Oleh: Daffa Farras Sajid (Ilmu Qur’an Tafsir) IAIN Kudus
Mengenal kodikologi manuskrip atau naskah kuno
Ketika berbicara mengenai kertas dan penamanuskrip kuno tentu erat kaitannya dengan kodikologi. Adapun kodikologi bisa kita pelajari melalui ilmu filologi.
Jika filologi mengkhususkan pada pemahaman isi teks, maka kodikologi membahas segala aspek sejarah naskah yang terdiri dari bahan naskah, tempat penulisan, perkiraan penulisan dan lain sebagainya.
Secara bahasa kodikologi ( ) berasal dari bahasa latin yakni (bentuk tunggal, bentuk jamaknya ) yang artinya buku, sedangkan kata
sendiri artinya adalah ilmu. jadi, dapat disimpulkan bahwa kodikologi adalah cabang
ilmu yang meneliti buku tulisan tangan atau biasa kita sebut dengan naskah.
Dalam bahasa indonesia sendiri kodikologi dikenal dengan sebutan ilmu penaskahan. Adapun istilah kodikologi pertama kali dipopulerkan oleh Alphonse dain ia menyatakan bahwa ruang lingkup kodikologi lebih luas dari teks dan mencangkup sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, sejarah naskah asli, penelitian naskah, perdagangan dalam naskah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan fisik manuskrip sebagai artefak.
Sejarah Al-Qur’ an mini istambul turki
Kata Stambul berasal dari kata Istambul atau Istanbul salah satu kota di negeri Turki. Istambul dahulu adalah pusat kerajaan Ottoman dan menjadi kekhalifahan terakhir zaman dinasti Islam. Perkembangan Al-Qur’ an Istanbul tidak lepas dari perkembangan kesultanan Turki sendiri. Qur’ an Stambul sendiri dirintis kala zaman berkembangnya lukisan miniatur. Adalah Sultan Selim II. Kala itu mendirikan Nakkashane I Iran dan Nakkashane I Rum (Akademi seni lukisan) dimana didalamnya berkembang dengan seni lukis miniatur.
Pembuatan miniatur Qur’ an Stambul adalah atas perintah Sultan selim II yang mempercayakan kepada seorang kaligrafer kondang kala itu yang bernama Hafiz Osman Effendi. Ia adalah kaligrafer Turki Usmani paling terkenal yang hidup pada antara 1642-1698. Menurut sebagian sejarawan karya Hafiz Osman adalah karya penulisan Al-Qur’ an dalam ukuran mini yang ditulis dengan tangan.
Selanjutnya karya seni penulisan dari Hafiz Osman inilah yang kelak dikemudian hari diperbanyak oleh puteranya seorang muadzin di Masjid Sultan Haseki.
Sering perkembangan zaman era teknologi, Qur’ an Stambul mulai masuk percetakn pada abad 19. Bahkan kemudian dicetak diluar Turki yaitu di India dan Pakistan. Ada perbedaan untuk cetakan Qur’ an Stambul yaitu style penulisan khat yang digunakan. Di era sekaranag Qur’ an Stambul juga dicetak di Iran dan Australia.
Di Indonesia Qur’ an Stambul bila dilihat dari warna tulisannya ada tiga macam. Pertama adalah Qur’ an Stambul dengan tulisana berwarna hitam, jenis ini adalah Qur’ an Stambul dengan tingkatan “ biasa” . Biasanya dipakai kebanyakan kaum santri. Kedua adalah Qur’ an Stambul dengan tulisan warna merah, jenis ini biasanya dikoleksi oleh kelas “menengah” yaitu prajurit, pedagang, pejabat. Ketiga adalah Qur’ an Stambul dengan tulisan berwarna kuning keemasan, jenis ini sering dipakai para Sultan, Syeikh/Kiyai tertentu.
Kodikologi Al-Quran mini istambul turki yang berada di museum gusjigang
Bila kita mengunjungi museum gusjigang yang berada di desa barongan, kudus jawa tengah, terdapat galeri koleksi manuskrip Al-Qur
’ an kuno. Di dalamnya terdapat koleksi Al-Qur
’ an yang berasal dari berbagi belahan dunia di era penyebaran islam kuno. Adapun mushaf Al-Qur’ an tersebutada yang berbahan kertas kuno, daun lontar hingga kulit sapi. Koleksi tersebut disimpan dengan rapi tertutup kaca agar tidak mudah rusak.
Salah satu koleksi mushaf yang menarik yakni Al-Qur’ an mini stambul. Adapun kata
stambul berasal dari kata istambul atau istanbul salah satu kota di negeri Turki.sebuah
mushaf yang lengkap 30 juz yang unik karena ukurannya kecil.koleksi mushaf stambul
yang berada disana ukurannya hanya 1,5 sentimeter. Al-Qur’ an ini ditulis dengan
tinta warna kuning keemasan, merah dan hitam. sampulnya terbuat dari bahan kulit yang disamak secara sempurna dan dilindungi dengan kotak baja anti karat. Karena ukurannnya sangat mungil, tidak semua pengunjung dapat membacanya dengan jelas. Maka disediakan kaca pembesar untuk memudahkan bagi pengunjung yang ingin membacanya.
(*).
