Penulis: Umi Masruroh
Namanya Rohatul Mu’alifah. Semangatnya hingga kini terus kian membara. Tak ada yang bisa menghalangi semangatnya sampai saat ini. Cita-cita yang dia inginkan, justru membuatnya terus bersemangat meskipun ia harus kehilangan dunia pendidikan. Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika ia mulai menghafal Al-Qur’an. Setiap kata yang ia hafal, membuatnya dunia mejadi genggamannya. Ia tak pernah tau apa nasib akhirnya, yang jelas ketika dia berusaha untuk kedua orang tuanya adalah kebahagiaan yang ia impikan.
Kini dia menjadi santri salah satu PONPES TAHFIDZ GHUROBA’ KUDUS, semuanya bermula ketika saat dia hendak masuk ke jenjang aliyah. Namun ia kembali mundur karena ada harapan kedua orang tuanya yang ingin ia wujudkan, yaitu menjadi hafidhoh. Gadis yang mempunyai empat saudara perempuan ini, begitu semangat dalam menghafal sekaligus mencoba mengamalkan apa yang dikandung dalam Al-Qur’an. Dibanding santri lain yang kadang kerap pulang karena sakit akan kerinduan rumah, tapi dia bukanlah seperti itu.
“Rindu pasti ada, tapi saya tak akan cepat usai ketika saya menoleh rumah terus, sekali-kali bukankah perjuangan harus ada yang dikorbankan”, ucapnya saat bersama saya.
Karena giatnya dia, membuatnya terlalu focus dan tak pernah tau dunia luar. Meskipun dia asli Kudus, jika ditanya tentang Pasar Kliwon yang cukup terkenal itu, ia juga tidak tau. Apalagi tentang seputar tempat wisata. Ia tak mau mengenal dulu, jika itu membuatnya terlena dari Al-Qur’an. Bahkan, tentang hp, ia tak pernah menyentuhnya bahkan memilikinya. Semuanya ia lakukan demi focus kepada Al-Qur’an.
Santri yang kerap dipanggil mbak Lifa ini, menjadi salah satu motivator para santri lainnya, selain menjaga tawadhu’nya, ia juga mampu menyelesaikan tiga tahun menghafalnya, bahkan lancar tanpa satupun yang salah. Selain itu, selesai menghafal ia tidak lansung pulang atau istilahnya boyong, malah justu mengabdi sebagai mbak ndalem. Mbak ndalem adalah istilah atau sebutan dari para santri yang mengabdi kepada kyai. Ia gunakan satu tahun tersebut untuk menjadi mbak ndalem sepenuhnya.
Jika ditanya lelah atau tidak, jenuh atau tidak. Dia bilang ketika dia merasakan itu ada air mata yang mengalir, mengingat tentang perjuangan orang tuanya yang membiayai dan membesarkan hingga saat ini. Rasa jenuh memang pasti ada, tapi dengan mengingat perjuangan orang tua dan penantian beliau akan keberhasilan akan usahanya dalam menghafal Al-Qur’an, dia rasa ini menjadi cambuk penyemangat dirinya dan para penghafal Al-Qur’an lainnya.
Selain itu, menjadi santri baginya ada rasa tantangan tersendiri, dimana ia harus meninggalkan orang yang tersayang demi mencari ilmu. Bahkan bagi orang lain pada umumnya meninggalkan orang yang tersayang bukanlah hal yang ringan dalam menjalani kehidupan. Baginya saat menjadi santri dia banyak sekali mendapat pelajaran kehidupan. Tidak ada kata egois, tapi yang ada kata berbagi. Tidak ada kata bangkit sendiri tapi yang ada kata bangkit bersama. Memang tidaklah mudah jika saat harus berjuang harus berani berkorban.
Ia mengakui bahwa saat menjadi santri, semua temannya adalah keluarga kedua baginya. Ada pengalaman unik yang diceritakan dirinya kepada saya, dimana seperti biasa dia mengalami kasus kanker, atau kantong kering. Ya istilah tersebut digunakan para santri untuk yang kirimannya telat. Saat itu, dia bingung harus membayar pakai apa, padahal dia sudah telat dua minggu. Dia mencoba berpuasa, mungkin rejeki mengalir setelah puasa, pikirnya. Dan ia juga yakin bahwa Al-Qur’an adalah salah satu teman yang bisa mencarikan solusi yang bakal dia hadapi. Setelah mencoba selama dua minggu untuk berpuasa, tiba-tiba ada yang mendatanginya dan mengatakan bahwa ia pernah meminjam uangnya, namun dirinya benar-benar lupa. Alhasil setelah panjang lebar menjelaskan, dirinya mengakui bahwa memang ada yang meminjam tapi sudah sangat lama sekali, sehingga dia sudah lupa.
Nikmat saat menghafal, mulai ia rasakan saat ia mulai berkenalan dengan Al-Qur’an. Ini juga dirasakan oleh kedua orang tuanya saat di rumah. Dimana, kedua orang tuanya lancar rejekinya. Sehingga ia bisa mengkhatamkan sampai saat ini.
Ditanya tentang kesulitan, dia mengungkapkan bahwa jangan pernah berpikit tentang sulit atau tidak. Anggaplah semuanya mudah, karena bila kita ingin mudah maka kita harus mencintai sesuatu tersebut. Mungkin bagi orang pada umumnya, menganggap bahwa yang menghafal kemudian menjaga adalah hal yang sulit. Namun tidak bagi Mbak Lifa ini, karena ketika dia menghafal maka ia harus mencintai Al_Qur’an dulu, sehingga mudah bagi dirinya untuk menghafal ayat demi ayat.
Kesederhanaan juga terpapar dalam hidupnya, sebagai seorang wanita pada umumnya yang selalu memakai perhiasan maupun alat make up, dirinya tidak menyentuh sama sekali. Setiap orang yang melihatnya pasti akan merasa sendu, tenang, dan damai. Oleh karena itu, banyak yang mudah akrab dengan dirinya. Lalu bagaimana ketika dirinya di luar? Dia tetaplah dia yang tak memakai alas bedak apapun, bahkan pantang bagi dirinya ketika dimintai foto. Si penulis saja sangat bersyukur bisa foto dengan dirinya, dengan mengungkapkan ribuan alasan dulu.
Menghafal bukanlah untuk pameran nama. Tapi tentang menghafal adalah dunia baru bagi yang ingin tau tentang Al-Qur’an. Di atas adalah salah satu contoh kisah inspiratif para santri. Penulis mengungkapkan seperti itu karena penulis juga merasakan lelahnya berjuang bahkan ketika harus berhadapan dengan kata malas. Apalagi ketika lelah menghadang, kuat atau tidak tekadmu menjadi penunjang semangatmu dalam menghafal. Oleh karena itu penulis mengharapkan bagi diluar sana yang ingin menghafal juga harus mengamalkan apa yang dikandung dalam Al-Qur’an.
Malas, letih, lelah, lesu, menjadi tiga kunci utama yang menghadang pejang hija’iyah. Apalagi ketika menjadi santri, harus berani membedakan waktu untuk bercanda gurau dan untuk serius. Seperti tokoh di atas, beliau tak pernah mengenal yang namanya lelah atau kesal. Karena beliau sadar, kata-kata tersebut pantas dan sangat cocok untuk kedua orang tuanya.
Ditanya tentang melanjutkan pendidikan atau tidak. Beliau masih ingin focus dulu terhadap apa yang dipegang saat ini. Dan ketika penulis menyinggung tentang pernikahan, beliau hanya menjawab “saya mau focus ngaji dulu mbak, urusan jodoh kan sudah ada yang ngatur. Yang penting dari diri kita sudah ada persiapan untuk bertemu jodoh kita pada nantinya.
Dunia era seperti ini sangatlah membutuhkan sosok wanita seperti dirinya. mengingat peran utama wanita adalah madrasatul ula atau madrasah pertama bagi anak-anaknya nanti atau cikal bakal generasi selanjutnya. Maka dari itu, sangatlah penting sikap-sikap yang ada dalam wanita hendaklah dijaga dengan keilmuannya seperti tokoh tersebut. Mari tata niat kita agar bisa membuka dengan lebar bahwa dunia membutuhkan kita sebagai perempuan pencetak bangsa bukan kita yang membutuhkan dunia.
Sekian dan terima kasih.
