
Berikut ini sebuah wawancara santai PatiNews (PN) dengan DS Priyadi (DS) salah satu penggagas brand yang sedang digemari masyarakat Pati Kipasoak. –red
PN: Bisa Anda ceritakan sejarah Kipasoak didirikan?
DS: Sebenarnya ada unsur aksidentalnya ya. Gak terlalu direncanakan. Waktu itu tahun 2015, di Yogya, usaha saya di bidang desain grafis dan cetak, Baraka Grafika, lagi sepi. Jadinya yang bantu-bantu pada nganggur. Ya sudah, tanpa kesepakatan, naluriah saja, teman-teman pada mencoba survive dengan caranya sendiri-sendiri.
Yang pinter motret, cari orderan pre wedding. Yang IT pada bikin web portal. Ada yang mendesain untuk marketplace online di 99 designs. Ada yang buka angkringan. Macem-macemlah.
Nah, adik saya, Abdullah Jamil, yang tadinya terlibat menangani pra produksi cetak Baraka Grafika waktu itu masih bingung mau apa. Untuk memulai satu usaha terlalu banyak kendala. Modal, relasi, maupun ketrampilan marketing semuanya terbatas.
Setelah browsing sana-sini, yang paling mungkin dicoba adalah usaha dropship.
Cukup berbekal laman fb, lalu mengupload produk-produk orang lain di situ. Waktu itu ia berkonsultasi sama saya mengenai produk apa yang prospek. Lalu saya sarankan jualan jilbab. Saya lihat banyak produk-produk jilbab lalu-lalang diiklankan di sosial media. Artinya, pasar siap, produknya berlimpah.
Ya sudah, terus dicoba. Bikin toko online Almadinah Store. Disamping fb, juga di Bukalapak dan Tokopedia. Tapi kendala lagi. Kok gak ada yang respon? Nah, pas temen-temen pada ngumpul soal itu dibicarakan. Akhirnya terjadi semacam studi pemasaran online. Alhamdulillah, ada hikmahnya, minimal temen-temen bisa ngumpul-ngumpul lagi karena ada hal yang bisa menarik secara kolektif.
Itu memang menarik ya. Misalnya, untuk beriklan di fb, kita mesti menentukan tujuannya terlebih dahulu. Lalu membuat target audience. Nah di situ kita bisa tahu, semua ternyata berbasis database dan statistik. Coba saja Anda lihat statistik report nya fb. Detil sekali itu.
Akhirnya sedikit-sedikit kami mulai ngerti. Basis pemahaman pemasaran ini menjadi pilar penting berdirinya Kipasoak. Oiya, soal marketing online ini kami juga disuntik ilmu teman-teman kami dari Blitar, kolega kami yang mengelola usaha Argiacyber Nusantara. Kebetulan kami bekerja sama mengelola salah satu situs oasemuslim.com.
Tapi Kipasoak waktu itu belum ada. Adanya ya Almadinah Store tadi, yang dikelola Abdullah Jamil. Saya dan teman-teman turut terlibat membantu. Awalnya jualan jilbab saja. Lalu baju koko. Lalu peci. Yang produk-produk muslim. Ngimpinya, pingin jualan sambil dakwah gitu. Hehehe.
Laku, tapi tidak berkembang. Sibuknya gak sebanding dengan income yang diperoleh. Ya karena njualin produk orang lain. Trus kita rembug bersama. Kesimpulannya, kita mesti bikin produk sendiri. Tapi apa? Modalnya dari mana?
Karena rata-rata orang desain, ada yang punya ide buat kaos. Setuju semuanya. Saya lalu usulkan produknya segmentif, kaos Pati, karena saya orang Pati. Artinya, jika mau mengeksplorasi konten lokal tentu lebih menguasai literaturnya ketimbang di daerah lain. Nah, berangkat dari situlah Almadinah store bermetamorfose menjadi Kipasoak. Begitu.
PN: Mengapa memilih nama Kipasoak?
DS: Itu nama usulan dari saya: Kaosapik, tapi dibaca dari belakang. Jadinya Kipasoak. Awalnya, temen-temen banyak yang gak suka. Tapi menurutku bunyinya unik: Kipasoak! Seperti bahasa apa gitu. Kan untuk menarik memang harus unik. Dan juga nakal. Seperti Dagadu itu unik. Joger juga unik. Kalau awalnya sih pake nama Pati-Tshirt. Temen-temen saya kritik, itu umum. Disamping juga di Pati sudah ada brand Pati Oblong yang punyanya bu Padmi. Kalau Pati Oblong bagus. Nuansanya lugas dan tegas. Bunyinya juga proyektif-resonansif. Kalau Pati-Tshirt jelek. Lemah dimana-mana dalam soal impresi. Saya bilang begitu ke teman-teman begitu. Dengan terpaksa akhirnya mereka menerima usul saya… hehehe.
PN: Bisa Anda ceritakan seperti apa konsep prodak Kipasoak?
DS: Seperti namanya, Kipasoak — maksudnya kaos apik ya– ya kita berusaha membuat kaos dengan standar kualitas yang baik. Maksudnya dari segi bahan dan kerapian. Semua produk Kipasoak menggunakan bahan katun yang adem. Di luar itu, adalah soal konten yang disajikan. Mesti unik. Itu koridor kreatifnya.
PN: Maksudnya?
DS: Artinya, kalau sekedar jualan kaos, tentu di mana-mana orang bisa mendapatkan. Di pasar, di mall, di toko-toko, di kaki lima, banyak kaos dijual di situ. Banyak sekali pilihan. Kalau Kipasoak menjual produk yang serupa, ya terus apa bedanya. Nah, untuk diferensiasi ini, pembedaan ini, kita bikin produk yang unik. Dan unik ini ada 2: ada yang unik eksentrik, ada yang unik autentik.
Jangan lupa eksentrik itu juga unik ya. Tapi obyek eksplorasinya berbeda. Misal, anti nilai itu kan unik. Contohnya, kaos dengan tulisan FU*k ! Misuh. Atau sadis, misal, kaos dengan tulisan, maaf, tak palu ndasmu! Atau serem, seperti kaos bergambar tengkorak dengan pisau menancap melelehkan darah. Nah, kita tidak memilih ekspresi eksentrik seperti itu.
Kita milih yang unik autentik. Yang nilai uniknya memang dari hasil kerja pemikiran dan kerja kreatif. Contoh, desain pertama Kipasoak, Pati Cilik Ngangeni. Sepintas memang biasa saja. Tapi seleksi diksinya sudah ketat ditinjau dari berbagai sisi. Tentu kita sama-sama insyaf, secara primordial siapa saja memiliki kerinduan terhadap tanah kelahiran.
Yang begitu sudah universal. Juga, kata Cilik di sini sengaja dipilih karena faktanya Pati memang kota kecil. Kan kecil juga bukan hal jelek. Yang realistis itu kan bagus. Mampu melihat diri secara obyektif itu bagus. Jujur kan bagus to? Seterbatas apapun yang kita punya, itulah diri kita. Kalau kita wong Pati masa ya kita kangen dengan kota Jakarta, misalnya. Kan nggak to?
Itu sama dalam kehidupan sehari-hari. Kita punya seorang adik yang terbatas dalam berbagai hal, masa ya kita lalu menyayangi adik orang lain yang kita anggap sempurna. Ibu kita mungkin tidak sempurna, anak kita mungkin tidak sempurna, paman kita mungkin tidak sempurna, termasuk tanah kelahiran kita juga tidak sempurna. Tapi kita tidak ada alasan untuk mengingkari mereka. Merkalah alamat cinta dan pengabdian kita. Berangkat dari pemikiran itu, jadilah desain pertama Kipasoak Pati Cilik Ngangeni.
Ada pula quote yang kita bikin desain, Seneng disyukuri, susah disabari. Yang model quote begini dimaksudkan supaya Kipasoak juga punya konten yang edukatif. Sebenarnya kutipan ini diilhami ayat Alquran lho. Itu di surat Al-Maarij, ayat berapa ya? 19-21 ya? Di situ digambarkan sifat umum manusia yang ketika ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Nah, kita transformasikan dalam bahasa yang populer supaya cair dan komunikatif. Jadinya Seneng disyukuri, susah disabari.
Dari aspek identity building kita juga mengangkat bahasa-bahasa yang khas Pati. Disamping jualan kita niatkan untuk membantu city branding kota Pati. Kita seneng-lah bisa kontributif sesuai bidang yang kita bisa. Dan alhamdulillah, dalam hal ini Pati memang beda dari daerah-daerah lain. Kita patut bangga. Masyarakat Pati punya ungkapan yang khas seperti Gage go, Piye Leh, ‘Ra ndandeh, dan banyak lagi. Ini mempermudah kerja tim desain karena mereka bisa berfokus pada aspek artistiknya: olah typografi, grafis, komposisi, visual komunikasi, dll.
PN: Baik, Bagaimana strategi Kipasoak berkompetisi dengan brand-brand lain yang ada di Pati?
DS: Kalau kami tidak memiliki spirit bersaing begitu ya. Dengan rekan-rekan tim kreatif dan terutama yang ada di pos penjualan toko, saya menekankan supaya menganggap brand lain justru sebagai partner. Kita kan harus saling menghormati kan. Syukur bisa saling mendukung. Kalau ada yang cari desain ini-itu yang di Kipasoak tidak ada malah kita rekomendasikan ke brand lain.
Misal yang cari model kartun-kartun, kan kita tidak punya. Maka kita rekomendasikan ke Pati Oblong yang sebagian desainnya cartoon style. Selalu begitu. Ada konsumen bahkan sudah bawa gambar kaos yang mau dibeli, tapi bukan desain kita, maka kita informasikan brand pembuatnya ke dia. Kita memfokuskan energi untuk memperbaiki diri, baik dari segi produk maupun pelayanan. Jadi gak ada strategi begini begitu. Kalau yang kita sajikan baik, masyarakat pasti ngertilah.
PN: Untuk pemasarannya sampai mana saja Mas?
DS: Di Pati saja. Tapi kalau dilihat database konsumennya, pembeli Kipasoak wilayah Karesidenan. Kudus, rembang, Purwodadi, sudah banyak yang membeli produk Kipasoak.

PN: Tidak tertarik menggarap pasar di daerah lain?
DS: Ooo, tertarik dong. Itu sedang kita jajagi probabilitasnya.
PN: O, iya Mas. Bisa ceritakan tentang siapa-siapa yang berada di belakang Kipasoak?
DS: Secara formal ownernya saya. Tapi pelopor awalnya sebenarnya adik saya Abdullah Jamil, yang sekarang menempati pos produksinya. Dalam pengembangannya adik-adik saya yang lain terlibat. Mbak Iswati sebagai manager distronya. Ada Dwi Saputro membantu pengembangan produk dengan urunan modal. Muhammad Latif juga terlibat. Jadi ini usaha keluarga. Kalau yang membantu di Yogya ada Mas Agus, Mas Yosef, dan Mas Eko Nugroho.
PN: Aslinya Pati mana Mas?
DS: Saya dan keluarga dari desa Talun. Tapi saya bermukim di Yogya.
PN: Wah, ini banyak terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk ngobrol. Semoga Kipasoak semakin berjaya Mas.
DS : Hehehe… Amiiiin. Matur nuwun juga.
(pn/ds)






