
Patinews.com – Gunungwungkal, Musim kembang randu mendatangkan untung melimpah bagi para petani lebah madu di Desa Gadu, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Di musim seperti ini, peningkatan produktivitas lebah madu yang digembala oleh para petani menjadi sebuah berkah yang luar biasa. Salah satu petani madu di Desa tersebut menyebutkan, dalam kurun waktu satu bulan ini, ia mengaku, memperoleh hasil panen madu lebih dari 1 ton.
Untuk satu kilogram madu, biasanya dia jual seharga Rp 60 ribu ke para pengepul. Nanti para pengepul akan membawanya ke Jakarta, Surabaya, Semarang dan kota-kota besar lainnya untuk dijual lagi dengan harga yang lebih mahal.
Dalam satu kali panen, lanjutnya, biasanya lebah-lebah yang digembala membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Hal itu juga tergantung dari banyaknya bunga yang ada di lokasi penempatan kotak sarang lebah.
Satu bulan bisa tiga kali panen, bahkan kalau pas musim bunga randu hasilnya sangat memuaskan. Selain menaruh kotak lebah di hutan-hutan dekat desanya, petani madu juga menempatkan sebagian kotak lebah di Wonogiri serta Colo, Kudus.
Setiap satu kotak didalamnya memiliki delapan sekat. Kotak sarang lebah tersebut selalu di pindah-pindah, menyesuaikan kondisi alam. Karena yang dicari adalah lokasi yang banyak kembangnya.
Entah kembang randu, karet, jagung, rambutan dan lain-lainnya. Tapi yang paling bagus adalah saat musim kembang randu.
Sedangkan, lahan yang digunakan sebagai tempat kotak sarang lebah, biasanya para petani madu menyewannya sesuai kesepakatan dengan pemilik tanah.
Bahkan, ada petani yang sampai di Wonogiri serta Colo, itu lahannya juga menyewa. Ada yang per bulannya Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Setiap satu minggu sekali, mereka mengeceknya ke sana.
Adapun lebah yang digembala adalah jenis Melifera asal Australia. Mengingat jenis ini, madu yang dihasilkan lebih banyak. Satu kotak sarang bisa mendapatkan sekitar dua setengah kilogram madu dalam waktu sepuluh hari.
Lebah jenis Melifera ini juga lebih jinak serta menetap di kotak sarangnya, tidak berpindah-pindah tempat seperti lebah lokal. Lebah tersebut, dibeli seharga Rp 1 juta per satu kotak sarang. Modal awalnya memang besar. Kalau untung, untungnya besar. Kalau rugi, ruginya juga sangat besar.
Meski begitu, usaha yang digeluti oleh petani lebah madu bukan berarti tanpa kendala. Karena ketika dimusim hujan, banyak lebah yang mati karena faktor suhu dan sulitnya mencari makanan. (pn/ dok hms)