Harga Labu Rendah, Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo bersama Warga Inisiatif Mengolah

Harga Labu Rendah, Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo bersama Warga Inisiatif Mengolah

Harga Labu Rendah, Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo bersama Warga Inisiatif Mengolah

GROBOGAN, PATINEWS.COM

Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang berinisiatif mengolah labu menjadi berbagai macam jenis makanan bersama ibu-ibu di Dusun Kembang Kuning RT 01/RW 04 Desa Sumberagung, Ngaringan Grobogan, Sabtu (07/11/2020).
Harga beberapa jenis hasil pertanian memang selalu mengalami naik turun apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini, salah satunya adalah labu atau orang Jawa menyebutnya waluh salah satu jenis sayuran ini diakui warga mengalami penurunan yang signifikan.

“Kalau lagi musim labu seperti ini labu memang murah dulu harganya dihitung per kilogram, 1 kg harganya seribu kalau sekarang satu karung dihargai 20 ribu itu satu karung isinya hampir 10 an biji, ya tergantung ukuran juga,” kata Ibu Dami

Kondisi seperti itu memang wajar dialami oleh petani, tetapi dalam era saat ini kondisi seperti itu bisa diatasi dengan berbagai cara salah satunya dengan mengolah sendiri hasil panen. Jika biasanya hasil pertanian langsung dijual maka warga dituntut untuk mempunyai inisiatif lain dengan cara mengolahnya.

“Melihat kondisi seperti ini menuntut saya untuk mengajak warga mencoba mengolah labu menjadi berbagai jenis makanan, saya berharap kedepannya bisa berlanjut dan menjadi ladang bisnis bagi warga. Sebenarnya mereka itu bisa, hanya saja mereka belum mengetahui dan kurangnya informasi,” kata Tina mahasiswa KKN.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari ibu-ibu terbukti selama kegiatan berlanjut ibu-ibu mendengarkan sangat antusias. Kegiatan dimulai dari memilih labu yang baik, penjelasan bahan-bahan dan cara memasak kemudian labu diolah menjadi puding dan ongol-ongol, untuk selanjutnya akan diolah menjadi lebih banyak jenis lagi yaitu untuk keripik, kue dan masih banyak lagi.

“Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini, baru tau kalau labu bisa diolah menjadi makanan seperti ini, kalau dijual kan bisa lumayan daripada dijual langsung buahnya” pungkas ibu Sukini.

Penulis:

Tina Priya Ningsih (Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang)

Exit mobile version