Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk berislam dengan baik. Berislam dengan baik dimulai dari pemahaman yang baik terhadap ajaran-ajaran agama serta berangkat dari pemahaman yang baik tersebut menumbuhkan pengamalan yang baik pula. Pemahaman dan pengamalan kita terhadap ajaran agama Islam itulah yang saya sebut dengan istilah berislam. Jadi ada perbedaan antara istilah berislam dan Islam itu sendiri.
Islam adalah agama yang pastilah sempurna karena Islam datang dari Allah SAW zat yang Maha Sempurna. Setiap Muslim pastilah meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar . Hal ini adalah sesuatu yang sudah tidak perlu diperdebatkan karena memeluk agama adalah menyangkut keimanan atau keyakinan yang harus dengan kokoh dimiliki oleh setiap penganutnya.
Islam tidak perlu lagi dipersoalkan apalagi dimoderasi karena Islam sudah moderat pada dirinya, dengan sendirinya islam sudah moderat pada ajarannya. Yang perlu dimoderasi adalah cara kita berislam dan memahami serta menjalankan ajaran agama islam. Dengan kata lain dalam kita mengamalkan ajaran agama islam harus dipastikan dan dijaga pada jalur yang moderat.
Moderat adalah lawan dari ekstim. Ekstrim adalah berlebih-lebihan ( tathorruf, gullu ). Moderat mengandung dua substansi pokok yaitu pertama keadilan dan keseimbangan. Mereka yang memerankan diri sebagai moderator harus bersikap adil dan penuh dengan keseimbangan. Moderator tidak hanya sekedar mengatur lalu lintas pembicaraan dalam diskusi tetapi juga penuh keseimbangan dalam menyikapi pandangan-pandangan yang muncul dalam sebuah forum diskusi atau kajian.
Dalam segi bahasa moderat itu dapat diartikan adil dan ditengah-tengah atau dalam bahasa arab disebut wasathan. Kita sering mendengar kata wasit, seorang wasit haruslah bersikap adil dan penuh keseimbangan. Jadi cara kita berislam itulah yang harus senantiasa kita jaga agar tidak berlebih-lebihan.Berlebih-lebihan ini muncul dari sikap fanatik kita dalam beragama dan menggebu-gebu dalam mengamalkan ajaran agama sedangkan fanatisme ini tidak ditopang atau didukung dengan wawasan keilmuan yang cukup. Hal ini bisa berpotensi untuk terjerumus pada tindakan-tidakan yang berlebih-lebihan/ ekstrim.
Khazanah keilmuan Islam begitu beragam karena keberagaman adalah kehendak allah SWT. keberagaman adalah sunnatullah yang pasti kita temui disekitar kita. Dengan adanya keberagaman inilah maka penting sekali adanya moderasi. Sikap moderat perlu dikedepankan karena setiap manusia dengan segala keterbatasannya memiliki perspektif atau sudut pandang dan titik pijak yang berbeda-beda dalam memahami ajaran agama sehingga dalam menerjemahkan dan menafsirkan ajaran agama itu bisa berbeda-beda. .
Tafsir Al-Quran tidak ada yang yang tunggal atau homogen. Tafsir alquran itu beragam begitu juga tidak ada terjemahan al-quran yang tunggal. Tercatat bahwa sejak tahun 1965 mulai dilakukan penterjemahan al quran kedalam bahasa indonesia dan terjemahan itu sampai sekarang sudah direvisi sebanyak 3 kali.
Terjemah dan tafsir al-quran senantiasa mengalami perubahan karena dalam menerjemahkan dan menafsirkan Al-Quran dipengaruhi oleh banyak hal. Lingkungan strategis dan konteks dimana Al-Quran diterjemahkan dan ditafsirkan sangat mempengaruhi pemaknaan kita terhadap suatu ajaran dan nilai yang ada pada agama Islam. Sebagai contoh adalah berbeda antara konteks di Indonesia dan sebagian negara di Timur Tengah. Perempuan di sebagian negara di Timur Tengah diharamkan menyetir mobil sendiri meskipun itu mobilnya sendiri berbeda dengan di Iindonesia wanita diperbolehkan menyetir sendiri.
Di Indonesia kita temukan banyak perempuan yang menduduki jabatan stategis di dalam pemerintahan bahkan jabatan hakim pengadilan agama ada yang diduduki oleh perempuan. Hal ini tidak kita temukan di negara Timur Tengah. Dari kedua contoh ini apabila kita tidak memiliki wawasan seakan-akan contoh ini adalah suatu yang kontradiktif atau berbenturan . Yang satu melarang dan yang satu membolehkan. Bagi mereka yang memahami maqosidus syariah atau maksud dan tujuan diterapkannya suatu ketentuan hukum tentu memahami bahwa lingkungan strategis dimana hukum itu ditetapkan sangat mempengaruhi hal ini. Pengaruh budaya dan tradisi sangat mempengaruhi ketetapan suatu hukum. Masyarakat di Timur tengah mungkin memahami budaya dan konteksnya lalu kemudian mereka pada kesimpulan bahwa kemaslahatan mengharamkan perempuan menyetir mobilnya sendiri itu lebih besar dan kemadhorotannya lebih kecil dibanding apabila diperbolehkan.
Dari ilustrasi contoh ini kita berharap agar kita tidak mudah menyalahkan pihak yang tidak sama dengan kita. Seorang yang memiliki kapasitas keilmuan yang cukup tidak akan mudah terjebak pada sikap menyalahkan pihak yang tidak sama dengannya apalagi mengkafirkan orang lain.
