PATINEWSCOM –
Kondisi pasar tradisional di Kabupaten Pati yang semakin sepi memasuki pertengahan tahun 2026 menjadi perhatian DPRD Kabupaten Pati. Anggota DPRD Pati, Warsiti, menilai menurunnya aktivitas perdagangan tidak hanya dipengaruhi oleh tren belanja online, tetapi juga perubahan pola belanja masyarakat.
Menurut politisi PDI Perjuangan tersebut, kemudahan berbelanja secara daring memang membuat sebagian masyarakat beralih dari pasar tradisional. Namun, ia menilai dampaknya tidak sebesar perubahan pola distribusi barang yang kini semakin dekat dengan konsumen.
“Kalau belanja online itu lebih mudah dan cepat, sehingga minat beli di pasar menurun. Misalnya dulu Pasar Rogowongso terkenal sebagai pasar sore, sekarang jam satu siang saja sudah sepi. Pasar Juwana juga mengalami kondisi yang sama,” ujarnya.
Selain belanja online, Warsiti menyebut banyak pedagang kini memilih berjualan secara keliling atau membuka lapak di pinggir jalan. Cara tersebut dinilai lebih praktis karena pembeli tidak perlu datang langsung ke pasar.
“Sekarang banyak pedagang yang berkeliling. Bahkan di kantor-kantor, di desa-desa, sampai di pinggir jalan juga banyak yang berjualan. Masyarakat jadi lebih mudah mendapatkan kebutuhan sehari-hari tanpa harus ke pasar,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen tersebut menjadi tantangan bagi keberlangsungan pasar tradisional di Kabupaten Pati. Oleh karena itu, diperlukan upaya pembenahan agar pasar tetap mampu bersaing dan menjadi pilihan masyarakat.
Warsiti berharap pemerintah daerah terus melakukan revitalisasi pasar, meningkatkan kenyamanan, kebersihan, serta memperkuat daya saing pedagang tradisional agar aktivitas ekonomi di pasar kembali bergairah.
Ia menilai pasar tradisional masih memiliki peran penting sebagai pusat ekonomi kerakyatan. Dengan pembenahan yang berkelanjutan dan dukungan terhadap para pedagang, pasar tradisional diharapkan tetap mampu bertahan di tengah perubahan pola perdagangan dan perkembangan teknologi.







