Bersilaturahmi Sekaligus Ziarah ke Makam Sunan Bonang Tuban
Penulis : Imam Muhlis Ali
Sebenarnya saya tidak sengaja berziarah ke Makam Sunan Bonang, Tuban.Jawa Timur. Ceritanya kemarin pada hari Sabtu (26/12/2020), saya bersama keluarga dan sedulur berkunjung bersilaturahmi ke rumah keponakan di Tuban.
Maksud awalnya yakni menghadiri acara hajatan khitanan anak keponakan yang terletak di Kelurahan Sukolilo komplek Kampus Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama’. Letaknya sekitar 1 kilometer dari alun-alun Kota Tuban, Jawa Timur.
Tuban dijuluki sebagai “Bumi Wali”
Sebelumnya pada hari Jum’at, saya sudah tiba di Tuban. Kesan pertama Kota Tuban cukup panas sama dengan Rembang. Namun saya merasakan Tuban ini berbeda dengan daerah lain. Khususnya dari sisi peninggalan kuno dakwah islam di tanah jawa. Saya pernah membaca salah satu rubrik. Disitu ada keterangan bahwa kalau Kota Demak dijuluki sebagai “Kota Wali”, sedangkan Kota Tuban dijuluki sebagai “Bumi Wali”.
Lokasi Makam Sunan Bonang
Lokasi makam Sunan Bonang sendiri tidak jauh dari Alun-alun Tuban, tepatnya di belakang Masjid Agung Tuban. Makam Sunan Bonang berada di Dukuh Kauman, Kelurahan Kutorejo, Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur. Para peziarah dapat berjalan masuk gang yang tidak jauh dari Masjid Agung Tuban.
Lahir tahun 1465 Masehi dan wafat tahun 1525 Masehi
Menurut sejarah, Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila putri Aryo Tejo tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban. Raden Maulana Makdum Ibrahim menyebarkan Agama Islam di daerah Bonang Tuban dan Lasem yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan atau gelar Sunan Bonang. Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 Masehi dan wafat 1525 Masehi.
Sunan Bonang merupakan guru dari Raden Patah putra Raja Brawijaya V Majapahit, guru para wali seperti Sunan Kalijogo.
Sunan Bonang dikenal sebagai penyebar Islam yang menguasai ilmu fikih, usuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur dan ilmu kedigdayaan.(Sumber: Suara.com)
Gelar Sunan Bonang
Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak timbulah suara yang merdu di telinga penduduk setempat. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang.(Sumber: iNews.Jatim.id).
Ada nilai-nilai toleransi tanpa meninggalkan prinsip ajaran islam
Saat saya beserta keluarga masuk komplek awal makam, saya melihat seksama tiga gapura. Gapura-gapura tersebut bercorak seperti gapura agama Hindu dan Buddha. Di gapura ada hiasan piring dengan ornamen motif bunga dan tulisan Arab. Tulisan tersebut salah satunya tertulis nama empat khalifah antara lain, khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Rata-rata pintu masuk menuju makam dan bahkan makam Sunan Bonang beratap rendah. Saya belum sempat menanyakan filosofi bangunan ini. Namun hati kecil saya mengatakan segala bentuk bangunan disini pastilah ada nilai filosofinya. Dan saya melihat ada semacam nilai-nilai toleransi dengan tanpa meninggalkan prinsip ajaran islam.
Setibanya di area makam beliau Sunan Bonang, saya bersama keluarga juga banyak rombongan peziarah dari berbagai daerah mulai melaksanakan membaca surah yasin, tahlil dan berdo’a tawasul mohon keberkahan ‘lubering’ dari Waliyullah, kekasih Allah.
Alhamdulillah, seusai berziarah dan bertawasul do’a, saya bersama keluarga langsung menuju tempat oleh-oleh yang berada di serambi depan komplek.
Semoga saja ziarah kali ini mendapat keberkahan dan sekaligus dapat mengambil pelajaran berharga tentang makna hidup sejati dari para Waliyullah, kekasih Allah Amin Ya Robbal ‘Alamin.
(*).






