PATINEWS –
Masuknya endapan lumpur ke area tambak garam di Kecamatan Batangan mendapat perhatian dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas garam yang dihasilkan para petambak.
Anggota DPRD Kabupaten Pati, Narso, mengatakan perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti munculnya endapan lumpur, termasuk kemungkinan pengaruh aktivitas kapal yang melintas di Sungai Silugonggo.
Menurutnya, lalu lintas kapal di kawasan tersebut diduga menimbulkan sedimentasi yang kemudian terbawa bersama aliran air menuju tambak garam saat proses pengambilan air laut.
“Perlu kita kaji terlebih dahulu apakah memang ada pengaruh dari aktivitas kapal yang melintas. Sepanjang aliran Sungai Silugonggo sebenarnya tidak terlalu sering dilalui kapal, sehingga perlu dilakukan kajian agar diketahui penyebab pastinya,” ujar Narso.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai penanganan persoalan sedimentasi tidak bisa dilakukan secara sederhana. Sebab, permasalahan tersebut melibatkan berbagai pihak dan instansi yang memiliki kewenangan berbeda.
Ia juga mengakui hingga kini belum ada solusi teknis yang benar-benar efektif untuk mencegah lumpur ikut masuk ke meja garam ketika petambak menyedot air sebagai bahan baku produksi.
“Persoalan ini membutuhkan koordinasi lintas instansi. Penanganannya tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja karena berkaitan dengan pengelolaan sungai, aktivitas pelayaran, hingga kawasan produksi garam,” jelasnya.
Kabupaten Pati merupakan salah satu sentra produksi garam di Jawa Tengah dengan lahan tambak yang tersebar di empat kecamatan, yakni Batangan, Juwana, Wedarijaksa, dan Trangkil.
Berdasarkan data, Kecamatan Batangan menjadi wilayah dengan areal tambak garam terluas, mencapai sekitar 1.321 hektare. Sementara Kecamatan Juwana memiliki lahan sekitar 657 hektare, Wedarijaksa sekitar 521 hektare, dan Kecamatan Trangkil sekitar 401 hektare.
Dengan luasnya kawasan produksi tersebut, DPRD berharap persoalan sedimentasi dapat segera ditangani agar tidak berdampak terhadap kualitas maupun produktivitas garam yang menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Pati.
