Gang Sempit di Lasem, Mengulik Keaslian Kota

Cat putih mengelupas. Pintu kayu menjadi saksi bisu: adanya suara yang jarang didengar. Bangunan kuno yang luput dari mata kebanyakan orang. Begitu masuk di dalamnya, senyum ramah yang menjadi sambutannya. Suasana paling khas, klasik, asri. Kejujurannya sangat terasa dan sederhana, namun menyimpan banyak cerita.

Cerita di Sudut Kota

Lasem itu luar biasa. Dia merupakan kota kecil penuh endapan cerita, kreasi, dan suara. Sayang, sejarah yang pekat itu jarang masuk headline. Masuk gang sempit, bangunan yang tidak mencolok, membuat orang tidak sadarkan “di mana lokasinya?”. Seperti bangunan terbengkalai, namun dokumentasi peninggalan berdesakan tertata. Kesederhanaan yang mengundang kenyamanan membuat betah akan suasana. Bukan tempat ber-AC, hanya gubuk kecil dialihfungsi dengan ayunan daun menjadi adem.

Gang sempit itu merupakan Museum Nyah Lasem. Wujud rumah kecil joglo dikonversi menjadi sebagaimana mestinya. But, jangan ketipu!

 

Rumah Replika Belanda

Museum Nyah Lasem namanya yang jarang dijamah mata. Kata “Nyah” artinya nyonya yang merupakan panggilan untuk perempuan dengan kedudukan tertentu dalam kahidupan keluarga dan dunia usaha. Mengapa dikatakan “Rumah Replika Belanda?” Tepat, karena bentuk bangunan yang menyerupai bangunan di masa kolonial Belanda. Tidak terdapat teknologi interaktif, namun di dalamnya menyimpan banyak benda peninggalan, seperti batik, cap batik, mesin jahit tua, gelas parfume, peralatan dapur, gramofon, filateli, dan masih banyak lagi.

 

Bangunan terlihat murni adanya relif yang terdapat pada dinding. Namun, belum diketahui terkait relevansi relief tersebut dengan cerita zaman dahulu di daerah Lasem. Secara historis, Lasem merupakan kota yang berlokasi di pesisir utara Jawa yang menjadi pusat perdagangan  dan produksi batik, bahkan menjadi pusat jaringan dagang batik antar pulau pada zamannya. Dengan demikian, kunjungan museum ini tidak hanya berfokus pada benda-benda koleksi, akan tetapi kisah penghuni Lasem serta peran sosial multikultural di masa lalu semua ada napas di tempat ini. Sejak tahun 2016, bangunan ini dibuka sebagai museum. Banyak orang berkunjung dari luar daerah. Dahulu, bangunan itu dilengkapi café santai buat wisatawan, tapi harus reservasi dulu. Namun, sekarang sepi karena sepi pengunjung di mana plang museum kalah dengan baliho.

Mengapa Kita Harus Tahu?

Mayoritas sejarah yang kita tahu hanya sebuah tulisan. Tanpa mendengar langsung, kita tidak mengenal suara, budaya, dan peran sosial yang multikultural. Teknologi yang memberikan semua serba instan, short video 15 detik, dan konten-konten lain yang membuat kita tahu sekilas, tidak paham versi serta identitas aslinya.

Keaslian mungkin tidak hidup di tengah-tengah keramaian kota, akan tetapi ia bernapas di gang sempit pinggir kota yang nampak tersisih. Dan tugas kita adalah, mampir, lihat, dan jelajahi versi aslinya.

 

Lasem, 17 April 2026

Author: Mitatun Nuzulia

Exit mobile version