Serap Aspirasi, Kastomo: Infrastruktur, Pertanian, dan Pendidikan Jadi Prioritas Utama
PATI, PATINEWS.COM
300 warga yang terdiri dari struktur PAC PKB dan relawan Sahabat Kastomo memadati tiga titik lokasi di wilayah Kabupaten Pati dalam kegiatan Silaturahmi dan Serap Aspirasi yang digelar oleh Kastomo, Sekretaris Komisi A DPRD Pati sekaligus Sekretaris Fraksi PKB. Acara ini menjadi ajang dialog langsung antara legislator dan masyarakat, yang dilaksanakan serentak pada Sabtu (10/5/2025) di Balaidesa Sembaturagung (Jakenan), Gedung Haji Jaken, dan Gedung PGRI Pucakwangi.
Dalam forum tersebut, Kastomo menyampaikan prioritas pembahasan Peraturan Daerah (Perda) tahun 2025 yang akan digodok bersama Pemkab Pati. Fokus utama mencakup infrastruktur jalan, sektor pertanian, serta pendidikan karakter.
Target Infrastruktur dan Pertanian Ambisius
Untuk sektor infrastruktur, Kastomo menyampaikan bahwa tahun 2025 ditargetkan perbaikan jalan di 165 titik dengan total anggaran Rp330 miliar. “Ini bagian dari program besar yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun ke depan (2025–2027),” tegasnya.
Sementara itu, untuk bidang pertanian, pemerintah menargetkan produksi padi 10 ton per hektare. Salah satu upaya pendukung adalah percepatan pembangunan Bendungan Cabean di Blora, yang saat ini baru mencapai 30% dan diharapkan selesai pada 2027. Bendungan ini akan mengairi lahan pertanian khususnya di kawasan eks-Karesidenan Jakenan.
Pendidikan Karakter dan Beasiswa Jadi Perhatian
Kastomo juga menekankan pentingnya pendidikan karakter di tengah perubahan zaman. Ia menyampaikan wacana pemberian beasiswa untuk siswa miskin yang lolos seleksi PTN. Ia juga menyentuh soal rencana penerapan lima hari sekolah, namun dengan tetap memperhatikan kelangsungan pendidikan keagamaan di Madin dan TPQ.
Beragam Aspirasi Masyarakat Mengemuka
Dalam sesi dialog terbuka, sejumlah warga menyampaikan berbagai persoalan. Farhan dari Pucakwangi dan Faizin dari Karangrowo, misalnya, menyangsikan target 10 ton padi per hektare karena keterbatasan irigasi. “Sawah tadah hujan hanya bisa 7-8 ton,” ujar mereka.
Kiai Zainuri dari Jaken menyoroti lambannya penanganan wabah PMK yang telah terjadi tiga kali. “Selain pertanian, kami harap pemerintah juga memperhatikan ternak kami,” katanya.
Aspirasi lain datang dari warga yang mengeluhkan kondisi Sungai Pemali Juwana dan Sungai Silugonggo yang mulai mengering. Mereka khawatir kondisi ini memicu bencana seperti pergerakan tanah dan gempa kecil, khususnya di kawasan Guyangan.
Masalah infrastruktur juga mencuat. Warga Jaken dan Dukuhmulyo, seperti Giarto, mengeluhkan jalan berlubang yang belum tersentuh perbaikan. Mereka mengusulkan adanya perawatan berkala, bukan hanya proyek pembangunan baru.
Sorotan juga tertuju pada insentif untuk guru Madin, TPQ, dan madrasah. Warga dari Tanjungsari, Bungasrejo, hingga Mantingan meminta agar insentif diberikan secara rutin setiap bulan, bukan hanya saat lebaran.
Terkait wacana lima hari sekolah, sejumlah warga menolak karena khawatir anak-anak kehilangan waktu belajar agama. Parijan dari Kedungmulyo menyampaikan keprihatinan, “Kalau anak libur malah main HP. Kami orang tua tak selalu bisa mengawasi.”
Kastomo: DPRD Siap Perjuangkan Aspirasi Warga
Menanggapi beragam masukan tersebut, Kastomo menjelaskan peran DPRD dalam pembentukan Perda, pembahasan APBD, serta fungsi pengawasan pelaksanaan program pemerintah. Ia menegaskan bahwa komunikasi dua arah antara masyarakat dan DPRD sangat penting untuk keberhasilan pembangunan.
“Eksekusi anggaran ada di tangan eksekutif. Tapi kami di DPRD akan terus memperjuangkan agar aspirasi masyarakat bisa masuk dalam program prioritas,” tandas dia.
(pn/)







