Kerupuk Rambak Khas Kudus

Kota kudus atau yang lebih dikenal sebagai kota kretek dapat dikatakann yerrusalem van java ini memiliki sejarah yang cukup unik. Diantaranya tidak diperbolehkan menyembelih hewan sapi di kawasan menara kudus. Bagi umat hindu merupakan hewan yang di sakralkan, maka dari itu sunan kudus menganjurkan pemeluk agama islam untuk tidak menyembelih sapi sebagai wujud toleransi umat beragama. Sejak saat itu daging kerbau menjadi pengganti daging sapi.

Jika berkunjung ke kota kudus tak lengkap rasanya jika belum makan soto kerbau atau soto ayam. Di tempat jualan soto ini mempunyai banyak hidangan pelengkap diantara sate paru, perkedel, kerupuk udang hingga kerupuk kulit rambak. Krupuk rambak khas kudus ini mempunyai ciri khas berbeda dibandingkan kerupuk rambak di daerah lainnya, karena krupuk rambak di kudus terbuat dari kulit kerbau bukan kulit sapi yang kebanyakan di buat di luar sana.

Salah satu produksi pembuatan krupuk rambak yakni noor wijaya yang berada di jalan veteran gang utama no. 172 glantengan kota kudus. Krupuk rambak produksi rumahan ini sudah mampu menjangkau hingga luar kota kudus, diantaranya Surabaya,Semarang, dan Jakarta. Kebanyakan peminat pembeli krupuk rambak ialah penjual soto karena krupuk ini sangat cocok untuk menemani jika anda sedang menyantapnya.

Disamping itu pembuatan krupuk rambak ini dapat dikategorikan sulit. Karena dalam proses pembuatan krupuk rambak ini membutuhkan sinar matahari yang cukup terik ketika menjemurnya. Dapat saya uraikan proses pembuatan dimulai dari pemilihan kulit yang terbaik dan teksturnya yang tidak terlalu keras ketika akan digunting. Setelah itu biasanya kulit kerbau ini dipotong kotak-kotak ukuran 15cm x 15cm. Lalu kulit nya dijemur terlebih dahulu hingga beberapa hari, biasanya kurang lebih 3 hari jika panas terik dan tidak turun hujan.

Baca juga:   Tahun Depan, Bantuan Tempat Ibadah di Pati Bakal Naik Signifikan

Setelah 3 hari, irisan kulit kerbau tadi diambil lalu dibumbui dengan bawang putih dan garam yang lumayan banyak, direndam di dalam ember selama semalam. Setelah semalam hasil perendaman keesokan harinya kulit kerbau tadi dipotong memanjang lalu dijemur lagi dibawah terik matahari hingga benar-benar kering. Lalu setelah kering proses pembungkusan yang setiap bungkusnya diisi 250 gram kerupuk rambak yang masih mentah. Harganya pun lumayan mahal karena proses nya yang lumayan memakan waktu yang lama yakni Rp. 70.000,- per bungkusnya.

Cara penggorengan nya juga tidak mudah, sebelum digoreng ada baiknya kerupuk tadi dijemur terlebih dahulu untuk hasil yang lebih maximal. Setelah sudah dirasa cukup masa penjemuran, lalu ambil kerupuknya. Dan siapkan minyak di wajan penggorengan, dan dipastikan sebelum memasukkan kerupuknya minyak dalam keadaan benar-benar panas. Kalau tidak panas kerupuk tidak akan mekar dengan sempurna. Setelah panas masukkan kerupuk nya dengan sedikit ditarik-tarik kerupuknya menggunakan alat untuk menggorengnya tadi, namun jangan lupa api yang digunakan sedang saja jangan terlalu besar.

Penulis: Fatimah Ashfa 

Kerupuk Rambak Khas Kudus | patinews.com | 4.5

Leave a Reply