Categories: Kolom

Islam, Pendekatan Kearifan Lokal dan Toleransi di Spanyol

Islam, Pendekatan Kearifan Lokal dan Toleransi di Spanyol

PatiNews.Com – Kolom, Rombongan Studi Banding untuk toleransi kehidupan sosial dan wawasan kebangsaan telah tiba di Granada, Spanyol. Mereka berjumlah 20 orang mewakili berbagai disiplin ilmu dan daerah di Indonesia.

Mengikuti pemandu, rombongan berjalan kaki menelusuri lorong-lorong kota yang sangat tertata dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

Ngasiman Djoyonegoro, sebagai salah satu delegasi menyempatkan diri untuk melihat lebih lama salah satu bangunan di Granada yang pada masa kekhalifahan Islam digunakan sebagai masjid. Sekarang bangunan itu difungsikan sebagai gereja.

Ngasiman merupakan anggota rombongan mewakili pengamat intelijen dan keamanan di Indonesia. Kehadirannya diharapkan akan memperkuat perspektif Indonesia pada isu deradikalisasi dan pencegahan terorisme.

Islam pernah berjaya di Spanyol. Setelah beberapa kali kekuasaan Islam ditaklukan oleh Napoleon, sisa-sisa bangunan yang nampak hancur bahkan terpendam tanah masih nampak jelas dan dijadikan museum di dataran tinggi di kota Granada.

“Ini adalah gambaran, jika Islam di Indonesia penyebarannya tidak menggunakan pendekatan kearifan lokal, maka bisa jadi nasibnya akan seperti Islam Spanyol. Seperti yang terlihat di museum ini,” kata Ngasiman.

Kekhawatiran di atas muncul setelah Ngasiman sendiri membandingkan dengan situasi saat ini di Indonesia. Cara-cara kelompok ekstremis Islam yang berdakwah dengan menggunakan kekerasan dan mengabaikan bahkan mengancam kearifan lokal, dikhawatirkan bukan untuk memperkuat perkembangan Islam tapi malah semakin melemahkan dan memperburuk citra Islam sehingga orang di luar Islam bukan malah tertarik melainkan menjauh.

Walaupun demikian, bangsa Spanyol masa kini merupakan bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi dalam kehidupan beragama. Spanyol dikuasai kekhalifahan Islam selama 800 tahun dari tahun 711 sampai tahun 1492. Meski sekarang mayoritas penduduk Spanyol beragama Nasrani, tapi kerukunan umat beragama tetap terjalin. Sejumlah masjid peninggalan Islam tidak dihancurkan, tapi  dialihfungsikan seperti bekas masjid menjadi gereja. Sejumlah masjid bahkan dilestarikan dan tidak berubah fungsi.

Di Granada juga ada bekas bangunan sekolah Islam. Bangunan ini pertama kali didirikan pada tahun 1349 oleh penguasa Granada pada saat itu, yaitu Yusuf I Sultan. Kini bangunan bersejarah ini menjadi salah satu bagian dari University of Granada.

Ngasiman menyampaikan bahwa studi banding ke Granada, Spanyol kali ini memberikan dua pelajaran sekaligus. Yaitu nilai dari masa lalu berupa pentingnya penyebaran Islam dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal, dan nilai masa kini, yaitu toleransi, termasuk toleransi sebuah bangsa terhadap peninggalan sejarah masa lalu.[*]

patinews.com

redaksi@patinews.com

Share
Published by
patinews.com

Recent Posts

Pemdes Mintobasuki Gabus Ajak Warga Kenakan Masker

Pemdes Mintobasuki Gabus Ajak Warga Kenakan Masker GABUS, PATINEWS.COM Pemerintah Desa Mintobasuki Gabus, melaksanakan giat…

16 September 2020

Edukasi Pencegahan Covid Melalui Gerakan Pakai Masker

Edukasi Pencegahan Covid Melalui Gerakan Pakai Masker KAYEN, PATINEWS.COM Mulai hari ini, Rabu, 16/9/2020, Pemerintah…

16 September 2020

Serentak, Forkompincam Tlogowungu Sosialisasikan Pemakaian Masker Selama 14 Hari

Patinews.com, Tlogowungu – Dalam rangka mensosialisasikan Surat Edaran Bupati nomor  440/2135 Tahun 2020 taggal 12…

16 September 2020

Mahasiswa KKNT UPGRIS Gelar Webinar Bijak Berikan Gawai pada Anak

EDUKA, PATINEWS.COM Kuliah Kerja Nyata atau yang sering disebut dengan KKN merupakan sebuah program yang…

15 September 2020

Digelar Virtual, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Pati Peroleh Materi Wasbang

PATI, PATINEWS.COM Dalam rangka memupuk kecintaan kepada Negara dan Bangsa, tidak henti-hentinya Kodim 0718/Pati memberikan…

15 September 2020

Banser Pengawal Ulama’ Kyai, Habib dan NKRI

Penulis : Imam Muhlis Ali, S.Pd I* Sudah kesekian kali beberapa penceramah agama, pesohor, pejabat…

15 September 2020