Cari Tahu Perilaku Ekologis Pendaki di Pegunungan Muria, MRC Indonesia Gelar Riset
Pendaki gunung merupakan sekumpulan orang yang mempunyai kesamaan hobi mendaki gunung. Pendakian merupakan kegiatan di alam bebas yang belakangan ini banyak diminati oleh kalangan masyarakat. Kegiatan mendaki memerlukan persiapan sangat cukup dari segi fisik maupun mental, pengetahuan tentang alam serta mampu melakukan persiapan dengan baik. Kegiatan pendakian gunung adalah kegiatan penuh tantangan, tetapi kadang juga sebagai kegiatan yang bersifat sangat ekstrem untuk individu. Seseorang akan mendapatkan rasa kepuasan sendiri bila mampu mencapai puncak gunung serta dapat menyaksikan indahnya kawah gunung dari jarak yang sangat dekat (Nurlitasari dan Rohmatun, 2017).
Cerita pendakian gunung dan aktivitas di alam selalu menjadi kisah yang menarik untuk diceritakan, terkesan sangat heroik sekaligus membanggakan dan mengenaskan. Para pionir pendaki gunung Indonesia berupaya menjelajahi tujuh puncak dunia dan puncak-puncak gunung yang ada di Indonesia dan dunia. Dari perjalanan petualangan Indonesia dalam mendaki gunung di dunia, terutama pencapaian tujuh puncak dunia, Mapala UI harus merelakan Norman Edwin dan Didiek Samsu gugur di Gunung Aconcagua, Maret 1992, sampai pencapaian anggota TNI Kopassus, Asmujiono yang berhasil mencapai puncak gunung Everest, April 1997 dan pemberitaan kontroversi keberhasilan Clara Sumarwati mencapai puncak Everest, 26 September 1996.
Kecelakaan dalam pendakian kerap terjadi di Indonesia. Kecelakaan terjadi karena berbagai faktor, mulai dari kurangnya persiapan hingga kondisi alam yang sedang tak bersahabat. Menurut data yang dihimpun Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau yang dikenal dengan BASARNAS, kecelakaan pendakian mengalami peningkatan dalam empat tahun terakhir. Pada tahun 2015, tercatat 12 kecelakaan pendakian terjadi yang menyebabkan 2 pendaki meninggal dunia, 4 pendaki ditemukan sakit, dan 6 pendaki ditemukan dalam keadaan selamat. Jenis kecelakaan pendakian selama tahun 2015 antara lain 8 kejadian pendaki mengalami kelemahan fisik saat mendaki, 2 kejadian pendaki tertimpa batu, 1 kejadian pendaki terperosok ke dalam jurang, dan 1 kejadian pendaki tersambar petir.
Puncaknya petualangan pendakian gunung dalam pencapaian tujuh puncak dunia dicatatkan empat anak muda yang tergabung dalam Mahitala (Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam) yaitu Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Janatan Ginting dan Broery Andrew Sihombing telah menorehkan sejarah, bukan karena keinginan untuk menjadi orang nomer satu Indonesia dalam menggapai tujuh puncak dunia atau the seven summiteers tetapi lebih dalam lagi, ini aktivitas nyata yang bisa diberikan anak muda Indonesia dengan penuh semangat nasionalisme untuk mengangkat nama Indonesia di dunia dan menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa Indonesia.
Ketercapaian ini di susul oleh Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri) yang juga telah menyelesaikan pendakian tujuh puncak dunia tahun 2012 dan 2013 sehingga tercatat negara kita memiliki 8 orang yang telah mendaki tujuh puncak dunia. . Keriuhan akan mendaki gunung menjadi booming manakala tanggal 12 Desember 2012 muncul film 5 cm, film drama Indonesia yang diadopsi dari sebuah novel dengan judul yang sama dengan lokasi puncak tertinggi Jawa di Gunung Semeru atau Mahameru. Film tersebut sangat bagus dibuat dengan cerita empati persahabatan dan mencoba untuk menggugah penonton agar mencintai negeri ini, terutama alamnya.
Hanya sayangnya, secara instan dijadikan contoh oleh para pendaki awal atau amatiran dengan asumsi bahwa naik ke gunung Semeru sangat mudah, tidaklah para calon pendaki tahu harusnya memiliki pengalaman untuk mendaki dulu dari gunung ke gunung, yang antar gunung tidaklah sama kondisinya, kemudian melatih fisik dan persiapan logistik, perlengkapan yang lengkap dan tentunya tidak sekedar hanya modal ‘nekad’. Film 5 cm secara tidak langsung telah mematik banyak orang yang dadak menjadi pendaki gunung, tanpa pernah mendaki gunung di sekitarnya terus mencoba untuk mendaki G.Semeru.
Gerombolan penikmat alam, menjadikan alam sebagai obyek, naik gunung hanya sekedar untuk menunjukkan eksistensi diri, ‘saya pernah mendaki gunung a, b, c terus apa yang dilakukan setelah naik gunung a, b, c ? hanya pengalaman pribadi, foto selfie dan menguji diri. Sekedar itu yang didapat.
Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan yang tidak selalu merupakan kemajuan yang memberikan keuntungan bagi alam. Bahkan semakin hari semakin menunjukkan kecenderungan untuk lebih banyak merugikan bagi alam. Ini yang acapkali dilakukan oleh para pendaki yang tidak peduli dengan kondisi lingkungan di gunung yang di daki dengan perilakunya membuang sampah sembarangan, mencemari air dengan bahan-bahan kimia pabrik yang dibawa dari kota, melakukan vandalisme, hanya menuruti keinginan sendiri untuk berselfie, tidak menghormati kearifan lokal dan gaya hidup yang tidak beradaptasi dengan lingkungan masyarakat sekitar (Widjanarko, 2015).
Tren pendakian gunung membuat volume sampah di gunung meningkat. Perlu perhatian khusus untuk mencegah dampak buruk terhadap lingkungan. Komunitas peduli sampah gunung dan hutan Indonesia, Trashbag Community mencatat sejumlah problematika di sektor lingkungan kian bermunculan, seiring dengan meningkatnya aktivitas pendakian gunung-gunung Indonesia. Catatan Trashbag Community, tak kurang dari 2,4 ton atau lebih dari 600 kantong sampah berhasil dikumpulkan dari 15 gunung di Indonesia pada gelaran operasi bersih bertajuk Sapu Jagad yang digelar pada 2015. Sampah plastik mendominasi dengan persentase 36 persen atau sekitar 769 kilogram, disusul sampah botol plastik 23 persen atau mencapai 491 kilogram dan sampah puntung rokok 10 persen atau berkisar 213 kilogram (Prodjo, 2017).
Secara administrasi kawasan Pegunungan Muria terletak pada 3 kabupaten dan 20 kecamatan. Kawasan Muria pada kabupaten Kudus meliputi 3 kecamatan yaitu : Kecamatan Dawe, Kecamatan Gebog dan Kecamatan Jekulo. Kawasan Muria di Kabupaten Jepara meliputi 9 kecamatan yaitu : Kecamatan Bangsri, Kecamatan Bate Alit, Kecamatan Donorojo, Kecamatan Keling, Kecamatan Mayong, Kecamatan Nalumsari, Kecamatan Pakishaji, Kecamatan Pecangaan dan Kecamatan Tahunan. Kabupaten Pati meliputi 8 kecamatan yaitu : Kecamatan Cluwak, Kecamatan Dukuhseti, Kecamatan Gembong, Kecamatan Gunungwungkal, Kecamatan Margorejo, Kecamatan Margyoso, Kecamatan Tayu dan Kecamatan Tlogowungu.
Sedangkan kawasan pada wilayah kelola Unit I Perum PERHUTANI pada wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan Pati (KPH Pati) adalah 11.247,7 ha yang yang berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi hutan produksi 2.963,7 ha, hutan produksi terbatas 5.431,4 ha, dan hutan lindung 2.852,6 ha. Sedangkan berdasarkan wilayah administratif terbagi dalam wilayah Kabupaten Pati 2.648,1 ha, Kabupaten Kudus 1.951,5 ha, dan masuk wilayah Kabupaten Jepara 6.648,1 ha. Keseluruhan kawasan merupakan bagian dari lima DAS/Sub-DAS, yaitu Juwana, Tuntang, Banjaran, Tayu, dan Balong. Persoalan besar pada kawasan Gunung Muria, adalah kerusakan lingkungan yang tergolong parah (Widjanarko, 2018).
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas, maka pertanyaan penelitian yang diangkat peneliti adalah bagaimana perilaku ekologis pendaki gunung di Pegunungan Muria?
Kerangka berfikir penelitian kami gambarkan pada gambar 1 sebagai berikut:
Tujuan Penelitian ini adalah untuk memetakan, menganalisis dan menemukan perilaku ekologis pendaki gunung di Pegunungan Muria sedangkan manfaat penelitian: pertama, adanya data dasar terkait dengan perilaku ekologis pendaki gunung di Pegunungan Muria. Kedua, memberikan informasi bagi pendaki gunung, pemerintah Kabupaten Kudus, Jepara dan Pati serta Perhutani KPH Unit I Pati berhubungan dengan perilaku ekologis pendaki gunung di Pegunungan Muria.
Penelitian kuantitaif dalam bentuk survei ini bersifat deskriptif, karena berupaya untuk mendapatkan peta psikografi berupa perilaku ekologis pendaki gunung di Pegunungan Muria.
Penelitian ini berlangsung pada bulan Maret – April 2021 menggunakan 300 angket yang akan disebarkan pada pendaki gunung yang tinggal di Pegunungan Muria, meliputi Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara. Teknik pengumpulan data penelitian menggunakan angket yaitu google form.. Angket dibuat berdasarkan kebutuhan data yang akan diekplorasikan dalam penelitian, bersifat terbuka dan tertutup serta campuran. Populasi dalam penelitian ini adalah kaum muda yang bertempat tinggal di Pegunungan Muria di Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara.
Sampel dalam penelitian ini adalah kaum muda usia 17-30 tahun yang memiliki ciri-ciri (1) lahir dan tinggal di kota Kudus atau Jepara atau Pati (2) pernah mendaki gunung di Pegunungan Muria (3) berstatus pelajar atau mahasiswa atau memiliki pekerjaan.
Pemilihan responden berdasarkan teknik purposive sampling yaitu teknik nonrandom sampling yang ditentukan berdasarkan pada ciri tertentu yang dianggap mempunyai hubungan erat dengan
ciri populasi.
Data kuantitatif dari angket yang didapat dari penelitian ini dianalsis dengan dikategorisasikan data-datanya melalui proses penyuntingan (editing), pengkodean (koding) dan tabulasi untuk mendapatkan peta psikografi berupa perilaku ekologis pendaki gunung di Pegunungan Muria.
Organisasi Pelaksana Penelitian:
MRC (Muria Research Center) Indonesia adalah lembaga non pemerintah dengan Akta Notaris Tuti Kustanti, SH. No. 54 Tahun 2009 yang bervisi menjadi lembaga penelitian yang dapat mendorong dan menggerakkan masyarakat secara mandiri, kritis, peka dan peduli pada masalah lingkungan dan sosial. Bermisi menumbuhkan, mendorong dan membangun kepedulian masyarakat terhadap masalah lingkungan dan sosial serta mendorong masyarakat mempertahankan dan menjaga kearifan lokal sebagai kekuatan moral dan sosial.
Sejak tahun 2010 banyak melakukan penelitiaan terkait perilaku manusia dan lingkungan,mengadakan kemah konservasi dan pendidikan bencana serta menyebarkan informasi pelestarian lingkungan di kawasan pegunungan Muria.
Tim Peneliti:
Dr. Mochamad Widjanarko, M.Si (Penanggungjawab)
Muhammad Rakha (Koordinator) – 0895385827699
Anggota peneliti: Aisyah Berliana Noor, Eko Budi Prastyo, M. Niam Makhali , Noor Budiyanto dan Distrima Lawrance M
Link Riset:
Muria Research Center (MRC) Indonesia
Akta Notaris Tuti Kustanti, SH. No.54 Tahun 2009
Jl Sentot Prawirodirjo Gang Surobohing
Kudus 59343, Jawa Tengah, Indonesia
🕿 08989019335 dan 08562708701, 🖂 : muriaresearchcenter@gmail.com
Ig: mrc_indonesia







