• Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita
  • Login
Patinews Berita Pati Hari Ini
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
No Result
View All Result
  • Home
  • NewsPrime
  • Tech
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Review
  • Kirim Artikel/BeritaCreate Story
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Patinews Berita Pati Hari Ini
No Result
View All Result
Home Berita

Penyatuan Paranggaruda dan Carangsoka, serta Kisah Cinta Raden Jasari Kepada Rara Rayungwulan yang Kandas

patinews.com by patinews.com
23 Juli 2019
in Berita, Berita Pati Hari ini, Sejarah
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Penyatuan Paranggaruda dan Carangsoka, serta Kisah Cinta Raden Jasari Kepada Rara Rayungwulan yang Kandas
1k
VIEWS
Share on WAShare on FBShare on Twitter

Patinews.com – Sejarah Pati, Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1290 Masehi, di Pulau Jawa terjadi kevakuman penguasa pemerintahan. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, kerajaan Singasari surut, sedangkan Kerajaan Majapahit belum berdiri.

Menurut arsip yang dimiliki Dinporapar Pati, di pantai utara Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebgai Adipati, wilayah kerajaan disebut Kadipaten.

RelatedPosts

Ketua DPRD Pati Soroti Efisiensi Anggaran: Semua Pejabat Harus Siap Dievaluasi

Tunjangan Rumah DPRD Pati Disorot, Ketua DPRD: “Kalau Demi Rakyat, Kami Siap Dievaluasi”

DPRD Pati Soroti Trauma Santriwati Korban Kasus Ponpes Ndholo Kusumo: “Jangan Hanya Dipindah, Mentalnya Juga Harus Dipulihkan”

Ada dua penguasa lokal di wilayah itu, yaitu yang pertama penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama “Yudhapati”. Wilayah kekuasaanya meliputi sungai juwana keselatan, sampai pegunungan Gamping utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai seorang putra bernama Raden Jasari.

Sedangkan yang kedua adalah penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama “PuspaAndungjaya”, wilayah kekuasaannya meliputi semua sungai Juwana sampai pantai utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan.

Kedua Kadipaten inihidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai. Untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, kedua Adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu.

Utusan Adipati Paranggaruda untuk menimbang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi .red) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama ”Soponyono”.

Untuk memenuhi bebana atau permintaan itu, Adipati paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan yang bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi.

Dengan bantuan “Sondong Majeruk” kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direut kembali oleh Sondong Makerti dari wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.

Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mengalami kegagalan.

Pada malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinn dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang oleh Ki Dalang Sapanyana.

Di luar dugaaan, saat pahargyan dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju pangung dan seterusnya melarikan dri bersama Dalang Sapanyana.

Pahargyan perkawinan antara “Raden Jasari”dan “Rara Rayungwulan” gagal total. Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tidak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka.

Dan peperangan tak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka memimpin prajurit Carangsoka mengalami luka parah dan akhirnya wafat. Raden Kembangjaya (adik ipar Raden Sukmayana) meneruskan peperangan Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan Prajurit paranggaruda.

Adipati Paranggaruda, Yudhapati pun gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya. Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama “Singasari”.

Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahanya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama “Kadipaten Pesantenan”. Dengan gelar “Adipati Jayakusuma” di Pesantenan.

Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu “RadenTambra”. Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar “Adipati Tambranegara”.

Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana menjadi Songsong Agung yang sangat memperhatikan nasib Rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya, dan kesejahteraanya semakin menngkat.

Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintah di wilayahnya, Adipati Raden Tambranegara memidahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa kemiri menuju kearah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati. (pn/ red)

Tags: berita patikabar patipatipati hari inipatinewssuara patiwarta pati
patinews.com

patinews.com

redaksi@patinews.com

Related Posts

Bambang Susilo, Ali Badrudin, Hardi, DPRD Pati
Berita

Ketua DPRD Pati Soroti Efisiensi Anggaran: Semua Pejabat Harus Siap Dievaluasi

25 Mei 2026
18
Ali Badrudin, DPRD Pati
Berita

Tunjangan Rumah DPRD Pati Disorot, Ketua DPRD: “Kalau Demi Rakyat, Kami Siap Dievaluasi”

25 Mei 2026
15
Gedung DPRD Kabupaten Pati
Berita

DPRD Pati Soroti Trauma Santriwati Korban Kasus Ponpes Ndholo Kusumo: “Jangan Hanya Dipindah, Mentalnya Juga Harus Dipulihkan”

25 Mei 2026
12
Eko Kuswanto, DPRD Pati
Berita

252 Santri Ponpes Ndholo Kusumo Direlokasi, DPRD Pati: Pendidikan Anak Jangan Sampai Terputus

25 Mei 2026
13
Bambang Susilo, Ali Badrudin, Hardi, DPRD Pati
Berita

UMKM Pati Bakal Kena Pajak? DPRD Ungkap Batas Omzet Rp6 Juta Masih Bisa Berubah

25 Mei 2026
19
Bambang Susilo, Ali Badrudin, Hardi, DPRD Pati
Berita

Omzet UMKM Rp6 Juta Bakal Kena Pajak? DPRD dan Pemkab Pati Masih Bahas Aturan Baru

25 Mei 2026
14
Seedbacklink
No Result
View All Result

Terbaru

  • Ketua DPRD Pati Soroti Efisiensi Anggaran: Semua Pejabat Harus Siap Dievaluasi
  • Tunjangan Rumah DPRD Pati Disorot, Ketua DPRD: “Kalau Demi Rakyat, Kami Siap Dievaluasi”
  • DPRD Pati Soroti Trauma Santriwati Korban Kasus Ponpes Ndholo Kusumo: “Jangan Hanya Dipindah, Mentalnya Juga Harus Dipulihkan”
  • 252 Santri Ponpes Ndholo Kusumo Direlokasi, DPRD Pati: Pendidikan Anak Jangan Sampai Terputus
  • UMKM Pati Bakal Kena Pajak? DPRD Ungkap Batas Omzet Rp6 Juta Masih Bisa Berubah
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Patinews.com
  • Berita
    • event
    • Olahraga
    • politik
    • bisnis
  • wisata
    • kuliner
    • Sejarah
  • Lowongan Kerja
  • Kontak
  • Youtube
  • Kirim Artikel/Berita

© 2020 patinews.com - Pati Hari Ini patinews.