
Penulis: Kartika Larasati
Usia senja tak memudarkan semangatnya untuk tetap bisa memajukan usaha yang di bangunnya sejak kurang lebih 25 tahun silam. Iya, Bapak Slamet namanya. Beliau merintis karirnya mulai dari usia muda. Beliau sempat merantau di Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan sablon disana. Setelah beberapa tahun bekerja di Jakarta, akhirnya beliau memutuskan membangun usaha sablon sendiri di kampung halaman.
Usaha sablon Bapak Slamet masih menggunakan tenaga manual, yaitu tenaga manusia. Beliau belum menggunakan mesin untuk produksi sablonnya. Terdapat berbagai alat juga disana, seperti alat potong, alat las plastic dan lain sebagainya. Di tahun 2000 an, usaha sablon Bapak Slamet berkembang dengan pesat. Karyawan beliau cukup banyak, kurang lebih 15 orang. Dalam usaha rumahan karyawan tersebut sudah termasuk banyak, sebanding dengan orderan yang datang. Karyawan Bapak Slamet rata-rata tetangganya sendiri.
Beliau mengajak mereka untuk bekerja demi mensejahterakan perekonomian mereka. Dulu, karyawannya banyak yang belum berumah tangga. Lambat laun, karyawan beliau pun satu persatu mulai berkurang, karena mereka sudah berumah tangga. Gaji dari menyablon dirasa belum bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sepenuhnya. Jadi, mereka banyak yang keluar dan mencari perkerjaan lain. Memang, gaji dari hasil sablon tidak seberapa. Dilihat dari konteks usaha tersebut adalah usaha di bidang jasa. Jadi, jika tidak ada orderan secara rutin, kebanyakan dari mereka memang diliburkan.
Sampai pada akhirnya tempat sablon Pak Slamet hanya tinggal 2 karyawati saja. Dengan 2 karyawati tersebut, sablon Bapak Slamet masih terus beroprasi. Kemudian setelah keponakannya lulus sekolah, kemudian ia ikut membantu meneruskan usaha sablon tersebut. Keponakannya bekerja juga di tempat sablon itu. Kemudian salah satu karyawati memutuskan untuk berhenti bekerja, dengan alasan yang sama seperti karyawan-karyawan sebelumnya yaitu karena sudah berumah tangga. Lagi-lagi tinggal 2 karyawan. Karyawati yang telah lama bekerja dengan beliau dan sudah menjadi tangan kanan beliau akhirnya pun memutuskan untuk resign. Itu salah satu pukulan luar biasa yang di hadapi Bapak Slamet, karena orang kepercayaannya memutuskan untuk resign. Bapak Slamet pun sempat sakit. Mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya begitu banyak, dan beliau juga harus membiayai pendidikan kedua anaknya. Waktu itu anak pertama beliau mengenyam pendidikan di perguruan tinggi swasta di Kota Kudus, dan anak kedua masih SMP. Belum lagi beliau sempat ditipu oleh customernya, karena tagihan tidak dibayar.
Usaha beliau tidak hanya sampai disitu. Bapak Slamet masih menekuni usaha sablonnya di bantu oleh keponakannya. Beliau sempat membuka lowongan kerja, dan setelah itu mulailah ada beberapa orang menawarkan untuk bekerja di sablonannya tersebut. Mulai dari situ perlahan-lahan usaha sablon beliau kembali normal lagi. Saat ini karyawan beliau ada 8 orang. Setiap harinya selalu beroprasi kecuali hari Minggu. Selain usaha sablon, beliau juga menyediakan jasa printing. Mulai dari cetak undangan, print, sampai design. Dibantu oleh anak kandungnya yang sudah lulus kuliah. Beliau sekarang masih menyekolahkan anak keduanya di perguruan tinggi yang sama seperti anak pertamanya dulu. Kini usahanya maju dengan pesat. Orderan terus berdatangan. Alatnya pun sudah mulai memadahi. Pak Slamet kini juga membangun sebuah tempat untuk toko persis didepan rumahnya, yang nantinya akan dijadikan sebagai fotokopi.
Semakin tinggi pohon yang tumbuh, maka akan semakin tinggi pula angin yang menerpa. Mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan bagaimana sulitnya mempertahankan bisnis atau usaha yang beliau miliki. Di balik majunya sablon rumahan terdapat sebuah kesabaran, kerja keras dan tekad yang kuat dari Bapak Slamet.






