PENTINGNYA PERBANKAN SYARIAH DI ERA INDUSTRI
Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pertumbuhan gaya hidup halal di kalangan masyarakat perkotaan menjadi peluang baru pertumbuhan perbankan syariah dan industri halal. Produk halal telah menjadi ekosistem atau bagian bisnis dunia yang bernilai besar dan menjanjikan. Kecenderungan peluang pengembangan halal ekosistem di Indonesia makin baik dan variatif. Sebut saja sektor halal food, islamic fashion, islamic tourism, islamic education, haji dan umrah, zakat, sedekah hingga wakaf.
Diketahui Halal food sendiri mempunyai potensi ekonomi mencapai islamic fashion mempunyai potensi hingga . Sementara islamic tourism kisaran , potensi haji dan umrah sebesar , dan pendidikan memiliki potensi Rp40 triliun. Begitu juga pertumbuhan ekosistem halal ini mampu mendongkrak pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah. Potensi itu belum mencakup seluruh pendapatan seperti Dana Pihak Ketiga (DPK), pembiayaan, dan transaksi bank lainnya yang berasal dari nasabah muslim. Direktur Utama bank bjb syariah Indra Falatehan mengatakan, industri keuangan syariah yang dikembangkan dalam bentuk perbankan syariah, asuransi, dan bentuk-bentuk layanan
keuangan syariah non-bank lainnya sedianya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hanya saja, Falatehan mengakui, saat ini industri jasa keuangan syariah dengan volume usaha dan kekuatan permodalan kecil memiliki keterbatasan untuk meningkatkan daya saing dalam bentuk berinvestasi pada teknologi dan memiliki SDM terbaik. Terlebih dalam kondisi persaingan ketat dengan dominasi sistem keuangan konvensional yang sudah mapan. “Perbangkan syariah baru sekitar pangsa pasarnya.
Tentunya ini dengan segala keterbatasan yang ada kita harus bekerja sama untuk memmbangun ekosistem halal itu. Karena harus kita sadari literasi keuangan syariah di masyarakat masih minim, yakni baru . Bahkan inklusi keuangan syariah baru 9%. Makanya bank syariah sebagai pelaku perbangkan syariah harus bersinergi untuk mulai pengembangan pertumbuhan bisnis syariah,” kata Falatehan dalam acara Sawala Bincang Bersama Media Jawa Barat bertema Mendorong Ekosistem Halal Melalui Perbankan Syariah di Homann Bidakara Kamis.
Untuk itu, bank syariah bekerja sama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan dan mendorong ekosistem halal salah satunya dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaran Ibadan Haji (BPS-BPIH), Bank Penerima Setoran Biaya Perjalanan Ibadah Umrah (BPS-BPIU), Kemeterian Pariwisata, serta tentunya media massa. “Perbankan syariah mendorong untuk ekosistem halal dengan upaya cross sectoral untuk mendorong ekosistem halal dari segi perbankan syariah. Di sisi lain media massa tentunya memiliki peran penting guna mensosialisasi dan meliterasi masyarakat karena bisa memberikan informasi mendalam. Kami menyadsri media mitra stategi,” katanya Senada, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat Hilman Hidayat menyampaikan, potensi untuk pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia sedianya sangat tinggi. Apalagi menurutnya potensi pertumbuhan ini kian besar lantaran Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia yang lebih dari penduduknya adalah umat muslim. Selain itu, belakangan ini, wisata halal menjadi tren di negara muslim selama beberapa tahun terakhir. Selain menyediakan wisata yang aman sesuai dengan aturan agama Islam, juga bercampur dengan budaya lokal yang menawarkan keunikan tersendiri. “Kalau bicara potensi perbankan syariah di Indonesia tinggi, karena Indonesia negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.
Dalam beberapa tahun terakhir ini perkembangkan perbankan syariah di indonesia itu pesat, Hanya saja, untuk menyadari volume perkembangan perbankan syariah tidak signifikan dibanding konvensional. Padahal ekosistem untuk industri halal ini memiliki potensi yang besar. “Tapi data di OJK, segmen atau psarnya tidak lebih dari . Volumenya pertumbuhan perbankan syariah pun tidak signifikan jika dibanding konvensional. Padahal ekosiatem untuk industri halal ini memiliki potensi yang besar,” katanya. Karenanya untuk perkembangan ekosistem.
Penulis : Kukuh Kumara







