Categories: Berita

Berkat Bioreaktor Kapal Selam, Jalan Langse – Gembong Kini Terang Benderang

Berkat Bioreaktor Kapal Selam, Jalan Langse – Gembong Kini Terang Benderang

PatiNews.Com – Kota, Bioreaktor Kapal Selam buatan Muhammad Sobri warga Desa Langse Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati mempunyai banyak manfaatm

Alat ciptaannya ini rupanya mampu mengubah sampah kotoran ternak seperti sapi, kambing, ayam, dan kelinci menjadi beragam hal yang bermanfaat.

Setidaknya ada tiga produk yakni pupuk, gas metana, dan dekomposer.

“Pupuk yang dihasilkan berbentuk cair dan padat. Dan bisa digunakan untuk kebutuhan 10 hektare lahan di sekitar bioreaktor,” terang Sobri.

Sementara itu, lanjutnya, metana pun memiliki manfaat yang sangat besar.

Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini lantas menjelaskan bahwa gas hasil pengolahan kotoran ternak itu bisa diubah menjadi berbagai energi, baik untuk listrik maupun bahan bakar traktor.

“Selain untuk penerangan di sekitar lokasi bioreaktor, gas metana itu juga bisa menghidupkan 32 lampu jalan”, imbuh Muhammad Sobri.

Alhasil, jalan Langse-Gembong yang awalnya gelap sekarang terang benderang.

Metana tersebut juga dimanfaatkan untuk memasak dan sebagai bahan bakar traktor.

Selain itu, juga untuk menghidupkan pompa air dan mesin diesel dengan daya 10 ribu watt.

”Mungkin ini bisa menjadi solusi untuk peternakan. Persoalan bau kotoran bisa teratasi. Kotoran bisa digunakan untuk sumber energi. Tentu lebih hemat energi, tidak perlu menggunakan elpiji. Sangat efisien,” lanjut Sobri.

Produk lain yang dihasilkan bioreaktor itu adalah dekomposer, yakni mikroba yang bisa menghancurkan sampah organik.

Pembuatan alat ini berawal dari keresahan Sobri melihat kondisi para petani.

Ia berpandangan, petani Indonesia memiliki modal besar untuk bertarung di kompetisi global. Namun, pertanian di Tanah Air kurang efisien sehingga menyebabkan biaya produksi yang tinggi.

Efisiensi inilah yang dikejarnya. Dia berharap bioreaktor kapal selam tersebut bisa memperkuat peran petani. Dengan biaya seminim mungkin, mereka bisa sejahtera.

Dengan demikian, imbuh Sobri, impian berdikari dalam bidang pangan bisa terwujud.

”Sebab, semua produk pertanian dan peternakan bisa dimanfaatkan. Limbah peternakan bisa jadi pupuk untuk pertanian. Limbah organik pun bisa dimanfaatkan menjadi metana sebagai bahan bakar. Semua bermanfaat, semua bisa efisien,” papar Sobri.

Dibandingkan sistem pengolahan limbah dan kotoran lainnya, Sobri mengklaim alat buatannya memiliki banyak kelebihan. Misalnya, jika bocor akan terdeteksi, lantaran di sekitar reaktor dikelilingi air. Jadi, akan muncul gelembung saat bocor.

”Tekanan gas juga tinggi. Jadi tidak perlu ditambah kompresor dan blower untuk menghidupkan genset atau mesin lainnya. Selain itu gas bisa dialirkan hingga lebih dari 10 kilometer. Bahkan untuk menyalakan 100 kompor berbarengan pun bisa. Karena dikelilingi air, jadi cukup aman,” tambahnya.

Sebenarnya dia menggagas bioreaktor kapal selam itu sejak 10 tahun lalu.

Hanya, saat diajukan belum ada yang menerima. Banyak yang meminta bukti terlebih dahulu. Karena itulah sejak 2014 dia mulai menggagas dan melakukan riset.

Hingga akhirnya pada 2014 Sobri mengembangkan teknologinya di Desa Langse bersama kelompok yang dibinanya.

Selain di Langse, proyek Sobri ini juga dikembangkan di Tlogowungu, Ngemplak, Sinomwidodo dan di Malang, Jawa Timur.

”Lalu di tahun 2017 temuan itu saya patenkan, baik merek maupun teknologinya”, lanjut Sobri.

Karena inovasinya tersebut, berbagai daerah pun berbondong-bondong melakukan studi banding. Tercatat perwakilan dari Trenggalek, Pekalongan, Temanggung, Nganjuk, Malang, Lampung, Kalimantan hingga Papua pernah datang untuk melihat temuannya itu.

Selain dikenal dengan Bioreaktor Kapal Selam, Sobri juga termasuk getol mengembangkan dan memasyarakatkan pertanian organik.

Menurutnya, pertanian organik tidak hanya baik untuk kesehatan saja, melainkan juga mampu menjadi jawaban atas persoalan degradasi lingkungan hidup.

Hal yang membuat pertanian organik sulit berkembang, salah satunya karena produk organik dianggap sebagai produk premium. Harganya mahal, hanya tersedia di outlet-outlet kaum elit. Akibatnya hanya segelintir kalangan yang sanggup membelinya secara terus-menerus.

Berangkat dari kenyataan ini, Sobri merasa tertantang. Menurutnya pangan organik seharusnya bisa diakses oleh semua kalangan. Toh, nenek moyang bangsa Indonesia  sejak jaman dahulu sudah terbiasa mengkonsumsi pangan organik dengan harga yang tak mahal.

Ia pun menyulap satu hektar lahan pertanian di daerah Langse Margorejo menjadi rintisan pertanian organik.  Mereka pun getol mengkampanyekan pangan organik dan bahkan bersedia memberikan bimbingan  bagi petani yang tertarik memulai pertanian organik.

Di desa Langse, ia menjadi salah satu penggagas pertanian organik ini.

Ia memulainya dengan menunjuk Kelompok Tani Kembang Joyo di bawah kepemimpinan Siti Nur Khalimah untuk mengolah lahan pertanian yang ada menjadi pertanian organik.

Saat ditanya tentang perbedaan antara  hasil panen dari sistem organik dan non organik, Sobri pun punya jawaban menarik.

“Jelas berbeda, dari segi kualitas jelas beda. Kalau dari organik tidak mengandung bahan kimia berbeda dengan non organik. Lalu untuk sayuran organik lebih cepat lunak ketika dimasak”, imbuhnya.

Mengenai lahan, menurutnya,  semua lahan bisa digunakan sebagai pertanian organik, namun perlakuan pada tanah akan berbeda, apalagi jika lahan sebelumnya selalu memakai pupuk non-organik.

Ia pun tak menolak jika ada petani yang berminat belajar dan mengunjungi kebun organik Langse sekaligus berkonsultasi dengan tim.

“Bila petani yang belum mencoba pertanian organik saya harap tidak takut untuk mencoba. Pertanian organik tak selalu identik dengan modal yang mahal dan besar, tinggal kemauan petani saja untuk beralih ke organik”, ujarnya.

Menariknya, Sobri pun lantas menggagas wisata petik tanaman organik di daerah tersebut. Dan yang tak kalah seru, pengelola juga berencana memperkenalkan para wisatawan dengan reaktor biogas penunjang pertanian organik. (pn/ prk).

patinews.com

redaksi@patinews.com

Share
Published by
patinews.com

Recent Posts

Mahasiswa KKNT UPGRIS Gelar Webinar Bijak Berikan Gawai pada Anak

EDUKA, PATINEWS.COM Kuliah Kerja Nyata atau yang sering disebut dengan KKN merupakan sebuah program yang…

15 September 2020

Digelar Virtual, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Pati Peroleh Materi Wasbang

PATI, PATINEWS.COM Dalam rangka memupuk kecintaan kepada Negara dan Bangsa, tidak henti-hentinya Kodim 0718/Pati memberikan…

15 September 2020

Banser Pengawal Ulama’ Kyai, Habib dan NKRI

Penulis : Imam Muhlis Ali, S.Pd I* Sudah kesekian kali beberapa penceramah agama, pesohor, pejabat…

15 September 2020

Rapat Paripurna DPRD Pati, Bahas Penyertaan Modal Perumda

Rapat Paripurna DPRD Pati, Bahas Penyertaan Modal Perumda PATI, PATINEWS.COM Guna memaksimalkan Badan Usaha Milik…

15 September 2020

Siswa MI Darun Najah Ngemplak Kidul, Raih Medali Emas Karate America Championship 2020

Siswa MI Darun Najah Ngemplak Kidul, Raih Medali Emas Karate America Championship 2020 MARGOYOSO, PATINEWS.COM…

15 September 2020

Sosialisasi Jam Malam, Ini Yang Dilakukan Muspika Tlogowungu

TLOGOWUNGU, PATINEWS.COM, Muspika Tlogowungu beserta anggota Koramil 13/Tlg,  Polsek Tlogowungu dan Satpol PP  Kecamatan Tlogowungu …

15 September 2020