DPRD Pati Soroti Kera Liar Mengamuk di Pati Selatan, Jagung dan Ketela Petani Habis Diserbu Gerombolan Monyet

Gedung DPRD Kabupaten Pati

Gedung DPRD Kabupaten Pati

DPRD Pati Soroti Kera Liar Mengamuk di Pati Selatan, Jagung dan Ketela Petani Habis Diserbu Gerombolan Monyet

PATI – Petani penggarap hutan sosial di wilayah Pati Selatan kini menghadapi ancaman serius akibat maraknya serangan kera liar yang merusak tanaman pertanian warga.

Kawanan kera dilaporkan menyerbu lahan pertanian dan merusak berbagai tanaman produktif seperti jagung, jambu, hingga ketela yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.

Persoalan tersebut mendapat perhatian dari Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati Fraksi Golkar, Nanda Yahya.

Menurut Nanda, petani hutan sosial menjadi kelompok yang paling terdampak karena menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarga dari hasil kebun dan lahan garapan tersebut.

“Banyak warga yang hidup dari hasil kebun dan lahan garapan hutan sosial. Kalau tanaman rusak terus, tentu mereka mengalami kerugian besar,” katanya.

Ia menjelaskan, laporan serangan kera paling banyak berasal dari kawasan Desa Sinomwidodo, Desa Larangan, hingga Desa Pakis di wilayah Pati Selatan.

Kawanan kera disebut datang secara bergerombol dalam jumlah besar dan menyerang tanaman warga dalam waktu singkat.

“Petani sekarang benar-benar resah karena tanaman yang sudah dirawat bisa habis dalam waktu singkat,” ujarnya.

Nanda mengungkapkan, kondisi tahun ini dinilai jauh lebih parah dibanding sebelumnya. Jika dulu hanya terlihat beberapa ekor, kini jumlah kera yang datang bisa mencapai puluhan ekor sekaligus.

Akibat kondisi tersebut, para petani khawatir mengalami gagal panen dan kerugian ekonomi yang lebih besar, terutama di tengah musim kemarau yang mulai melanda wilayah selatan Kabupaten Pati.

Komisi B DPRD Pati pun meminta pemerintah daerah segera melakukan pendataan serta kajian terhadap populasi kera liar di kawasan tersebut.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan segera menyiapkan langkah penanganan yang mampu melindungi hasil pertanian warga tanpa mengabaikan aspek konservasi satwa liar.

“Kami berharap ada solusi nyata agar petani tetap bisa bertani dengan aman dan hasil panennya tidak terus dirusak,” tandas Nanda Yahya.

Exit mobile version