Semarang – Polda Jawa Tengah (Jateng) merespons dengan cepat bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Purbalingga. Pasukan Siaga Bhayangkara diberangkatkan untuk mengevakuasi warga terdampak.
Hal itu disampaikan Kapolda Jateng, Irjen Ribut Hari Wibowo melalui Karoops Polda Jateng Kombes Basya Radyananda. Ia memastikan jajaran kepolisian langsung diturunkan ke lapangan guna mengevakuasi warga hingga membuka akses yang terputus akibat bencana.
“Polres Purbalingga telah memberangkatkan pasukan siaga Bhayangkara untuk laksanakan respon cepat menolong dan menyelamatkan warga terdampak,” kata Basya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/1/2026).
Tak hanya itu, polisi juga turut membangun posko pengungsian untuk warga terdampak, hingga ikut membangun jembatan.
“Membangun posko pengungsian di Masjid Nurul Iman dalam rangka penyelamatan warga yang pemukimannya terdampak, karena berada di bantaran sungai,” urainya.
“Diturunkan 60 personil Satbrimob Polda Jateng untuk melakukan pembersihan lokasi-lokasi terdampak dan membangun jembatan darurat,” sambungnya.
Adapun, kata dia, bencana itu terjadi tiga kali, masing-masing pukul 22.00 WIB, 23.40 WIB, dan 03.00 WIB. Wilayah terdampak meliputi Desa Sangkanayu Kecamatan Mrebet, Desa Kutabawa Dusun Bambangan, Desa Serang Dusun Kaliurip Kecamatan Karangreja, serta Dusun Gunung Malang.
Basya juga menjelaskan, banjir bandang dipicu hujan deras yang terjadi terus-menerus di wilayah lereng Gunung Slamet yang menuebabkan longsor di beberapa titik yang menutup aliran Sungai Kali Asat Bambangan. Bendungan alami itu kemudian jebol dan membawa material lumpur ke wilayah hilir.
“Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan longsor di lereng Gunung Slamet hingga menutup aliran sungai. Saat bendungan alami itu jebol, material lumpur terbawa ke permukiman warga di beberapa desa,” jelasnya.
Akibat bencana tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka berat. Kerusakan parah juga terjadi di sejumlah desa, puluhan rumah terdampak, dua jembatan terputus, dan sejumlah kendaraan hanyut terbawa arus banjir.
Sementara itu di Kecamatan Karangreja, Desa Kutabawa dan Desa Serang mengalami kerusakan signifikan. Puluhan rumah rusak, ratusan warga terpaksa mengungsi, akses jalan kabupaten tertutup material longsor, hingga jembatan penghubung antarwilayah ambruk. Kerugian juga dirasakan warga akibat ratusan hektare lahan pertanian gagal panen.







