Kabupaten Pati Surplus Daging Sapi

Kabupaten Pati Surplus Daging Sapi

Kabupaten Pati Surplus Daging Sapi

PatiNews.Com – EkonomiDaging merupakan pangan yang bernilai gizi tinggi penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Sub sektor peternakan merupakan penyumbang utama untuk penyedia pangan bergizi tinggi seperti daging, telur dan susu. Selain penyedia pangan sub sektor peternakan juga sangat berperan dalam peningkatan lapangan pekerjaan baik di sektor input produksi, budidaya, dan sektor jasa lainnya serta peningkatan pendapatan  petani. 

Daging sapi merupakan salah satu bahan makanan yang yang digemari masyarakat. Seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein dalam kebutuhan gizi maka konsumsi daging sapi meningkat. Menurut UNICEF, perbaikan gizi yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan protein memiliki kontribusi sekitar 50% dalam pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Protein hewani memiliki manfaat yang cukup besar dalam menciptakan SDM yang sehat dan cerdas.

Kandungan gizi yang dimiliki protein hewani, baik telur maupun daging lebih tinggi dibandingkan makanan yang paling digemari masyarakat Indonesia yaitu tempe dan susu. Protein telur sekitar 12,5%, daging ayam mencapai 18,5%, sedangkan protein nabati seperti tempe dan tahu masing-masing hanya 11% dan 7,5% (A. Daryanto, 2009).

Dibandingkan negara ASEAN lainnya, konsumsi protein hewani penduduk Indonesia jauh diurutan bawah. Menurut data FAO tahun 2006 mencatat rata-rata konsumsi daging penduduk Indonesia sekitar 4,5 kg/kap/tahun, Malaysia (38,5), Thailand (14), Filipina (8,5), Singapura (28) (Anjar Agestin, 2014).

Daging sapi merupakan salah satu pangan asal ternak yang memiliki kontribusi besar didalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Selama ini produksi daging sapi dalam negeri dianggap belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, bahkan cenderung terjadi kekurangan yang semakin besar dari tahun ke tahun. Oleh sebab itu perlu adanya peningkatan populasi dan produktivitas sapi di Indonesia.

Kabupaten Pati sebagai salah satu penghasil sapi potong, memiliki peran strategis dalam mewujudkan tersedianya pasokan daging sapi. Pertumbuhan jumlah ternak sapi yang tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk perlu dicarikan solusi agar peternak bersedia untuk memelihara sapi.

Pertumbuhan Ternak Sapi di Kabupaten Pati, 2015-2017

Sapi merupakan penyumbang daging terbesar dari kelompok ruminansia terhadap produksi daging nasional sehingga usaha ternak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkan. Sapi telah lama dipelihara oleh sebagian masyarakat sebagai tabungan dan tenaga kerja untuk mengolah tanah dengan manajemen pemeliharaan secara tradisional. Pola usaha ternak sapi sebagian besar berupa usaha rakyat untuk menghasilkan bibit atau penggemukan, dan pemeliharaan secara terintegrasi dengan tanaman pangan maupun tanaman perkebunan.

Tabel 1: Jumlah dan Pertumbuhan Sapi di Kabupaten Pati, 2015-2017

Keterangan

2015

2016

2017

(1)

(2)

(3)

(4)

Jumlah Sapi

88.680

94.619

102.071

Pertumbuhan

 –

6.28%

7.30%

Sumber: Kabupaten Pati Dalam Angka 2018, 2017, 2016

Tahun 2017 ternak sapi di Kabupaten 102.071 ekor, atau tumbuh 7,30% dibandingkan tahun 2016 yang terdapat 94.619 ekor. Sedangkan 2015 ke 2016 pertumbuhan jumlah ternak sapi sebesar 6,28% atau naik sekitar 5.939 ekor.

Untuk melihat kebutuhan daging di Kabupaten Pati kita coba hitung dengan asumsi dari FAO bahwa kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia 4,5 kg/kapita/tahun. Jumlah penduduk Kabupaten Pati tahun 2017 sebesar 1 246 691 jiwa (Kabupaten Pati Dalam Angka 2017) dikalikan dengan jumlah kebutuhan 4,5 kg didapatkan kebutuhan daging di Kabupaten Pati sebanyak 5.610,11 ton/tahun.

Dengan asumsi berat rata-rata satu ekor sapi 350 kg, dengan hasil karkas 55% maka diperoleh daging sebanyak 157,5 kg daging/ekor dikalikan dengan jumlah sapi di Kabupaten Pati tahun 2017 maka total daging yang bisa diproduksi adalah 16.078,18 ton/pertahun. Dengan konsumsi 5.610,11 ton/tahun, maka di tahun 2017 Kabupaten Pati surplus daging sapi sebanyak 14.466,07 ton atau setara dengan 91.848 ekor sapi. Suatu angka yang sangat strategis dalam menyangga kebutuhan daging segar secara nasional ditengah ramainya soal impor daging.

Perkembangan Peternak Sapi di Kabupaten Pati, 2015-2017

Tabel 2: Jumlah Peternak Sapi di Kabupaten Pati, 2015-2017

Keterangan

2015

2016

2017

(1)

(2)

(3)

(4)

Peternak Sapi

44.697

45.154

45.073

Pertumbuhan

1.02%

-0.18%

Sumber: Kabupaten Pati Dalam Angka 2018, 2017, 2016

Di antara ternak ruminansia, sapi potong adalah ternak paling banyak dibudidayakan peternak di Kabupaten Pati, baik secara tradisional ataupun secara komersial. Jumlah peternak sapi tahun 2017 sebanyak 45.073 peternak, tahun 2016 sebanyak 45.154 peternak dan tahun 2015 sebanyak 44.697 peternak. Jumlah peternak sapi di Kabupaten Pati selama tiga tahun terakhir mengalami pasang surut. Penyebab utamanya adalah harga sapi ditingkat peternak yang tidak menentu sehingga beberapa peternak ragu dalam memelihara sapi.

Ternak sapi memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan ternak ruminansia lainnya atau dengan ternak non-ruminansia. Beberapa keistimewaan dan yang menguntungkan tersebut adalah:

  1. Peternakan sapi adalah suatu usaha yang tetap.

Jika peternakan sapi potong dikelola dengan baik, maka hasil keuntungan yang diperoleh peternak lebih menjanjikan dibandingkan dengan hasil komoditas pertanian lainnya dengan catatan harga sapi potong stabil ditingkat peternak.

  1. Peternakan sapi potong menghasilkan produk ikutan berupa pupuk kandang.

Hasil dari peternakan sapi selain produk utama daging sapi, juga menghasilkan produk ikutan berupa pupuk kandang yang bermanfaat bagi peternak yang juga merupakan petani. Pupuk kandang kotoran sapi mampu menjaga dan mempertahankan kondisi fisik dan fertilitas tanah, dibandingkan dengan pupuk kimiawi yang berlebihan.

  1. Biaya produksi yang lebih murah.

Dari segi biaya produksi, peternakan sapi potong lebih ekonomis, dalam artian dengan biaya yang relatif sama akan memberikan hasil yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan ternak ruminansia lainnya. Mengingat sebagian besar peternak sapi potong di Kabupaten Pati juga merupakan petani sehingga pakan sapi didapat dari hasil pertanian.

  1. Penggunaan tenaga kerja yang tetap.

Pada peternakan sapi potong, penggunaan tenaga kerja terus menerus sepanjang tahun, tidak ada waktu menganggur. Hal ini tidak terjadi di bidang pertanian, tenaga digunakan secara musiman, dan seringkali menggunakan tenaga yang tidak tetap.

        Bila dikelola dengan baik dan harga sapi stabil maka peternak sapi akan memperoleh keuntungan yang lebih baik dalam menambah pendapatan sektor pertanian. Beberapa permasalahan yang dihadapi peternak diantaranya:

  1. Sistem perdagangan yang belum tertata dengan baik

Sistem perdagangan sapi yang belum tertata baik menyebabkan harga sapi di Pati mengalami fluktuasi. Banyaknya perantara dari peternak hingga sampai di RPH dan di pasaran menyebabkan banyak biaya tak terduga yang harus dikeluarkan. Bila sapi dikirim ke luar Jawa, maka biaya transfortasi yang dikeluarkan lebih besar dibanding dengan mengimpor sapi dari negara luar.

b.      Keterbatasan informasi para peternak dan peran penyuluh yang kurang aktif

Kurang pahamnya para peternak tentang pengelolaan sapi yang baik dan sesuai standar. Dengan system pengelolaan yang tradisional peternak enggan mencari informasi terkait dengan budidaya sapi. Faktor lain yang menjadi akar permasalahan adalah kurang aktifnya penyuluh lapangan dalam menyampaikan informasi kepada para peternak. Penyuluh dalam hal ini bisa para mahasiswa peternakan yang langsung turun ke masyarakat untuk memberikan penyuluhan. Apabila para penyuluh peternakan aktif untuk terjun ke lapangan dan membina para peternak, dapat dipastikan para peternak semakin bersemngat dalam budidaya sapi.

c.      Pakan untuk peternak kecil kurang efisien

Dengan jumlah ternak 102.071 ekor dan jumlah peternak 45.073 artinya setiap peternak rata-rata memelihara hanya 2-3 ekor dengan demikian peternak di Pati sebagian besar adalah peternak kecil. Dengan jumlah ternak yang dipelihara sedikit, maka biaya pakan menjadi kurang efesien bila dibandingkan dengan pengumpulan pakan dalam jumlah yang banyak. Dimana pakan memang menjadi pengeluaran utama dalam peternakan. Asumsi untuk pakan hampir 70 % dari total biaya untuk beternak.

Peternak-peternak sebenarnya dapat mengatasi masalah pakan dengan membuat formulasi ransum pakan sendiri. Bahan-bahannya pun didapat dari limbah pertanian disekitar mereka. Inilah salah satu peran penting para penyuluh pertanian dan peternakan. Peran mahasiswa peternakan juga sangat dibutuhkan dalam hal ini. Mereka harusnya dapat membina para peternak yang kurang memiliki pengetahuan akan kombinasi pakan ternak. Melalui pengetahuan yang mereka miliki tentang formulasi ransum, sapi yang dihasilkan akan lebih menguntungkan.

Untuk menjaga peran strategis Kabupaten Pati dalam penyediaan ternak sapi maka pemerintah harus melakukan usaha yang melibatkan semua stakeholder dalam pembinaan peternak sehingga informasi tentang cara budidaya ternak sapi yang efektif dan efisien tersampaikan kepada masyarakat luas, sehingga semakin banyak yang tertarik untuk budidaya sapi. Selain itu, pemerintah daerah harus melakukan upaya untuk menjaga stabilitas harga sapi ditingkat peternak. Mengingat selama ini yang dikeluhkan peternak adalah ketika  beli bakalan mahal tetapi setelah sapi siap jual harganya anjlok atau turun sehingga keuntungan peternak menjadi menipis bahkan rugi.

Lampiran

Tabel 3: Jumlah Pemilik Sapi, Ternak Sapi menurut Kecamatan di Kabupaten Pati, 2015-2017

Kecamatan/

Subdistrict

2017

2016

2015

Pemilik Sapi

Ternak Sapi

Pemilik Sapi

Ternak Sapi

Pemilik Sapi

Ternak Sapi

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

010  Sukolilo

2 297

6 025

2 237

5 511

2 135

4 794

020  Kayen

1 328

3 239

1 236

2 969

1 152

2 150

030  Tambakromoa

2 090

3 890

2 135

4 041

2 369

3 889

040  Winong

3 848

6 265

3 771

6 063

3 752

5 936

050  Pucakwangi

5 414

10 014

5 412

9 822

5 416

9 719

060  Jaken

6 637

12 522

6 863

12 949

5 296

11 016

070  Batangan

1 880

4 338

1 850

4 055

1 850

3 651

080  Juwana

1 275

2 403

1 260

2 508

1 260

2 017

090  Jakenan

3 106

7 643

3 096

6 246

3 143

6 417

100  Pati

1 791

2 688

1 990

3 660

1 960

3 753

110  Gabus

2 826

4 037

2 846

3 605

2 930

3 473

120  Margorejo

1 574

4 518

1 578

4 572

1 584

4 546

130  Gembong

1 128

2 733

1 125

2 798

1 125

2 731

140  Tlogowungu

2 321

5 578

2 304

4 419

3 024

4 955

150  Wedarijaksa

1 859

3 276

1 854

3 297

1 876

3 359

160  Trangkil

1 299

5 942

1 282

4 306

1 258

2 624

170  Margoyoso

1 280

6 540

1 259

5 450

1 545

5 581

180  Gunungwungkal

951

2 470

932

1 729

931

1 797

190  Cluwak

675

1 417

647

1 033

614

877

200  Tayu

836

2 394

829

2 354

829

2337

210  Dukuhseti

658

4 139

648

3 234

648

3 058

Jumlah/Total

45 073

102 071

45 154

94 619

44 697

88 680

Penulis:

Suparman,S.ST, MM

Statistisi Ahli Muda, BPS Kab. Pati

Kabupaten Pati Surplus Daging Sapi | patinews.com | 4.5

Leave a Reply