak Mahameru, kami rela menunggu selama 8 jam di perjalanan sambil menikmati Sunrise yang cukup indah, meski tak sesuai rencana awal.
Sekitar pukul 8 pagi setelah menunggu badai reda, kami tiba di Puncak Mahameru. menuju Puncak Mahameru, Gunung Semeru, Jawa Timur terbayar ketika rombongan Perjuangan pendaki kami tiba di sana. Kami berhasil menaklukkannya, terlepas dari banyaknya rintangan di perjalanan, dan itu merupakan sebuah kebanggaan dan pengalaman yang tak terlupakan bagi kami semua. Pemandangan yang ditawarkannya luar biasa mengagumkan. Dan yang lebih mengagumkan lagi, kami semua berhasil menaklukkannya dengan kemampuan kami sendiri.
Puncak Mahameru, Gunung Semeru, Jawa Timur memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani, serta gunung dengan puncak tertinggi keempat di Indonesia setelah Kartenz, Kerinci, dan Rinjani. Total waktu pendakian bisa mencapai 10 – 13 jam, tergantung fisik dan kondisi pendakian. Jika terjadi badai akan sangat mungkin untuk menunda pendakian selama beberapa jam atau bahkan membatalkan pendakian ke Puncak Semeru. Suhu atau iklim di waktu melakukan pendakian juga sangat menentukan
Penutup
Gunung Semeru menjadi salah satu destinasi favorit para pecinta alam, terutama pendaki. Keindahan di sekitarnya entah itu Ranu Kumbolo, Kalimati, Oro Ombo bahkan Puncak Mahameru menjadi bagian tak terpisahkan dari Gunung Semeru sendiri. Bagiku Gunung Semeru harus ditaklukkan minimal sekali dalam seumur hidup. Pengalaman pendakian ke Gunung Semeru untuk menaklukkan Puncak Mahameru akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi hidupmu, setidaknya sudah menurutku. Selamat menaklukkan dan salam pendaki!
Penulis: Mukhammad Niam






