
Patinews.com – Sukolilo, Alun-alun Prawoto sebagai bangunan kebanggaan warga Prawoto, hari ini, Jum’at, 26 Mei 2017 mengadakan even bedug dhandang dalam menyambut bulan suci Ramadahan yang ke 1438 H. Bedug dhandang sendiri merupakan suara bedug yang ditabuh berulang-ulang sebagai pertanda dimulainya bulan suci Ramadhan. Acara bedug dhandang di Prawoto pada tahun ini terasa meriah karena dikemas dalam festifal budaya ramadhan dengan berbagai even seperti bedug dhandang, panggung ramadhan, lomba tong tek, buka puasa bersama, parade bedug, dan takbir akbar.
Bedug dhandang Prawoto berbeda dengan Dhandangan di Kudus maupun Dug Deran yang ada di Semarang. Bedug dhandang di Prawoto memiliki ciri khas menggunakan bedug tajidor dengan alunan khas bedug di masa lalu. Alunan bedug dhandang sendiri digawangi oleh Bapak Pitoyo warga asli Prawoto dengan sentuhan improve tradisional, seperti lagu Astaghfirullah, Syi’ir Gus Dur Tanpo Waton, Kereta Jawa, dan lain-lain. Acara sendiri banyak disaksikan warga Desa Prawoto maupun diluar Desa Prawoto.
Selain sebagai hiburan warga, even ini mampu menggerakkan pasar ekonomi warga Prawoto dan sekitarnya. Antusiasme terlihat dari masyarakat prawoto yang memadati area alun-alun untuk bersemangat dalam menonton bedug dhandang meskipun lokasi sedang di guyur hujan. Harapan warga Prawoto semoga festival budaya ramadhan akan menjadi tradisi rutin setiap tahun dibumi kasunanan prawoto tercinta ini, sehingga kedepannya akan lebih baik dan lebih meriah lagi. Ujar A.W warga Prawato.
Menurut Tri Yono selaku official Gusdurian Prawoto, even bedug dhandang ini bertujuan untuk menghidupkan budaya-budaya yang ada di Prawoto, yang mana selama 25 tahun ini hampir ditinggalkan oleh masyarakat Prawoto. Menurutnya, budaya sendiri merupakan sumber kekuatan penggerak kebersamaan dalam segi ekonomi, sosial, dan kereligiusan yang harus di gali dan dilestarikan. Terdapat berbagai aksen menarik untuk memperindah festifal budaya prawoto seperti adanya payung dan gapura dari keranjang buah.
Payung sendiri yang dipasang dipinggir alun-alun, merupakan sebuah asesoris untuk keindahan, dengan aksen aneh, nyleneh yang memiliki filosofi bahwa alun-alun Prawoto yang berlokasi di Dukuh Sewunegaran, ketika zaman dahulu di identikan sebagai lokasi pertemuan dari berbagai negara, ras, sehingga disimbolkan dengan berbagai warna-warni payung sehingga terlihat indah dan memberi kesejukan dan ketentraman bagi warga di Desa Prawoto.
Sedangkan gapura dari kranjang buah sirkaya sebagai ciri khas buah musiman yang hidup di area pegunungan kendeng Prawoto, merupakan produk kerajinan UMKM warga prawoto yang bersumber dari bumi prawoto sendiri, yang mana di zaman dahulu Prawoto terkenal dengan hutan bambu. Gapura kranjang yang terbentuk memiliki filosofi moto iro, yang memiliki tujuan bahwa mari masyarakat prawoto guyub rukun untuk saling membuka mata secara utuh, dengan mata kita mampu melihat, dengan budaya kita dapat maju bersama-sama mengenalkan tradisi dan nilai-nilai luhur budaya yang ada di Prawoto pada masyarakat luas.
Acara sendiri dibantu oleh berbagai pihak, seperti bank BCA, PT. Indofood, MA Yaspra, dan didukung oleh komunitas Gusdurian Prawoto, IPNU, Anshor, dan Banser, yang terpenting adalah dukungan penuh dari Bapak Heyro Fachrus selaku Kepala Desa Prawoto beserta staf dan jajaran perangkatnya. (tim)





