
Oleh : Setiyowati
Hutan merupakan salah satu tempat yang harus dijaga untuk menjaga keseimbangan suatu ekosistem. Selain untuk menjaga suatu ekosistem hutan juga menjadi salah satu sumber penghidupan untuk sebagian masyarakat di sekitarnya. Hutan haruslah selalu di jaga dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang dengan seenaknya melakukan penebangan liar, pemburuan satwa liar, dan melakukan kerusakan lainnya. Menjaga hutan bukanlah-hal mudah, namun sepasang suami istri menunjukan, bahwa kesetiaannya dalam menjaga hutan akan membawa kebaikan, untuk mereka sendiri maupun untuk orang banyak.
Sunarto dan Sunarni sepasang suami istri yang berasal dari kota Pati, yang sama-sama lahir dari keluarga sederhana. Mempunyai harapan sederhana akan kehidupan yang sederhana dan bahagia. Sunarto merupakan salah satu pegawai BUMN, sedangkan Sunarni merupakan ibu rumah tangga. Awal cerita kehidupan mereka di mulai saat tahun 1998, dimana mereka pertama kali menikah. Setelah menikah mereka berdua tinggal di salah satu asrama di pusat kota Jepara, karna tuntutan pekerjaan.
Tahun 1996 putra pertama mereka yang berjenis laki-laki lahir, di susul empat tahun tepatnya tahun 2000 putri kembar mereka lahir, dan ketiganya sama-sama lahir di Jepara. Setelah sekitar kurang lebih 6 tahun mereka tinggal di asrama, mereka memutuskan untuk kembali ke kota kelahiran mereka tepatnya di Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Pada tahun 2008 sepasang suami istri tersebut mulai berkelana dengan hampir mengenal separuh hutan di kota Blora.
Tahun 2008 mereka pindah untuk pertama kalinya ke salah satu Rumah Dinas yang bertempat di Desa Gendangan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Mereka menetap tidak genap selama satu tahun, kepindahan pertama ini merupakan hal yang tidak mudah dihadapi. Beradaptasi dengan lingkungan baru dan masyarakat baru. Kedua anak kembar mereka yang masih berumur 8 tahunpun dituntut untuk bisa beradaptasi dan bersekolah disana. Sedangkan putra pertama mereka masih tinggal bersama neneknya di Pati, karena sebentar lagi akan menginjak kelas enam SD.
Tahun 2008 akhir-2011 mereka kembali pindah dan ditempatkan di Rumah Dinas yang terletak di Desa Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Disinilah Sunarto dan Sunarni mengenalkan hutan kepada ketiga anak mereka. Saat itu anak pertama yang sudah lulus SD, di jemput dan meneruskan sekolah mengikuti kedua orang tuanya. Dan si kembar pun harus rela kembali berpisah dengan teman-teman barunya lagi. Sunarto sering mengajak anak pertama dan adik kembarnya ke hutan. Mengenalkan berbagai jenis pohon,satwa liar, sayuran dan berbagai hal tentang hutan.
Hidup dengan ketiga anaknya, juga berpengaruh untuk perekonomian pasangan tersebut. Keadaan ekonomi yang kadang tidak cukup, membuat Sunarto dan Sunarni memutar otak. Pasangan tersebut mulai terbiasa untuk mengolah sumber pangan yang ada disekitar mereka, seperti daun pepaya, daun ketela, pepaya muda, terong, dan segala bahan makanan dari hayati yang dapat dikonsumsi.
Namun hal tersebut tidak mudah dilalui. Ketiga anaknya sering mengeluh karena cita rasa masakan yang kurang berkenan di hati mereka. Namun Sunarto dan Sunarni dengan sabar mengajari mereka dengan rasa syukur dan rasa sabar yang tinggi. Dan perlahan ketiga anaknya mulai terbiasa.
Pada tahun 2011-2012, Sunarto kembali di pindah tugaskan ke Rumah Dinas yang ada di Desa Sumberejo, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora. Kembali si kembar dan anak sulung mereka harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Inilah kadang yang membuat Sunarto dan Sunarni tidak tega. Psikologis ke tiga putra putrinya di uji, dan diasah untuk menjadi pribadi yang tangguh untuk menghadapi lingkungan dan masyarakat yang berbeda. Namun sekali lagi sepasang suami istri tersebut meyakinkan ketiga buah hatinya untuk selalu bersyukur dan menghadapi semua dengan senyuman.
Tahun 2012-2015, sunarto dan keluarganya kembali dipindah tugaskan di Desa Kalonan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Disini si kembar menyelesaikan jenjang pendidikan SMP dan si sulung ke jenjang bangku perkuliahan. Tuntutan ekonomi yang semakin naik, membuat Sunarni berpikir membantu suaminya. Sunarni mulai mencoba peruntungan dengan membuka catering jajanan, nasi kotak, dan bolu band. Sunarni bersyukur karena dapat sedikit membantu perekonomian suaminya.
Tahun 2015-2018, Sunarto dan keluarga kembali di pindah tugaskan ke Rumah Dinas yang terletak di Desa Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Adaptasi tidak sulit dilakukan Karena sudah pernah tinggal di lingkungan tersebut. Di Tempat tersebut putri kembarnya menyelesaikan jenjang pendidikan dan putra sulungnya menamatkan bangku perkuliahannya. Sunarto dan Sunarni bersyukur, di tengah keadaan ekonomi yang tidak menentu, mereka dapat memberikan pendidikan terbaik kepada putra putri mereka.
Tahun 2018-sekarang, Sunarto dan keluarga dipindah tugaskan ke Dukuh Rowobungkol, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora. Saat ini putri kembar beliau sedang menempuh bangku perkuliahan, dan putra sulungnya bekerja membantu kedua orang tuanya. Mereka telah terbiasa melewati berbagai rintangan hidup yang bermacam-macam, dan menguatkan satu sama lain.
Sunarto sangat mencintai hutan, setiap harinya beliau tidak pernah absen untuk berpatroli di sekitar hutan. Hutan adalah sebagian hidupnya dan keluarganya. Menghadapi para penjarah hutan pun sudah terbiasa, karena hutan dia dan keluarganya bisa hidup, mengenal banyak orang, saling membantu, bahkan mampu mensyukuri nikmat tuhan dengan hal sekecil apapun. Usaha kerasnya mampu membuat beliau dikenal sebagai salah satu tokoh inspiratif, sifatnya yang merakyat mampu membuat beliau dan keluarganya diterima baik di tempat manapun. Beliau berhasil dalam mengajari anaknya dengan berbagai hal tentang hutan, bertahan hidup dengan segala kesederhanaan, menghargai sebuah pertemuan dan mengikhlaskan sebuah perpisahan.
Hal yang disyukuri beliau sampai saat ini adalah bahwa istri dan anak-anaknya selalu mendampinginya dan menerima segala kekurangan hidup yang ada. Sunarto dan istrinya Sunarni dikenal sebagai satu satunya keluarga bukan berasal dari kota Blora yang melaksanakan tugas dinas Perhutani yang masih membawa keluarga lengkapnya.