Rahasia Ketoprak Siswo Budoyo Masih Tetap Lestari
Di kabupaten pati, kesenian ketoprak masih menjadi tontonan yang diminati. Sejumlah grup ketoprak masih rutin ditanggap warga, salah satunya Ketoprak Siswo Budoyo.
Masyarakat Jawa mengenal ketoprak sebagai hiburan rakyat jelata, yang ditampilkan di luar kerajaan. Dengan gaya penuturan yang khas masyarakat setempat, ketoprak umumnya mengambil lakon cerita rakyat. Selain tontonan, kisah yang diangkat dalam ketoprak biasanya juga mengandung tuntunan.
Berasal dari Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, grup yang dipimpin Anom Sudarsono dan disutradarai Darno ini berdiri sejak 1989. Dalam rentang lebih dari dua dekade, Siswo Budoyo telah menelurkan sekurangnya 150 cerita.
Seperti kebanyakan ketoprak, Siswo Budoyo juga menggunakan bahasa Jawa dalam tiap pementasan. Lakon yang dibawakan biasanya berupa babad atau cerita rakyat, yang referensinya berasal dari buku atau folklor lisan. Salah satu cerita yang kerap dibawakan adalah “Labuh Trisno Saboyo Pati”.
Digelar Malam, Rampung Pagi. Pementasan Ketoprak Siswo Budoyo biasanya berlangsung pada malam hari dan baru berakhir menjelang pagi atau sekitar pukul 04.00 WIB. Bikin bosan? Hm, nggak juga! Ini karena dalam pementasan mereka juga menyematkan tari-tarian dan aksi akrobatik, yang dipadu dengan guyonan dan seni kontemporer macam dangdut hingga campur sari.
Hingga kini, nggak sedikit orang Pati yang menggantungkan hidupnya dengan bermain ketoprak. Sekali ditanggap, mereka dibayar puluhan juta. Kelompok ketoprak biasanya panen saat masyarakat memperingati sedekah bumi, Agustusan, syukuran khitanan atau peringatan lain.







