Kisah Raden Kembangjoyo dan Ki Sagola dengan Dawet Pati Aren

Patinews.com – Sejarah Pati, Setelah perang saudara antara Paranggaruda dan Carangsoka di Majasemi berakhir, Ki Soponyono mengantarkan Dewi Ruyung Wulan bersama-sama dengan Raden Kembangjoyo.

Sebagai ucapan terima kasih, Dewi Ruyung Wulan diberikan kepada Raden Kembang Joyo untuk dijadikan istrinya, karena Kembang Joyo berhasil mengalahkan Yudho Pati adipati Paranggarudo, kemudian ia menetap di Carangsoko menggantikan Puspo Handung Joyo sebagai pemimpin Kadipaten.

Raden Kembangjoyo juga diangkat menjadi Adipati setelah menggabungkan tiga kadipaten yaitu Paranggarudo, Carangsoko dan Majasemi menjadi satu kadipaten Pati.

Membuka Hutan Kemiri

Peleburan itu telah menciptakan kerukunan dari tiga kadipaten yang bertikai, untuk lebih memantapkan dalam memimpin kadipaten, ia mengajak Dalang Soponyono untuk memperluas wilayah kekuasaannya, dan mencari lokasi yang baik sebagai pusat pemerintahan, raden Kembangjaya dan Raden Soponyono menuju hutan Kemiri, dan segeralah hutan tersebut dibabat untuk Kadipaten/pusat pemerintahan.

Alas (Hutan) Kemiri dihuni oleh beberapa binatang Singa, Gajah dan binatang buas lainnya, selain itu juga dihuni oleh kerajaan siluman, Kembang Joyo dan Dalang Soponyono bahu membahu melawan kerajaan Siluman tersebut.

Akhirnya dengan kesaktian Kembang Joyo pemimpin Siluman menyerah. Untuk menangkal makhluk-makluk halus Dalang Sopoyono selamatan dengan memainkan wayang di hutan Kemiri. Sirnalah pemimpin Siluman beserta anak buahnya lari dari hutan kemiri.

Esok harinya Kembang Joyo dan Dalang Soponyono beserta prajurit Carangsoko melanjutkan pekerjaannya membuka Hutan Kemiri menjadi perkampungan, ditengah mereka sedang membuka hutan, datanglah seorang laki-laki memikul gentong yang berisi air.

Baca juga:   Anggota Koramil 17 Pucakwangi Bersama Masyarakat Laksanakan Pengecoran Badan Jalan

“Berhenti kisanak!, siapa namamu dan apa yang sedang kau pikul itu?”, tanya Raden Joyokusumo.

“Saya Ki Sagola, yang gentong yang kupikul ini berisi Dawet, aku terbiasa berjualan lewat sini.” jawab Ki Sagola.

“Dawet itu minuman apa?, coba saya minta dibuatkan, prajurit-prajurit saya ini juga dibuatkan!,” pinta Raden Joyokusumo.

“Kenapa hutan ini kok ditebangi?, kasihan para binatang pada lari ke gunung?”, kata Ki Sagola merasa heran.

“Kami sedang membuka hutan ini untuk perkampungan baru, agar kelak dapat menjadi kota raja yang makmur, gemah ripah loh jinawi, sebab derah kami dulu sudah tidak memungkinkan kita tempati akibat perang Saudara,” jelas Raden Kembangjoyo.

Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman Dawet yang manis dan segar, maka ia bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya.

Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini terbuat dari Pati Aren yang diberi Santan kelapa, gula aren/kelapa.

Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terinspirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan. Dalam perkembangannya Kadipaten Pati-Pesantenan menjadi makmur gemah ripah loh jinawi dibawah kepemimpinan Kembang Joyo. (pn/ hms/ Edisi Hari Jadi Pati ke 696).

Kisah Raden Kembangjoyo dan Ki Sagola dengan Dawet Pati Aren | patinews.com | 4.5

Leave a Reply