Penulis : Imam Muhlis Ali
“Le…makan “ seorang emak memerintah anaknya. “Gak mau gak mau…” kata si anak tegas menolak. Sang emak terus menerus membujuk anaknya, “ayolah le kamu makan ini, kamu sejak pagi kan belum makan..,” pinta sang ibu dengan agak putus asa.
“Gak mau, pokoknya gak mau..,” Sahut si anak tanpa mau tau jerih payah emak memasaknya. “Kalau kamu makan, nanti ku belikan mainan le…,” pinta si emak”.
“Gak mau..,” sambil ngeloyor keluar rumah”. Ehmm.. dengan bersedih hati sang emak merasa masakannya sia-sia.
Ini bukan peristiwa yang fenomenal namun setidaknya kira-kira sudah.berjalan mulai tahun 1990an di mana generasi anak sekarang berbeda dengan.dahulu. Saya ingat saat kecil dulu tahun 1980an anak-anak relatif banyak yang ‘doyan’ makan meskipun saat itu tidak ada variasi makanan.seperti sekarang. Ada ketela godog ya dimakan, ada pisang goreng ya dimakan, gaplek getuk sledrek ya dimakan, air putih dalam kendi ya diminum bahkan air tajen (nasi) ya siap disruput.
Dahulu anak-anak sampai tua biasa khususnya di daerah/desa makan dan jajanan sederhana yang terbuat dari bahan-bahan tradisional seperti singkong/ketela, pisang, kelapa, sayuran, dan tanaman di sekitar pekarangan. Makanan dulu belum ‘berwarna-warni’ dan berbagai rasa seperti sekarang ini.
Kalau makanan sekarang relatif bervariasi baik warna, rasa, bentuk unik, dan desain menarik seperti misal cilok, pentol ojek, roti salat, manisan coklat, es krim kemasan modern,makanan dan minuman ingan cepat saji dan makanan, minuman kemasan kreatif lainnya.
Jadi tentu saja ada perbedaan anak sekarang dengan masa dahulu terutama makanan. Semacam ada pergeseran zaman. Hal ini sangat di pengaruhi berbagai hal seperti perkembangan IPTEK, kreatifitas, inovasi, laju pertambahan penduduk, dan banyak faktor. Intinya sekarang seorang emak, ibu, bunda, mama, maupun sebutan lainnya tidak mudah membujuk anaknya lahap makan. Kalau dulu di tahun 1980an atau bahkan periode sebelumnya orang tua tidak terlalu pusing menyuruh makan anaknya.
Ehmm……..mungkin saja kita semua menyadari masih banyak yang selayaknya dipelajari untuk mengatasi perubahan zaman. Hal ini di butuhkan pembelajaran lagi dengan metode kekinian dan komprehensif. Semoga anak-anak dan para generasi sehat wal afiat dan berkembang sesuai perubahan zaman atau masa.
(*)







