Bahtsul Masail PW NU se-Jateng, Digelar di Ponpes Maslakul Huda Margoyoso Pati

Bahtsul Masail PW NU se-Jateng, Digelar di Ponpes Maslakul Huda Margoyoso Pati

PatiNews.Com – Margoyoso, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sudah melaksanakan sejumlah amanat Undang-undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pondok Pesantren yang baru terbit pada September lalu.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah H Taj Yasin Maimoen saat membuka Bahtsul Masail PW NU se-Jateng di Ponpes Maslakul Huda, Margoyoso Pati, Jateng. Senin, 11 November 2019.

Wagub menyampaikan, beberapa amanat UU Ponpes yang sebelum terbit sudah dilakukan Pemprov Jateng adalah memberikan tali asih untuk penghafal Al-Qur’an, dan memberikan insentif untuk guru agama.

Pemberian insentif guru agama, kata Wagub, dilaksanakan dengan berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Jawa Tengah. Koordinasi terkait dengan data penerima dan pemberian insentif yang menggunakan mekanisme hibah.

Selama ini, berdasarkan pengamatannya, pemerintah daerah kadang enggan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Kementerian Agama

“Memang kesra kadang agak malas. Tapi Insya Allah Pemprov Jateng mengoprak-oprak kesra, agar selalu sinkron dengan Kemenag,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Pati, KH Abdul Ghaffar Rozien, disahkannya UU Pondok Pesantren, setidaknya mengamanatkan tiga hal penting. Pertama, untuk memberikan pengakuan penuh kepada pondok pesantren, terutama pondok pesantren salaf, dimana lulusannya bisa setara dengan sekolah formal tanpa mengikuti ujian nasional.

Selanjutnya adalah mengamanatkan pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk menyediakan anggaran APBB maupun APBD, serta mengatur hibah dari luar negeri agar tidak bisa langsung diterima pondok pesantren. Tujuannya, menjaga pondok-pondok pesantren ahlusunnah wal jamaah tidak bersaing langsung dengan pesantren bermodal besar.

Amanat ketiga adalah menyiapkan dana abadi bagi pesantren. KH Rozien menggarisbawahi amanat dana abadi, agar disikapi secara bijak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

“Karena itu, UU Pondok Pesantren membutuhkan aturan di bawahnya, baik peraturan daerah ataupun peraturan gubernur untuk memberikan afirmasi terhadap perundangan ini, sekaligus memberikan proteksi bagi pondok pesantren,” imbaunya.

Pihaknya juga berharap, regulasi turunan yang terbit, nantinya tidak memberikan syarat-syarat administratif yang justru menyulitkan pondok pesantren dalam mengelola anggaran yang diterima. Sebab, menurutnya, masih 90% pondok pesantren yang perlu belajar administrasi keuangan, terutama yang berkaitan dengan akuntabilitas berdasar standart pemerintah. (pn/ hms)

patinews.com

redaksi@patinews.com

Share
Published by
patinews.com

Recent Posts

Berkat Jaringan Wifi, Pelajar di Dukuh Morotoko Wateshaji Dapat Belajar Daring Kembali

Berkat Jaringan Wifi, Pelajar di Dukuh Morotoko Pakishaji Dapat Belajar Daring Kembali PUCAKWANGI, PATINEWS.COM Akhirnya…

7 Agustus 2020

Mengupas Keindahan Kerukunan Umat Beragama dan Budaya Desa Tempur Jepara

JEPARA, PATINEWS.COM Desa Tempur terletak di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara, Jateng. Desa Tempur ini terletak…

6 Agustus 2020

Mengenal Bahasa Arab Sebagai Bahasa Internasional

PATINEWS.COM - FEATURED, Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing yang yang banyak dijadikan sebagai…

6 Agustus 2020

Larangan Penyembelihan Qurban Hewan Sapi Bagi Warga Kudus, Bukti Toleransi Umat Beragama

KUDUS, PATINEWS.COM Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tangga 31 Juli 2020, umat muslim diseluruh dunia…

6 Agustus 2020

Mahasiswa UMM Ajak Warga Budidayakan Tanaman Herbal, Guna Pencegahan Covid-19

JATENG, PATINEWS.COM Sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa…

6 Agustus 2020

Pemberdayaan Perempuan Melalui Potensi Lokal

Perempuan merupakan salah satu komponen yang ada di masyarakat yang dapat dilibatkan dalam suatu pembangunan.…

6 Agustus 2020