
Patinews.com – Kediri, Dandim Kediri, Letkol Arm Joko Setiyo K, M.Si (Han) didampingi Danramil Kota, Kapten Inf Harmadi menyempatkan diri bersama-sama jamaah menjalankan ibadah shalat jumat di Masjid Agung Kota Kediri. Diikuti beberapa staf Kodim 0809/Kediri dan anggota Koramil 01/Kota, TNI berbaur dengan masyarakat untuk menjalankan rutinitas religi, sekaligus menyatukan kerohanian terhadap satu arah dan satu tujuan, jumat (24/03/2017)
“Sedekah merupakan salah satu faktor untuk menuju kesuksesan itu menurut saya pribadi, barang siapa yang bersedekah pasti akan di lipat gandakan olehNya. Keutamaan shadaqah di sisi Allah SWT itu sangat agung sekali dan pahalanya pun demikian besar. Secara harfiyah, sedekah berasal dari kata shadaqa yang artinya benar,” jelas Drs.Fauzan Saleh dari STAIN Kediri ,saat memberikan siraman rohani.
Lanjut beliau, sedekah adalah pemberian atau perlakukan dari seorang muslim kepada orang lain secara sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlahnya sebagai bentuk kebajikan dalam rangka mengharap ridha Allah SWT. Sedekah dapat kita pahami sebagai bukti kebenaran iman dalam berbagai bentuk perbuatan baik, hal ini karena iman harus selalu dibuktikan dengan amal shaleh atau amal yang baik sehingga setiap kebaikan yang dilakukan seorang muslim adalah sedekah.
Diakhir shalat jumat, Letkol Arm Joko Setiyo K, M.Si (Han) memperkenalkan diri kepada para jamaah yang ada di Masjid Agung ini, sekaligus memberikan sedikit wawasan pengetahuan seputar aktifitas rutin dan non rutin yang dijalankan Kodim Kediri saat ini, serta pencerahan yang bersifat kebangsaan.
“Menjadi manusia Indonesia yang berkarakter dan berkepribadian Pancasila ,bukan berarti sisi agamis itu hilang atau tergeser oleh sisi nasionalis, karena nasionalis dengan agamis dapat berjalan berdampingan. Nasionalis berbangsa dan bernegara untuk menguatkan jatidiri sebagai manusia Indonesia, sedangkan agamis bermasyarakat dan berkeluarga untuk menguatkan watak dan perilaku manusia Indonesia yang bermoral baik. Tidak ada pertentangan antara keduanya, karena nasionalis lebih cenderung pada tatanan kehidupan berbangsa dan agamis lebih cenderung pada tatanan kehidupan kerohanian. Tidak benar bila jiwa nasionalis bertentangan dengan jiwa agamis, karena dalam Pancasila, sudah sangat jeals termuat pada sila pertama yang berbunyi KeTuhanan Yang Maha Esa,”ungkap Letkol Arm Joko Setiyo K, M.Si (Han).