Semangat Santri Kalong Menggapai Berkah Ramadhan

Oleh : Ahmad Faiz Yahya

Istilah Santri Kalong di Dunia Pesantren

Kapan sih istilah santri kalong itu dipakai?

Entah kapan yang jelas istilah tersebut sudah sangat melekat dan dipahami oleh kalangan pesantren maupun suatu daerah yang banyak lembaga pendidikan pondok pesantren baik Jawa Barat, Jawa Tengah ataupun Jawa Timur.

Lalu Apa Arti Santri Kalong?

Secara bahasa, santri kalong terdiri dari dua suku kata yaitu santri dan kalong. Santri adalah orang yang belajar di sebuah pondok pesantren sedangkan kalong adalah kelelawar yang memiliki sifat tidur pada siang hari dan keluar pada malam hari.

Secara istilah, menurut Drs. Sushanto, M.Ag. dalam buku Menelusuri Jejak Pesantren Alief Press Yogyakarta 2004 halaman 55 disebutkan santri kalong adalah murid-murid yang berasal dari desa sekelilingnya yang biasanya mereka tidak tinggal pada pondok pesantren kecuali pada waktu belajar (sekolah/ngaji) saja, mereka pulang pergi (nglajo) dari rumahnya.

Santri Kalong menurut Kementrian Agama, sebagai lembaga yang menaungi pondok pesantren, secara teknis penyebutan santri kalong tidak pernah ditemukan dalam tulisan yang formal, akan tetapi jika pada acara pelatihan ataupun sosialisasi, dari narasumber pasti sering menyebut istilah ini.

Nah, pada bahasa tulisan atau tertulis maupun blangko, Kementrian Agama secara umum membagi santri menjadi dua kategori yaitu ; Santri Mukim dan Santri Non Mukim. Jadi menurut Kemenag santri kalong santri non mukim.

Kata santri kalong memang tak asing lagi bagi kalian yang pernah mondok atau yang pernah menjadi santri kalong. Ya Santri Kalong merupakan sebutan bagi santri/anak yang ikut belajar ngaji atau belajar Agama Islam di sebuah pondok pesantren. Mereka adalah penduduk sekitar pondok pesantren yang ikut mengaji/belajar namun tidak turut mukim atau menetap di pondok tersebut, biasanya mereka akan datang ke pondok di waktu sore atau malam hari untuk belajar bersama santri-santri pondok tersebut, setelah selesai maka mereka akan pulang ke rumahnya, yah seperti perilaku kalong/kampret.

Banyak juga santri yang usianya sudah tidak muda lagi karena kesibukan dan lain sebagainya akhirnya banyak dari mereka mengambil jalan tersebut menjadi santri kalong yaitu mengaji tanpa mendiami pondok tersebut.

Berbeda dengan istilah santri mondok/santri mukim yaitu pelajar/santri yang mempelajari berbagai disiplin ilmu khususnya Agama Islam dengan menempati/menetap di pondok tersebut dan mendapat didikan dari seorang kyai/ustadz hingga beberapa tahun untuk mengamalkan ajaran Agama Islam secara Kaffah.

Kegiatan Santri Kalong

Kegiatan santri kalong tidak lain dan tidak bukan adalah mengaji dan belajar bersama dengan para santri mukim di sebuah pondok pesantren. Selain itu mereka juga pastinya punya kegiatan lain di rumah.

Semangat Santri Kalong

Terutama ketika ramadhan seperti saat ini, biasanya akan ada fenoma dimana banyak santri kalong yang ikut mengaji di sebuah pondok pesantren. Karena setiap pondok pesantren pasti akan mengadakan kajian kitab pada bulan ramadhan/ mengkhatamkan kitab-kitab kuning.

Namun ada sesuatu yang unik di salah satu desa di Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak, tepatnya di Desa Mojodemak. Ada sebuah pondok pesantren yang santrinya hampir semuanya adalah santri kalong. Pondok Pesantren Roudlotush Sholihin itulah namanya, merupakan pondok pesantren yang didirikan oleh K. Muhammad Fadlan untuk mengaji kitab kuning siswa-siswi MTs Roudlotus Sholihin maupun warga Desa Mojodemak dan sekitarnya.

Di Pondok Pesantren ini tidak ada santri yang menetap karena kebanyakan santrinya adalah siswa-siswi atau pemuda Desa Mojodemak sehingga mereka akan pulang setelah mengaji.

Di bulan ramadhan tahun ini pondok tersebut tetap mengadakan Ngaji Posonan seperti tahun-tahun sebelumnya, namun dengan cara live streaming di Halaman Facebook Pon Pes Roush Mojodemak.

Walaupun kebanyakan mereka adalah santri kalong, namun tidak menyurutkan semangat mereka dalam mempelajari sebuah kitab kepada K. Muhammad Fadlan. Seperti potret tahun kemarin banyak sekali pemuda dan pemudi, anak-anak hingga dewasa ikut mencari ilmu dan berkah ramadhan. Bahkan ada satu orang yang sudah tidak muda lagi juga ikut ngaji Kitab Durrotun Nasikhin ramadhan tahun kemarin. Usia boleh tidak muda lagi namun semangat mengaji dan mencari ilmu layaknya usia mudia.

Exit mobile version